
"Oh ya? Benarkah apa yang kamu katakan ini?" tanya Zia dengan wajah serius.
"Semoga saja apa yang kamu harapkan itu tidak mengecewakan kamu. Maksudku, semoga mas Rama tidak membuat hatimu kecewa, seperti yang ia lakukan padaku," kata Zia dengan wajah seriusnya.
"Kamu .... "
Laila kesal. Seperti biasa, jika ia merasa kesal, ia pasti ingin menampar Zia untuk melepaskan rasa kesalnya melalui tamparan. Meskipun hal itu tidak pernah terjadi. Karena selalu saja ada halangan.
Zia dengan sigap menahan tangan Laila yang hendak menamparnya. Tapi, ketika ia melihat Rama yang berjalan mendekat, Zia melakukan sesuatu yang tidak pernah Laila pikirkan sebelumnya.
Zia membawa tangan Laila untuk menyentuh pipinya. Walaupun tangan itu sebenarnya tidak benar-benar ia biarkan menyentuh pipi, tapi, dengan suara keras, Zia berteriak kesakitan.
"Aduh!" Zia memegang pipinya dengan wajah seolah-olah ia benar-benar mendapat tamparan dari Laila.
Rama yang melihat Zia di tampar oleh Laila, bergegas mendekati Laila dan Zia.
"Laila!" Rama berteriak keras dengan wajah penuh amarah.
Mendengar teriakan itu, Laila kaget bukan kepalang. Ia merasa, detak jantungnya benar-benar sudah tidak normal lagi. Tangan dan kaki Laila, terasa gemetaran.
"Mas, mas Rama. Aku .... "
"Kenapa kamu tampar Zia, hah!" Rama berteriak membentak Laila dengan nada tinggi sambil memegang tangan Laila.
"Aku ... aku gak nampar dia, Mas."
"Apa! Kamu bilang kamu gak menampar Zia padahal aku melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang kamu lakukan. Sebenarnya, ada berapa banyak kebohongan yang kamu lakukan padaku, Laila."
"Mas, kamu dengarkan aku dulu. Aku tidak menamparnya. Dia yang menampar dirinya sendiri."
"Bodoh sekali. Kamu ngomong seperti itu padaku, kamu anggap aku ini orang buta atau orang bodoh sih sebenarnya."
"Mas, udah. Aku mohon jangan bertengkar. Laila terlalu kesal padaku sehingga dia tidak bisa menahan emosinya. Aku gak papa. Tamparan ini memang pantas untuk aku. Karena aku .... "
"Cukup Zia. Kamu tidak perlu membela dia. Semarah apapun seseorang, mereka tidak berhak menyakiti orang lain. Apalagi orang itu adalah kamu. Tidak ada yang boleh menyakiti kamu," kata Rama bicara dengan nada lemah lembut pada Zia.
__ADS_1
'Cih, kamu bilang tidak ada yang boleh menyakiti aku. Tapi apa yang kamu lakukan padaku. Apa itu bukan menyakiti mas Rama. Kamu duakan aku hanya demi menikah siri dengan perempuan yang ada di samping kamu saat ini, benar-benar luar biasa jahatnya kamu,' kata Zia dalam hati.
Mendengar keributan dari ruangan tersebut, Zein bergegas masuk ke dalam. Ia bersama dua polisi segera masuk untuk melihat apa yang telah terjadi.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanya salah satu polisi itu.
"Zia, apa yang terjadi? Kenapa terdengar sangat ribut di sini?" tanya Zein pula pada Zia.
"Maaf pak polisi, tidak ada apa-apa. Hanya perdebatan kecil yang istriku buat. Aku minta maaf untuk keributan ini," kata Rama menjawab apa yang polisi itu tanyakan.
"Zia .... " Zein memanggil sambil melihat Zia. Ia ingin meminta penjelasan dari Zia untuk apa yang mengganjal dalam hatinya.
"Tidak ada apa-apa Zein. Hanya salah paham saja," kata Zia berucap sambil memegang pipinya. Ia berniat memancing masalah lagi sekarang.
"Zia, sebagai tanda maaf aku padamu karena Laila sudah berani menampar kamu, bagaimana .... "
"Apa! Istri kamu menampar Zia?" tanya Zein kaget sekaligus cemas.
"Zia. Bagaimana bisa kamu di tampar dia? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Zein sambil memegang bahu Zia. Ia semakin merasa cemas saat tahu kalau Zia di tampar orang.
"Aku tidak menampar kamu! Kenapa kalian semua tidak percaya dengan apa yang aku katakan, hah!" kata Laila semakin naik darah saja.
"Diam! Anda tidak berada di pasar sekarang. Jangan lupa kalau anda sedang berada di kantor polisi, dan status anda sekarang adalah tersangka. Jangan bikin keributan atau anda akan langsung kami masukkan ke dalam penjara."
"Tidak pak polisi. Tolong jangan lakukan itu. Saya minta maaf atas kesalahan yang saya perbuat. Tapi, saya berkata benar kalau saya tidak menampar dia," kata Laila mencoba menahan amarahnya.
"Mau bohong seperti apa lagi kamu, Laila. Aku melihat dengan sangat jelas dengan mata kepala ku sendiri apa yang telah kamu lakukan pada Zia," kata Rama malah mengajak Laila berdebat kembali.
"Mas! Harus berapa kali aku katakan kalau aku tidak menampar Zia. Kamu terus saja bela dia. Sekalipun dia bohong, kamu tetap saja percaya sama dia. Karena dia kan yang sangat kamu cintai. Selama ini, aku yang ada buat kamu, bukan dia," kata Laila kembali emosi.
"Cukup! Saya minta hentikan perdebatan ini. Kalian semua silahkan keluar, kecuali kamu," kata polisi itu sambil menunjuk Laila.
"Kamu tetap berada di sini. Karena akan ada polisi lain lagi yang akan mengintrogasi kamu."
"Tapi pak, saya tidak bersalah. Tolong.
__ADS_1
bebaskan saya pak. Saya di jebak," kata Laila memohon. Namun tentu saja, permohonan itu tidak berarti sama sekali buat polisi.
Petugas polisi tidak akan mempercayai kaya-kata, melainkan bukti. Mereka akan bertindak sesuai dengan bukti yang mereka miliki.
Semuanya meninggalkan ruangan tersebut kecuali Laila. Ia memohon untuk di lepaskan sambil menangis. Namun, tidak ada yang perduli dengan permohonannya itu.
Pada akhirnya, Laila capek sendiri. Ia terduduk di kursinya dengan air mata yang terus saja mengalir. Ia merasa agak putus asa dengan apa yang telah terjadi. Ia pun memilih pasrah dengan keadaan sekarang.
Ziana yang berjalan beberapa langkah meninggalkan pintu ruangan tersebut, tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Ia seperti sedang melupakan sesuatu. Zein yang menyadari hal itu, segera bertanya.
"Ada apa Zia?"
"Zein. Sepertinya aku harus kembali karena aku mungkin meninggalkan ponselku di atas meja yang ada di dalam sana," kata Zia sambil menoleh ke ruangan tersebut.
"Benarkah? Kalo gitu, biar aku saja yang mengambil ponsel itu kembali."
"Ada. apa Zia?" tanya Rama pula. Ia baru menyadari kalau Zia sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak ada apa-apa mas Rama. Hanya masalah kecil."
"Ya sudah kalo gitu, aku akan ambilkan sekarang," kata Zein bersiap-siap untuk melangkah.
"Eh, tidak perlu Zein. Biar aku sendiri saja yang mengambilkannya kembali. Bukankah kamu ingin bertemu Riska sekarang? Aku sarankan kamu menemuinya sekarang. Mungkin, kamu bisa bicara lebih banyak dengan Riska jika kamu cepat datang."
"Kamu yakin tidak ingin aku temani?" tanya Zein agak cemas.
"Iya. Aku tidak perlu kamu temani karena tidak akan terjadi apa-apa jika aku pergi sendirian. Kamu tunggu saja aku di ruangan interogasi Riska. Aku akan ke sana setelah aku mengambil ponselku."
"Baiklah kalo gitu. Jangan lama-lama," kata Zein akhirnya mengalah.
"Ya sudah, biar aku saja yang temani kamu ke dalam Zia," ucap Rama menawarkan.
"Tidak perlu mas Rama. Aku juga tidak ingin kamu yang temani. Biarkan aku pergi sendiri saja. Kalian berdua tidak perlu cemas karena aku akan baik-baik saja."
"Bagaimana jika Laila menyakiti kamu lagi saat dia bertemu dengan kamu. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu, Ziana," kata Rama dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Tidak perlu mencemaskan aku mas Rama. Kamu lupa kalau aku sudah kebal dengan rasa sakit. Kamu tidak perlu takut istri siri mu itu menyakiti aku. Karena dia sudah sering sekali menyakiti aku sehingga aku tidak bisa ia sakiti lagi sekarang. Sudah ya, aku pergi dulu. Tolong jangan ikuti aku," kata Zia sambil beranjak meninggalkan Rama dan Zein.