
Mereka bicara banyak hal beberapa jam ke depan. Hingga akhirnya, pembicaraan itu harus terhenti karena kehadiran Zein dan Zia kembali ke rumah sakit tersebut untuk melihat Restu kembali.
"Kak Zein, kak Zia, kalian udah datang?" tanya Lola saat melihat Zein dan Zia yang membuka pintu kamar tersebut.
"Ya, kamu baru bisa datang sekarang. Maaf ya, Lola, udah bikin kamu nunggu lama di sini," kata Zia dengan nada menyesal.
"Gak kok kak Zia. Maksudku, gak papa. Aku gak keberatan menemani Restu di sini."
"Wuah, kayaknya, kalian udah akrab aja, padahal baru beberapa jam kenal. Hm .... " Zein menggoda Lola dengan tatapan mata.
Lola membalas godaan itu dengan plototan tajam yang pada akhirnya membuat hati Zein merasa geli. Zein pun tidak bisa menahan tawa akibat ulah Lola.
"Ada apa sih? Kalian berdua main tatap-tatapan terus ketawa sendirian. Gak berniat untuk bagi-bagi kebahagiaan dengan kami berdua?" tanya Zia agak penasaran.
"Gak ada papa, kak. Kak Zein tuh yang menggoda aku, terus bahagia karena berhasil membuat aku merasa kesal," kata Lola dengan wajah manyun.
"Zein ada-ada aja deh."
"Ya udah, kamu mau pulang ke apartemen atau mau pulang ke rumah kami?" tanya Zein mengalihkan pembicaraan.
"Kok kayaknya terdengar seperti ngusir aku ya, kak," kata Lola tak terima.
"Lah, aku nanya beneran dengan tulus karena aku merasa kasihan padamu. Eh, kamu malah mikirnya aku sedang ngusir kamu. Yang benar saja," kata Zein kesal.
"Bisakah aku tetap di sini? Aku gak mau sendirian di rumah, apalagi di apartemen, lebih gak mau lagi. Aku sedang tidak ingin sendirian," kata Lola dengan nada memelas.
Zein dan Zia saling tatap. Mereka menyimpulkan satu hal sekarang. Entah benar atau tidak apa yang mereka pikirkan, yang jelas, mereka memutuskan untuk membiarkan Lola tetap berada di rumah sakit ini bersama mereka menemani Restu.
"Terserah kamu aja apa yang ingin kamu lakukan. Tapi, jika kamu merasa lelah, kamu jangan paksakan dirimu untuk tetap berada di sini bersama kami. Kamu harus segera pergi untuk mengistirahatkan dirimu segera, agar kamu tidak kecapean terus sakit," kata Zein pasrah.
__ADS_1
"Nah, gitu baru adil. Itu baru namanya kakak sepupuku. Memahami apa yang aku rasakan. Jangan meninggikan amarahmu terus menerus. Ego dan keras kepala kakak itu sebenarnya tidak baik. Terutama padaku," kata Lola bicara asal-asalan.
"Sejak kapan aku punya sifat ego, apalagi sifat keras kepala. Jangan membual kamu ya, atau aku akan merubah keputusanku sekarang juga."
"Zia, kamu tidak percaya bukan? Apa yang di katakan. Semua yang ia ucapkan itu bohong Zia," kata Zein sambil melihat Zia.
"Ha ha ha ... kak Zein lucu banget kalo lagi ingin menjaga nama baiknya. Tenang aja, kak Zia pasti tidak akan percaya apa yang aku katakan. Karena apa yang aku katakan itu memang bohong. Aku yakin kalo kak Zia pasti sudah memahami bagaimana kamu kak Zein. Jadi, kenapa kamu harus merasa takut seperti itu?" kata Lola penuh rasa bahagia karena ia berhasil memancing rasa takut dalam hati Zein.
"Dasar nakal, aku tidak akan melepaskan kamu nantinya." Zein bersungut-sungut karena kesal.
Sementara itu, Zia dan Restu hanya tertawa menyaksikan tingkah Zein dan Lola yang sangat akrab. Perlahan, buliran bening mengalir dari mata sayu milik Restu.
Saat Zia menyadari Restu menangis, ia segera mengalihkan perhatiannya. Zia segera menanyakan apa yang tejadi pada Restu sampai ia bisa menangis.
"Restu, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis? Apa ada yang sakit?" tanya Zia agak cemas.
Mendengar kata-kata itu, Zein dan Lola yang sedang berdebat, kini segera mengalihkan perhatian mereka. Mereka mencemaskan keadaan Restu saat ini.
"Lola cepat! Panggilkan dokter ke sini!" kata Zein pula.
"Tunggu! Tidak! Tidak perlu memanggil dokter, Lola. Aku tidak apa-apa," kata Restu sambil menyeka air matanya.
"Restu." Zia memanggil dengan suara penuh kecemasan.
"Mbak, mas Zein, Lola, aku minta maaf telah membuat kalian merasa cemas. Aku baik-baik saja."
"Terus, kenapa kamu menangis jika kamu baik-baik saja?" tanya Lola penasaran.
"Aku menangis karena aku merindukan adik-adikku yang berada di kampung. Aku sudah lama tidak menemui mereka. Saat melihat kedekatan mas Zein dan Lola, aku merasa semakin merindukan adik-adikku," kata Zein kembali menangis.
__ADS_1
"Ya Tuhan, maafkan mbak Restu. Semua ini karena mbak yang tidak pernah peka. Mbak sibuk mengurus diri mbak sendiri tanpa mementingkan apa yang kamu rasakan. Jika saja mbak sedikit saja peka, maka .... "
"Tidak mbak. Ini bukan salah mbak. Semua ini karena aku memang belum ingin pulang saja mbak. Aku berniat akan pulang nanti, saat lebaran. Tapi, sepertinya itu tidak akan bisa aku wujudkan. Jika kaki ini tidak sembuh, maka aku tidak akan bisa pulang," kata Restu dengan sedih.
"Restu, kamu tenang saja. Aku yakin kalo kaki mu akan sembuh. Tidak perlu menunggu lebaran jika kamu ingin pulang kampung. Setelah keluar rumah sakit ini, maka kita bisa pulang ke kampung halaman kamu," kata Lola sambil tersenyum manis penuh semangat dan keyakinan.
"Tidak. Aku tidak akan pulang jika kaki ini belum sembuh. Aku tidak ingin melihat wajah khawatir dari ayah dan bunda, juga adik-adikku."
"Kak Zein, bukankah keluarga Martin punya dokter pribadi yang sangat handal dalam ilmu kedokteran. Bagaimana jika meminta dokter pribadimu datang ke sini untuk mengobati Restu. Aku yakin, om dan tante pasti mengizinkannya." Lola bicara penuh harap pada Zein.
"Benar juga. Baiklah, aku akan hubungi dokter Roy nanti. Jika dia tidak keberatan, maka kamu yang aku tugaskan mengurus semuanya. Apa kamu sanggup?"
"Tentu saja aku sanggup. Aku akan mengurus semua yang dibutuhkan. Tenang saja," kata Lola dengan wajah bahagia.
"Tidak perlu repot-repot mas Zein, Lola. Tidak perlu mendatangkan dokter dari luar negeri hanya untuk mengobati aku. Aku .... "
"Sudah. Jangan kecewakan adik sepupuku. Dia sepertinya sedang berusaha mencuri sesuatu. Jadi .... "
"Kak Zein .... " Lola menghentikan kata-kata Zein dengan kesal.
Zein tersenyum melihat wajah kesal adik sepupunya. Wajah kesal itu bukan hanya menunjukkan kekesalan yang sesungguhnya, melainkan wajah merona karena malu.
"Sayang, ayo kita pulang!" Zein mengajak Zia pulang segera.
"Lho, kok pulang?" tanya Zia dengan wajah kebingungan.
"Iya, kita pulang. Biarkan saja Lola yang menemani Restu di sini. Aku yakin, Lola pasti tidak keberatan untuk menemani Restu semalaman," ucap Zein sambil melirik Lola.
"Ya, aku gak keberatan kok kak Zein, kak Zia. Sebaiknya, kalian pulang saja. Biar Restu aku yang temani kembali. Kalian datang besok pagi saja," ucap Lola penuh semangat.
__ADS_1
"Be--benarkan kah?" tanya Zia semakin dibuat bingung dengan kode yang Zein berikan.