
Riska berhasil masuk ke kantor Zia dengan menyamar menjadi petugas kebersihan yang bekerja di kantor itu. Sebelumnya, ia telah mendapatkan biodata semua karyawan yang bertugas sebagai OB di kantor Zia. Dengan biodata itu, ia mencari orang yang pas untuk ia ganti.
Riska menemukan orang yang cocok. Lalu, ia menemui orang tersebut. Riska pun menawarkan kerja sama dengan karyawan Zia yang baru bekerja enam bulan di kantor itu.
Kabar baiknya, perempuan yang bertugas sebagai OB itupun menerima tawaran kerja sama yang Riska tawarkan. Tanpa pikir panjang lagi, dengan bayaran sepuluh juta, karyawan itupun bersedia menyerahkan seragamnya pada Riska untuk di pakai beberapa hari. Dengan begitu, Riska menjalankan rencana jahatnya untuk mencuri semua file penting perusahaan Zia.
Tidak mudah untuk Riska mendapatkan apa yang ia mau, namun pada akhirnya, Riska berhasil melakukan niat jahatnya. Sore itu, saat semua orang sibuk dengan aktifitas masing-masing, Riska berhasil masuk ke dalam ruangan Zia. Dengan semua informasi yang sudah ia kumpulkan beberapa hari yang lalu, Riska dengan mudahnya menemukan apa yang ia cari.
Semua aset perusahaan berhasil ia dapatkan. Lalu, iapun meninggalkan kantor itu dengan perasaan bahagia penuh kemenangan.
Saat itu juga, Riska mengabarkan pada Laila, kalau apa yang ia lakukan telah berhasil. Sekarang, semua kekayaan Zia berada dalam genggamannya.
"Apa! Kamu serius? Gak lagi bercanda kan?" tanya Laila kaget bukan kepalang saat Riska mengabari dirinya tentang keberhasilan dari rencana yang selama ini Laila susun.
"Sejak kapan aku bercanda sama kamu?" tanya Riska balik.
"Ya udah kalo gitu, kamu di mana sekarang? Aku akan segera ke sana," kata Laila bersemangat.
"Owh maaf, kamu tidak perlu ke sini. Aku hanya ingin mengabarkan tentang keberhasilanku saja padamu. Tidak untuk meminta kamu datang dan membagikan apa yang sudah aku dapatkan."
"Apa maksud kamu Riska? Jangan katakan kalau kamu ingin menikmati sendiri hasil dari apa yang telah aku rencanakan selama ini." Laila berucap kesal.
"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Aku tidak ingin membagikan sedikitpun dengan mu apa yang sudah aku dapatkan. Aku akan nikmati sendiri semua kekayaan ini," kata Riska sambil tertawa.
"Jangan gila kamu. Jangan lupa kalau aku adalah dalang dari rencana yang kamu jalankan barusan," kata Laila semakin kesal saja.
"Baiklah, sepertinya tidak adil jika aku tidak membagikan kekayaan ini padamu, Laila. Maka aku akan bagikan kata terima kasih padamu. Aku ucapkan terima kasih banyak karena sudah memberikan aku rencana besar untuk merebut kekayaan Zia, perempuan menyebalkan itu."
__ADS_1
"Riska. Jangan buat aku kesal. Jika kamu tidak ingin membagikan harta Zia padaku, maka kamu siap-siap saja masuk penjara. Karena semua rencana itu aku yang pikirkan, jadi, aku akan katakan pada Zia semuanya, biar dia melaporkan kamu pada polisi."
Riska terdiam mendengarkan perkataan Laila barusan. Ia memikirkan apa yang Laila katakan. Perasaan takut tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya.
'Tidak. Aku tidak bisa membiarkan Laila melakukan apa yang ia katakan. Aku tidak ingin masuk penjara hanya karena tidak berbagi dengannya. Kalau dipikir-pikir, tidak ada salahnya juga jika aku berbagi dengan dia. Bukankah rencana ini dia yang susun?' Riska bicara dalam hati pada dirinya sendiri.
"Bagaimana? Kamu masih tetap tidak ingin berbagi dengan aku?" tanya Laila di seberang sana.
"Baiklah. Aku akan membagi satu pertiga dari kekayaan Zia dengan kamu."
"Apa! Satu pertiga? Kamu gak salah ngomong kan Riska? Yang benar saja kamu mau bagi aku satu pertiga. Yang seharusnya itu, kamu yang dapat satu pertiga dari harta Zia, bukan aku," kata Laila kesal dengan keputusan yang Riska buat.
"Ya udah, kalo lo gak mau satu pertiga, lo gak akan dapat apa-apa. Terserah mau bilang apa, yang penting, gue udah berhasil sekarang. Jika lo melaporkan gue ke polisi, maka gue akan seret lo sekalian," kata Riska dengan tegas.
Laila memikirkan apa yang Riska katakan. Batinnya mengatakan kalau satu pertiga lebih baik dari tidak sama sekali.
"Bagus. Dari tadi kek setujunya. Sekarang, lo datang ke taman kota, gue tunggu lo di sana."
"Ngapain di taman kota sih?"
"Jadi, lo mau di mana? Di kantor Zia gitu? Biar ketahuan semua orang kalau kita sudah nyolong semua aset Zia?"
"Ah, ya udah ya udah. Aku ke sana sekarang."
Dua puluh menit kemudian, Laila akhirnya sampai di taman kota. Tempat di mana Riska sudah menunggunya di sana.
"Lo kok lama banget sih baru nyampai. Habis ngapain aja lo sebenarnya?" tanya Riska dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Eh, kamu pikir aku naik pesawat apa? Aku naik taksi online datang ke sini tau gak. Taksi itu biasanya menggunakan jalan raya, gak terbang. Jadi, kalo sudah begitu, aku harap kamu paham."
"Ah, ya sudahlah. Sekarang, gue akan serahkan satu pertiga yang telah gue janjikan sama lo. Tapi lo harus ingat satu hal, jangan pernah ungkit soal kerja sama yang kita jalani. Setelah ini, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi," kata Riska sebelum menyerahkan aset yang ingin ia bagikan pada Laila.
"Iya, aku janji," ucap Laila dengan nada berat karena terpaksa menyetujui apa yang Riska katakan.
"Bagus kalo gitu. Awas aja kalo lo .... "
"Angkat tangan! Jangan coba-coba kabur karena tempat ini sudah di kepung!" kata polisi sambil menodongkan senjata ke arah Laila dan Riska yang baru aja ingin melakukan serah terima aset milik Zia
Wajah kaget terlihat dengan sangat jelas di wajah Laila dan Riska. Laila yang sangat kaget, sampai-sampai tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Tubuhnya terasa sangat kaku seperti membatu.
"Po--polisi." Riska berucap dengan gelagapan.
"Jangan bergerak dan angkat tangan!" kata polisi itu mengulangi lagi apa yang ia katakan sebelumnya.
Riska melakukan apa yang polisi itu katakan, sedangkan Laila, ia masih diam mematung. Tubuhnya benar-benar terasa kaku akibat rasa terkejut yang menjalar dari hatinya.
Komandan polisi itu meminta bawahannya menangkap Riska dan Laila untuk di bawa ke kantor dan di selidiki.
"Pak apa salah saya? Saya tidak salah apa-apa, pak. Kenapa saya harus di tangkap?" tanya Riska sedikit berontak.
"Pak saya juga tidak salah apa-apa. Jangan tangkap saya pak. Biarkan saya lepas. Kami tidak melakukan kejahatan apa-apa pak," kata kata Laila pula ikut membela diri setelah tangannya di kilas kebelakang oleh polisi tersebut.
"Kalian tidak salah apa-apa?" tanya Zia yang baru muncul dari balik pohon hias yang ada di taman itu.
"Zi--Zia." Laila berucap dengan suara gelagapan karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1