Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 76


__ADS_3

Zia bagun dari duduknya, ia ingin membawa selimut yang menutupi tubuh polosnya ke kamar mandi. Tapi sayang, Zein tidak mengizinkan Zia melakukan hal itu. Zein menahan selimut tersebut, karena selimut itu juga selimut yang menutupi tubuh Zein saat ini.


"Zein, apa yang kamu lakukan? Lepaskan selimutnya!" kata Zia kesal.


"Tidak akan."


"Zein," kata Zia semakin kesal.


"Jangan buat aku merasa semakin kesal Zein," ucap Zia setelah usahanya menarik selimut tidak berhasil.


"Ajak aku bersama-mu ke kamar mandi, Zia. Aku juga ingin ke sana."


"Kamu yang benar aja Zein. Masa aku harus ajak kamu ke kamar mandi sekalian. Sudah, jangan buat ulah lagi. Kamu lupa ya, aku belum makan dari tadi siang. Tolong jangan persulit aku lagi," kata Zia kesal tapi tidak bisa melakukan apa-apa selain mengharap belas kasihan juga pengertian dari Zein.


"Sama. Aku juga lapar karena belum makan apa-apa dari tadi pagi malahan. Aku tidak bermaksud untuk mempersulit kamu, sayang. Hanya saja, jika kamu pergi sendiri bersama selimut ini, maka aku .... "


"Oke cukup. Sekarang, kamu berdiri dan ikut aku untuk mengambil handuk di dalam lemari itu," kata Zia sambil mengarahkan pandangan ke arah lemari di pojokan kamar.


Zein melakukan apa yang Zia katakan. Sebenarnya, ia tidak malu lagi, karena ia dan Zia sudah melakukan semua itu. Meski Zia mematikan semua lampu saat mereka melakukan semua itu, tapi tetap saja, Zein sudah melihat semuanya dengan baik.


Zia menghentikan langkahnya saat ia sampai ke lemari yang ingin ia tuju. Zein yang tidak menyadari kalau dia sudah sampai, kini tubuhnya menabrak tubuh Zia yang baru saja membuka pintu lemari.


Alhasil, tubuh Zia yang tidak siap dengan tabrakan itu, kini hilang kendali. Zia tidak bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh, begitu juga dengan Zein. Akhirnya, mereka berdua harus terima nasib jatuh ke dalam lemari dengan tumpukan baju-baju yang tergantung.


"Aaaggh ... Zein." Zia berteriak kesal.

__ADS_1


Zein segera bangun ketika mendengar teriakan itu. Ia dengan cepat mengangkat tubuh Zia tanpa memperdulikan kalau selimut yang ia kenakan sudah terlepas dari tubuhnya.


Zein membaringkan Zia ke atas ranjang. Dengan tatapan panik, ia melihat Zia. Sedangkan Zia, saat menyadari Zein yang tidak menggunakan sehelai benang pun berada di sampingnya, sontak menutup mata sambil menjerit.


"Ada apa Zia?" tanya Zein bingung.


"Apa ada yang sakit sekarang? Katakan padaku jika ada yang sakit! Apa kamu butuh dokter saat ini?" tanya Zein dengan wajah panik.


Belum sempat Zia menjawab apa yang Zein tanyakan padanya, pintu kamar mereka di ketuk dari luar. Terdengar suara panik dari mama dan papa Zia di depan pintu kamar tersebut.


"Zia, Zein, ada apa? Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Saras sambil mengetuk pintu kamar itu dengan cemas.


"Zia, Zein. Bukan pintunya, Nak!" kata papa Zia pula.


"Tidak ada apa-apa, Ma, Pa. Semua baik-baik saja," kata Zia cepat dari dalam kamar.


"Benarkah semua baik-baik saja?" tanya mama Zia tidak puas karena anak menantunya tidak kunjung memperlihatkan batang hidung mereka.


"Beneran, Ma. Tidak ada apa-apa. Hanya ada kecoak saja. Aku kaget karena melihat kecoa," kata Zia sambil terus menahan tangan Zein.


"Zia, biarkan aku bukakan pintu sekarang. Aku merasa tidak enak dengan mama dan papamu. Mereka akan mengira aku menantu kurang ajar jika terus berdiam diri di sini," kata Zein merasa tidak enak.


"Kamu bisa bukain pintu itu sekarang. Tapi, pakaikan semua pakaianmu sebelum membuka pintu itu. Aku gak mau mama lihat kamu hanya memakai handuk saja. Mama akan mikir yang nggak-nggak nantinya."


"Mikir yang nggak-nggak gimana?" tanya Zein dengan nada menggoda.

__ADS_1


"Sudah, lakukan saja apa yang aku katakan. Jangan banyak tanya," kata Zia agak kesal.


Sementara itu, di luar, mama dan papa Zia dengan tersenyum. Setelah mendengarkan apa yang Zia jawab dari dala. kamar, papa dan mama mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Zein, Zia, tahan kecoak nya ya, nak. Semoga jadi cucu," kata papa Zia sebelum meninggalkan kamar Zia.


______


Sinta mendatangi kantor kepolisian untuk membesuk Laila. Ia sampai di sana, langsung bertemu Laila setelah polisi mengizinkan.


"Laila, apa kamu tahu kalau Zia sudah menikah lagi kemarin?" tanya Sinta pada Laila dengan nada sedikit mengejek.


"Apa! Zia menikah lagi? Zia dan mas Rama menikah lagi?" tanya Laila berulang kali dengan wajah kaget.


"Tidak. Aku tidak bisa terima semua ini. Mas Rama menceraikan aku, dan menikah lagi dengan Zia. Ini sungguh tidak mungkin," kata Laila sambil menangis. Hatinya terasa sakit saat mendengar kabar itu.


"Apa maksud kamu?" tanya Sinta agak bingung. Karena sesungguhnya, Sinta tidak mengetahui sama sekali kalau Laila sudah di ceraikan oleh Rama.


"Mas Rama telah menceraikan aku. Dan dia jugalah yang membuat masa tahanan aku lebih lama dari Riska. Sekarang, dia malah menikah lagi dengan Zia. Aku. benar-benar tidak habis pikir dengan semua ini."


"Zia memang menikah lagi, tapi bukan dengan Rama. Yang kamu begitu sedih tanpa bertanya duluan ini kenapa?" tanya Sinta kesal. Ia tidak bisa menahan rasa kesalnya saat melihat Laila begitu terluka padahal sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Rama.


"Ap--apa, Ma? Zia tidak menikah dengan mas Rama, melainkan dengan laki-laki lain?" tanya Laila berbinar senang.


"Hmm .... " Sinta berucap sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Rasakan kamu mas Rama. Kamu telah menceraikan aku demi Zia. Sekarang, Zia malah meninggalkan kamu demi laki-laki lain," ucap Laila sambil menatap lurus ke depan dengan bibir tersenyum.


"Aneh. Tadi begitu sedih, sekarang, bahagia gak jelas. Udah ah, aku mau pulang. Gak bisa lama-lama di sini, gak enak. Aku datang ke sini cuma buat ngasih tau kamu soal pernikahan Zia saja," kata Sinta sambil bangun dari duduknya.


__ADS_2