Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 36


__ADS_3

"Saya ... saya tidak punya kartu lain mbak. Cuma punya kartu itu saja," ucap Laila dengan perasaan sangat malu.


"Oh ya sudah, kalo gitu bayar dengan uang kes saja berarti."


"Sa--saya juga gak punya uang kes sekarang. Maksud saya, saya sedang gak bawa uang kes ke sini."


"Gak bawa uang kes atau gak punya uang, mbak?" tanya pelayan yang tadi Laila marahi.


"Cih, gayanya orang kaya. Tapi punya kartu ATM cuma satu aja. Pilih baju banyak banget. Ih, bikin malu aja mbak ini," kata pelayan yang lain pula.


"Mbak, kalo mbak tidak bisa bayar, saya sarankan jangan belanja di tempat seperti ini. Tempat seperti ini itu barang-barangnya mahal-mahal tau."


"Iyah mbak. Bikin malu diri sendiri kan?"


Laila tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya menahan rasa malu juga amarah atas apa yang mereka ucapkan. Ejekan-ejekan itu membuat pikiran Laila menjadi buntu. Sampai-sampai, ia tidak bisa berpikir apa yang harus ia lakukan lagi sekarang.


"Mbak, sekarang harus bagaimana? Apakah mbak masih mau beli baju-baju ini atau tidak? Mungkin, mbak bisa menghubungi seseorang yang bisa membantu mbak," kata kasir itu menyarankan Laila.


Saat itu, Laila baru terpikirkan apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan rasa malu yang sedang menimpa dirinya.


"Saya akan hubungi suami saya untuk membayar semua belanjaan saya. Suami saya pasti sanggup membayar semuanya. Kalian lihat saja nanti," kata Laila bisa mengangkat wajah kembali. Ia berkata sambil melihat dua pelayan yang sedari tadi mengejeknya.


"Ayo cepat hubungi suaminya mbak! Karena, bukan hanya mbak saja yang belanja di sini. Masih banyak pelanggan lain yang ingin membayar belanjaannya."


"Ya, mereka semua terhalang oleh mbak yang banyak omong tapi gak ada bukti," jawab pelayan yang satu lagi.


"Diam kalian berdua. Kalian lihat saja nanti saat suami aku datang. Kalian berdua juga bisa aku beli jika suamiku datang," kata Laila sangat kesal.


"Jangan cuma omong aja mbak. Buktikan sekarang," kata pelayan itu.

__ADS_1


Laila tidak menjawab lagi. Ia langsung menghubungi Rama untuk meminta Rama datang ke mall ini. Tapi sayang, beberapa kali Laila menghubungi Rama, namun Rama tidak menjawab panggilan darinya sama sekali. Hal itu membuat Laila kembali di rundung rasa malu akibat ejekan keduanya.


"Aduh ... mbak ini. Kalo gak punya suami, jangan ngaku-ngaku mbak. Kan semakin malu aja jadinya," kata pelayan itu kembali mengejek.


"Iyah. Gak punya suami ngaku-ngaku. Atau jangan-jangan, suami orang yang mbak akui sebagai suami mbak. Duh, hari gini jadi pelakor, mana bisa mbak. Pelakor itu selalu tersiska lahir batin, tau nggak? Karma buat pelakor itu selalu di bayar lunas mbak."


"Diam! Dasar pekerja rendahan kalian berdua. Aku akan tuntut kalian dengan tuduhan pencemaran nama baik!" kata Laila berucap dengan suara tinggi dan nyaring.


Ucapan Laila barusan mengundang perhatian semua pengunjung mall yang mendengar ucapan tersebut. Sontak, Laila sekarang jadi pusat perhatian setiap pengunjung mall.


Seorang manajer datang saat melihat kegaduhan itu, ia menghampiri Laila dan kerumunan yang mengerumuni Laila juga dua karyawan mall tersebut.


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di sini?" tanya manajer tersebut.


"Ini pak. Mbak ini belanja tapi gak sanggup bayar. Mana belanjaannya sangat amat banyak lagi," kata pelayan itu menjelaskan.


"Maaf sebelumnya mbak, apakah yang karyawan saya katakan itu benar? Mbak belanja tapi tidak mau bayar?"


"Saya bukannya tidak mau bayar. Tapi saya minta tunggu sebentar. Saya akan menunggu suami saya datang untuk membayar semua belanjaan saya."


"Kenapa mbak tidak bayar langsung saja?" tanya manajer tersebut.


"Saya .... " Laila tidak punya jawaban untuk pertanyaan yang manajer itu tanyakan. Karena memang ia tidak sanggup membayar apa yang ia belanjakan.


"Ya sudah kalo gitu, silahkan mbak tunggu di ruang itu. Kami akan proses mbak di sana," kata manajer sambil menunjuk sebuah ruangan yang sepertinya ruang milik penjaga mall tersebut.


"Tidak akan. Saya tidak ingin menunggu di sana. Saya ini pelanggan, kenapa saya harus menunggu di tempat itu?"


"Mbak, jangan sampai kami bawa mbak ke jalur hukum. Sama seperti yang mbak katakan barusan. Kami bisa saja bawa mbak ke jalur hukum dengan tuduhan, pencurian. Apa mbak mau?"

__ADS_1


Laila memikirkan apa yang manajer itu katakan. Ia tidak ingin masuk penjara hanya karena tuduhan pencurian. Lagipula, dia tidak punya siapa-siapa untuk membantunya sekarang.


"Ba--baiklah. Saya akan tunggu di sana," ucap Laila pasrah.


Sementara itu, pemilik mall yang kebetulan melihat keributan itu, berjalan mendekati manajer untuk menanyakan apa yang sedang terjadi. Manajer itupun menjelaskan apa yang terjadi sehingga menciptakan sebuah kerumunan di mall ini.


"Di mana dia?" tanya Saras.


"Di ruang penjaga, bu Saras."


"Oh, ya sudah. Ayo kita ke sana. Aku ingin lihat seperti apa perempuan yang sudah bikin keributan di sini."


"Baik, bu Saras," kata manajer itu sambil beranjak mengikuti Saras dari belakang.


Laila yang berusaha menghubungi Rama, akhirnya berhasil juga. Rama menjawab panggilan dari Laila setelah puluhan kali Laila menelponnya.


"Halo, La."


"Halo Mas. Kamu di mana sih? Aku hubungi susah banget mau jawabnya. Cepat ke sini atau aku akan mereka giring ke kantor polisi," kata Laila dengan cepat bicara pada Rama.


"Apa! Kantor polisi? Kamu di mana?" tanya Rama agak kaget dengan apa yang Laila katakan.


"Aku di mall, mas. Cepetan ke sini! Aku takut nih," ucap Laila kembali manja, karena baru ingat kalau dia tidak seharusnya bicara kasar pada Rama.


"Di mall? Mall mana? Kamu bikin kesalahan apa sampai harus dibawa ke kantor polisi, hah!"


"Udah deh mas. Nanti aja ceritanya. Sekarang, kamu ke sini dulu. Aku benar-benar takut nih," ucap Laila. Setelah bicara seperti itu, ia memutuskan sambungan telepon tanpa ada salam penutup.


"Oh, jadi ini perempuan yang bikin rusuh di sini."

__ADS_1


__ADS_2