Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 27


__ADS_3

Dalam kepanikan itu, tiba-tiba, sebuah ide jahat kembali muncul dalam benak Laila. Diam-diam, Laila mengambil ponsel, lalu menghubungi Sinta melalui pesan singkat.


*Ma, tolong aku. Aku sedang berbohong sakit pada mas Rama. Sekarang, mas Rama sedang menghubungi dokter pribadi untuk datang ke rumah. Tolong aku cegah dokter itu, Ma. Jangan sampai dokter itu datang ke rumah. Jika tidak, aku bisa ketahuan kalo aku sedang berbohong sakit.*


Begitulah bunyi pesan singkat yang Laila kirim pada Sinta. Saat Sinta membaca pesan itu, sejujurnya, ia tidak ingin membantu Laila untuk mencegah kedatangan dokter ke rumah anaknya. Tapi tiba-tiba ia ingat, kalau Laila ketahuan bohong, ia juga akan menerima akibatnya.


Karena Laila adalah pion yang ia letakkan untuk memakan raja yang agung dalam permainan catur. Laila adalah alat untuk ia menyakiti Ziana. Bagaimana bisa ia biarkan alatnya terluka atau kalah begitu saja.


Dengan cepat, Sinta menghubungi dokter Dimas, dokter keluarga mereka. Ia meminta dokter Dimas menunggunya di persimpangan menuju rumah Rama.


"Tolong ya, Dok. Saya mohon, ada yang mau saya bicarakan sama dokter di sana. Bisakah?" tanya Sinta dengan nada mengiba agar dokter itu simpati.


"Baiklah nyonya Sinta. Saya akan tunggu anda di persimpangan. Sama mohon agar anda datang cepat karena nyawa seseorang sedang menjadi taruhannya."


"Iya, Dok. Saya akan datang secepat yang saya bisa."


Lima menit setelah penantian dokter Dimas di persimpangan. Sinta akhirnya datang. Ia memasang wajah cemas agar dokter Dimas mau melakukan apa yang ia minta.


"Ada apa nyonya Sinta? Kenapa anda meminta saya menunggu di sini sedangkan anda tahu kalau saya sedang buru-buru."


"Saya ingin dokter melakukan satu hal yang sangat penting untuk kelangsungan rumah tangga anak saya."


"Maksud nyonya?"

__ADS_1


Sinta mengatakan apa maksudnya. Ia juga meyakinkan dokter Dimas untuk mengikuti permintaanya tersebut, tapi sayang, dokter Dimas sepertinya keberatan melakukan apa yang Sinta katakan.


"Maaf nyonya Sinta. Saya dokter, bukan .... "


"Ya saya tahu anda dokter. Makanya saja bicara dengan anda. Apa salahnya jika anda melakukan apa yang saya minta? Tidak akan membuat anda rugi ataupun berada dalam masalah besar," kata Sinta memotong perkataan Dimas dengan cepat.


"Oh, atau jangan-jangan, anda sudah tidak sayang lagi dengan anak anda yang masih sangat kecil dan istri anda yang sangat mencintai anda? Mereka sedang menunggu anda di rumah, bukan?" tanya Sinta.


"Aku bisa melakukan sesuatu pada mereka lho Dok. Mungkin, sesuatu yang menyakiti mereka gitu," kata Sinta mengancam Dimas.


Mendengar ancaman itu, nyali Dimas menjadi ciut. Ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang Sinta katakan.


"Ba--baik nyonya Sinta. Saya akan lakukan apa yang nyonya Sinta minta. Tapi tolong jangan sakiti saya maupun keluarga saya."


Usai bicara, dokter Dimas melanjutkan perjalanan menuju rumah Rama. Sedangkan Sinta, ia kembali ke rumah dengan senang hati.


Saat bik Imah mengetuk pintu kamar, Laila semakin takut saja. Ia berharap kalau dokter yang Rama hubungi tidak akan pernah datang, tapi kenyataannya, dokter itu malah sudah berada di depan pintu kamar.


"Dok, tolong Laila. Saya sangat mencemaskan keadaannya," kata Rama saat melihat dokter Dimas yang baru masuk ke dalam kamar tersebut.


"Saya akan melakukan tugas saya dengan sebaik mungkin. Biar saya periksa dulu apa yang terjadi dengan dia," kata Dimas sambil berjalan mendekat.


'Ya tuhan, mati aku kalo gini. Mama Sinta gimana sih? Disuruh menghalangi dokter ini supaya tidak datang ke rumah saja tidak bisa. Sekarang, aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa selain pasrah dengan keadaan. Apa yang akan terjadi, biarlah terjadi,' ucap Laila dalam hati.

__ADS_1


"Sebelum saya periksa, saya ingin tahu apa keluhan anda nyonya. Coba katakan pada saya, apa yang nyonya rasakan?" tanya Dimas.


Ia harus kelihatan bodoh agar tidak salah langkah. Karena Sinta tidak mengatakan Laila sedang sakit apa padanya tadi. Sebagai seorang dokter, bertanya seperti itu adalah hal bodoh.


"Dok, saya sakit kepala. Kepala ini rasanya seperti ingin pecah sangking sakitnya. Saya sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa sakit ini," kata Laila tetap berbohong padahal ia tahu kalau itu sama aja mencekik lehernya.


"Oh begitu ya. Coba saya periksa terlebih dahulu ada apa sebenarnya."


"Iya, Dok."


Dokter Dimas memeriksa Laila dengan cermat. Setidaknya, itulah yang bisa Dimas lakukan sebelum ia berbohong mengenai kondisi Laila nantinya.


Setelah melakukan pemeriksaan, Dimas bangun. Lalu, ia berjalan mendekati Rama yang sedang menunggu hasil pemeriksaan yang Dimas lakukan dengan perasaan sangat cemas.


"Bagaimana dokter? Apa yang sebenarnya terjadi pada Laila?" tanya Rama dengan cepat.


"Bisa kita bicara di luar saja? Saya tidak ingin mengganggu nyonya Laila di sini. Biarkan dia istirahat dengan cukup untuk menenangkan rasa sakit yang ada di kepalanya itu."


'Apa? Apakah aku tidak salah dengar barusan? Dokter itu membenarkan apa yang aku katakan pada mas Rama sebelumnya. Tidak. Ini sangat tidak masuk akan kalau semuanya memang benar-benar terjadi. Aku kan tidak sakit, dan tidak akan mau sakit. Jika bukan karena menahan mas Rama,' kata Laila dalam hati. Ia mendadak panik dan merasa takut akan apa yang akan terjadi padanya.


Sementara itu, Rama menerima tawaran dokter Dimas untuk bicara di luar. Merekapun meninggalkan kamar itu bersama-sama.


'Aduh, mana mereka akan bicara di luar lagi. Mana bisa aku mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan,' kata Laila dalam hati.

__ADS_1


Setelah Rama dan dokter Dimas meninggalkan kamar. Laila bergegas bangun dari tempat tidur. Ia mendekatkan kupingnya ke pintu kamar. Itu ia lakukan dengan harapan bisa mendengarkan pembicaraan antara Rama dan dokter Dimas. Sayangnya, apa yang Laila lakukan tidak berhasil. Tidak ada satu katapun yang bisa Laila dengar dengan mendekatkan kupingnya ke pintu itu. Karena sebenarnya, Rama dan dokter Dimas bicara jauh dari kamar tersebut.


__ADS_2