
"Selamat Zein, sekarang perusahaan kita sudah bekerja sama. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," kata Ziana sambil mengulurkan tangan pada Zein setelah mereka sama-sama mencapai kesepakatan.
"Selamat juga buat kamu dan perusahaan mu Zia. Aku senang dengan tawaran yang kamu berikan untuk perusahaan kami. Mmm ... maksudku, tawaran untuk perusahaan bos ku ini. Bos ku pasti sangat senang dengan kontrak kerja sama ini. Dan aku, aku pasti akan mendapatkan bonus yang bos ku janjikan sebelumnya," kata Zein dengan wajah sangat senang.
"Cih, hanya karena bonus yang bos mu tawarkan, kamu terlihat sangat bahagian. Bagaimana jika mbak Zia menolak kontrak kerja sama yang kamu bawa? Apa kamu akan nangis karena bonus yang bos mu tawarkan tidak bisa kamu miliki?" tanya Restu bicara dengan nada yang sangat kesal.
"Restu. Jangan bicara sembarangan dengan klien kita. Apa kamu tidak senang dengan kontrak kerja sama ini?" tanya Zia agak kesal dengan apa yang Restu katakan.
"Maaf mbak Zia. Saya tidak bermaksud seperti itu."
"Zein, aku minta maaf atas kata-kata yang Restu ucapkan. Aku yakin, dia hanya bercanda padamu."
"Aku tidak merasa ada yang salah dengan apa yang dia katakan, Zia. Jadi, kamu tidak perlu minta maaf padaku. Karena apa yang di katakan itu sangat benar. Jika kerja sama ini tidak berjalan lancar, maka aku pasti akan sangat sedih," kata Zein sambil tersenyum.
'Ya Tuhan, untung saja Zein bukan orang yang penyingung. Jika tidak, ia pasti sangat terluka dengan kata-kata yang Restu ucapkan,' ucap Zia dalam hati.
'Gila nih orang, bukannya sakit hati, dia malah menganggap apa yang aku katakan itu benar. Sungguh dia punya hati yang besar. Entah berhati besar, atau berhati batu, aku juga tidak tahu. Tapi, apa yang dia lakukan membuat aku kehilangan muka di depan mbak Zia. Benar-benar menyebalkan,' kata Restu dalam hati pula.
Melihat Zia dan Restu hanya diam, Zein tidak ingin membiarkan suasana sepi itu terus berlanjut. Ia memikirkan cara agar bisa mencairkan suasana kembali.
"Mmm ... Zia, bagaimana jika kita makan malam bersama malam ini? Anggap saja sebagai perayaan kerja sama antara kedua perusahaan. Bagaimana?"
"Aku ... yah, boleh juga ide kamu itu, Zein. Kita bisa makan malam bersama di restoran malam ini."
"Oke, kamu yang tentukan tempatnya. Nanti, katakan saja di mana restoran yang enak, yang bisa dijadikan tempat merayakan kerja sama kita ini."
"Aku yang tentukan?" tanya Zia.
__ADS_1
"Iya. Kamu yang tentukan. Mengingat, kamu yang tahu banyak tentang kota ini, jadi, semuanya aku serahkan padamu. Maklum, aku ini tidak terlalu memahami seluk beluk kota ini."
"Oke kalo gitu, aku akan tentukan tempatnya. Nanti kita makan malam di restoran tak jauh dari apartemen kita saja. Bagaimana?"
"Aku setuju."
"Kita?" tanya Restu tak mengerti dengan apa yang Ziana katakan.
"Ya, mbak dan Zein ini tetanggaan, Res."
"Te--tetanggaan?" tanya Restu dengan wajah kaget. Ia tidak bisa mempercayai apa yang ia dengar barusan.
"Iya." Zia bicara sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, aku harus pamit duluan yah. Aku tunggu di restoran nanti malam," ucap Zein sambil beranjak dari tempatnya.
Setelah Zein meninggalkan ruang rapat, Restu menahan Zia yang ingin mengikuti langkah Zein.
"Ada apa, Res? Apa ada yang ingin kamu tanyakan atau katakan pada mbak?"
"Mbak yakin mau memenuhi undangan makan malam dari dia?"
"Ya yakinlah. Ada apa memangnya, Res?"
"Mbak, aku merasa sepertinya ada yang tidak beres dari Zein. Dia sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dari kita. Bagaimana jika dia orang jahat, mbak?"
Zia tertawa mendengarkan apa yang Restu katakan barusan. Ia benar-benar merasa geli dengan apa yang Restu sampaikan.
__ADS_1
"Mbak Zia kok malah tertawa? Aku serius dengan kata-kata ku mbak."
"Res, mbak itu seperti bukan melihat Restu asisten Ziana Aprilia deh sekarang. Soalnya, tumben banget lho Res, kamu itu seperti ini. Bagaimana mbak nggak merasa geli hati coba?" Zia bicara sambil berusaha menahan tawa yang pada akhirnya lepas juga.
"Tapi mbak, perasaan aku itu biasanya tidak pernah salah. Aku bicara seperti ini karena aku sangat peduli sama mbak Zia. Aku gak ingin ada yang menyakiti mbak Zia."
"Restu, mbak akan baik-baik saja. Jadi kamu tidak perlu mencemaskan mbak. Lagipula, mbak yakin kalau Zein bukan orang yang seperti kamu pikirkan. Jadi, kamu tidak perlu takut."
"Tapi mbak .... "
"Restu, udah yah, mbak tahu kamu cemas dan perduli pada mbak. Tapi kamu tidak perlu takut karena mbak tidak akan di sakiti oleh siapa-siapa. Ya udah ya, mbak mau pulang dulu. Nanti malam jangan lupa datang. Mbak tunggu di restoran," ucap Zia sambil menepuk pelan bahu Restu yang masih duduk diam di kursinya sejak tadi.
Ziana pun meninggalkan ruang rapat tanpa menunggu jawaban dari Restu terlebih dahulu. Sedangkan Restu, ia hanya bisa menatap punggung Zia yang berjalan semakin menjauhinya, hingga menghilang di balik daun pintu.
'Salahkah aku peduli sama kamu, mbak? Salahkah perasaan khawatir ini? Aku hanya tidak ingin kamu terluka lagi, itu saja. Karena aku ... peduli padamu,' ucap Restu dalam hati sambil menggenggam erat tangannya.
Ziana pulang ke apartemen, karena ia ingin lebih dekat menuju restoran nanti malam. Sedangkan Zein, ia juga melakukan hal yang sama. Ia juga pulang ke apartemen karena ingin cepat sampai ke restoran nanti malam.
Saat ingin keluar menuju restoran, Zia dan Zein sama-sama keluar dari pintu apartemen masing-masing. Hal yang tidak disengaja ini membuat mereka saling pandang untuk beberapa saat lamanya.
"Mm ... Zein, kamu juga baru mau berangkat?" tanya Zia sekedar basa-basi pada Zein.
"Iya. Aku baru saja mau berangkat. Bagaimana kalo kita jalan bareng aja? Bukankah tujuan kita sama?" tanya Zein menawarkan.
"Boleh juga. Ayo!"
"Yuk."
__ADS_1
Zein dan Zia pun meninggalkan apartemen segera. Mereka berjalan sambil ngobrol. Obrolan itu sesekali dihiasi dengan tawa lepas dari Zia, terkadang juga mereka sama-sama tertawa.
Saat mereka melewati lantai dua, tanpa sengaja, Riska melihat Zein dan Zia yang berjalan bersama. Riska membulatkan matanya untuk memastikan, kalau penglihatannya saat ini masih bagus dan tidak bermasalah. Beberapa kali ia kucek matanya untuk memastikan apa yang ia lihat.