Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 62


__ADS_3

"Zia! Bagaimana kamu bisa ada di sini. Cepat katakan pada polisi untuk membebaskan kami! Kami tidak bersalah!" kata Riska bicara dengan nada tinggi sambil menatap tajam ke arah Zia.


"Oh, benarkah kalian tidak bersalah?" tanya Zein yang juga baru muncul dari tempat yang sama dengan Zia.


Melihat ada Zein di sana, Riska membulatkan matanya. Ia tidak menyangka kalau Zein juga ada di sini. Entah apa yang sebenarnya terjadi, Riska semakin dibuat kebingungan sekarang.


"Ze--Zein. Se ... semuanya tidak seperti yang kamu lihat. Ini hanya salah paham. Zia yang menjebak aku dengan menggunakan wanita ini," kata Riska berusaha membela diri, walau ia tahu, itu akan sia-sia saja.


"Wuah, gak ada kerjaan banget ya aku. Aku harus cari kerjaan dengan menjebak kamu. Apa untungnya buat aku, Riska?" tanya Zia sambil tersenyum.


"Kamu ... kamu itu tidak suka sama aku. Karena kamu ingin miliki Zein seutuhnya, makanya kamu lakukan ini padaku. Iya kan? Ngaku kamu sekarang juga di depan Zein dan di depan semuanya," kata Riska sambil berontak keras.


"Sudah. Jangan banyak bicara!" kata polisi itu membentak Riska.


"Buk Ziana, pak Zein. Kami akan bawa tersangka ke kantor polisi sekarang juga. Kalian bisa ikut dengan kami untuk memberikan keterangan terkait apa yang terjadi."


"Baik, pak. Kami akan ikut ke kantor polisi," kata Zein sambil melihat Zia.


"Zein! Tolong aku. Aku gak bersalah Zein. Kamu harus percaya padaku. Kamu jangan termakan omongan bohong yang perempuan licik itu katakan," ucap Riska sambil dibawa paksa oleh polisi tersebut.


Berbeda dengan Riska, Laila lebih banyak diam dari pada bicara. Mungkin karena rasa kaget juga tak percaya sedang menguasai seluruh tubuhnya, makanya ia lebih banyak diam dari pada bicara.


Saat Laila yang dibawa polisi melewati Zia, Zia menghentikan polisi itu sebentar hanya untuk bicara dengan Laila.


"Pak, tunggu sebentar! Boleh saya bicara dengan dia gak? Sebentar saja," ucap Zia sambil menatap Laila yang tertunduk pasrah.

__ADS_1


"Boleh. Tapi hanya sebentar saja. Karena jika ingin bicara banyak, silahkan bicara ke kantor polisi."


"Baik, pak. Terima kasih sebelumnya."


"Laila, kamu jangan cemas ya. Aku udah hubungi mas Rama kok sebelum aku ke sini tadi. Sebentar lagi, mas Rama juga pasti akan datang untuk melihat istri sirinya," kata Zia setengah berbisik pada Laila.


Laila tidak menjawab. Hanya tatapan tajam yang menatap Zia dengan penuh amarah dan kebencian.


"Terima kasih, pak. Sudah memberikan saya sedikit waktu untuk bicara dengan tahan bapak ini. Sekarang, bapak boleh bawa dia karena saya sudah selesai bicara sama dia," kata Zia pada polisi tersebut.


Polisi itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Tanpa banyak membuang waktu lagi, polisi tersebut langsung membawa Laila meninggalkan tempat tersebut.


Zia melambaikan tangannya pada Laila yang sedari tadi terus menatap Zia dengan tatapan tajam seperti harimau yang sudah siap menerkam mangsanya. Sayangnya, Laila tidak bisa melakukan itu karena dia sedang di tahan oleh polisi.


"Zia, ayo berangkat sekarang!" kata Zein menyadarkan Zia kalau mereka juga harus berangkat meninggalkan taman ini.


Baru juga Zia dan Zein ingin melangkahkan kaki meninggalkan taman tersebut, suara seseorang yang terdengar sangat panik menghentikan langkah kaki Zia dan Zein. Zia dan Zein kompak menoleh ke arah asal suara untuk melihat siapa pemilik suara tersebut.


Di sana, tak jauh dari mereka, Rama sedang berjalan cepat dengan wajah panik menghampiri Zia. Sangking paniknya Rama, ia datang hanya menggunakan singlet putih sepertinya ia baru saja membuka baju setelah beraktifitas seharian di luar rumah.


"Zia. Mana Laila? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rama dengan napas terengah-engah.


"Lho, kenapa kamu malah tanya Zia sih, apa yang terjadi pada istri kamu. Harusnya kamu yang tahu, bukan malah nanya Zia." Zein menjawab dengan cepat.


"Diam kamu. Aku tidak sedang bicara dengan kamu. Aku tanya Zia, bukan nanya padamu," kata Rama sangat kesal.

__ADS_1


"Ya .... "


Kata-kata Zein harus terputus karena Zia menahannya. Zia meminta Zein untuk tidak menjawab apa yang Rama tanyakan karena ia tidak ingin keduanya ribut lagi hanya karena masalah pertanyaan dari Rama.


"Mas Rama, Laila sedang dibawa ke kantor polisi. Aku dan Zein ingin berangkat ke kantor polisi sekarang. Sebaiknya, mas Rama juga ikut dengan kami," kata Zia menyarankan.


"Kenapa bisa seperti ini, Zia? Apa masalah sebenarnya?" tanya Rama melemah.


"Mas Rama bisa tanya sendiri pada Laila nanti saat kita sudah sampai di kantor polisi. Sekarang, aku dan Zein ingin segera ke sana."


"Ya sudah kalo gitu, kamu pergi bareng aku aja ya Zi, ke kantor polisinya. Aku juga bawa mobil soalnya."


"Enak aja. Zia pergi dengan aku. Dia datang ke sini bersamaku, ke kantor polisi juga harus dengan aku," kata Zein menolak keras perkataan Rama.


"Bagaimana Zia? Apa kamu mau ikut aku?" tanya Rama mengabaikan Zein.


"Maaf, mas Rama. Seperti yang Zein katakan, aku datang ke sini dengan dia, ke kantor polisi juga harus dengannya." Selesai bicara seperti itu, Zia langsung beranjak meninggalkan Rama.


Rama tidak bisa berkata apa-apa atas penolakan yang ia dapatkan barusan. Sejujurnya, ia sangat merasa sakit hati dengan penolakan itu. Tapi, saat mengingat kalau dirinya pantas menerima semua itu dari Zia, ia hanya bisa tertunduk pasrah saja.


"Mas, aku sarankan padamu satu hal. Jika sudah ada istri, tolong jangan genit dengan perempuan lain lagi," kata Zein sambil menepuk bahu Rama. Lalu, ia ikut melangkah meninggalkan Rama menyusul Zia.


Meskipun Rama sangat marah saat kata-kata itu ia dengar dari mulut Zein. Tapi sayangnya, ia tidak punya kekuatan untuk melawan. Karena jika ia melakukan perlawanan, Zia semakin membenci dirinya. Itulah yang Rama pikirkan ketika amarah menguasai hati setelah kata-kata itu ia dengar.


Setelah mobil Zein meninggalkan tempat tersebut, barulah Rama beranjak dari tempatnya. Ia menaiki mobil untuk menyusul mobil Zein ke kantor polisi.

__ADS_1


Kata-kata Zein barusan seperti bumerang buat Rama. Terus saja terdengar di telinganya padahal, kata-kata itu sudah sejak tadi Zein ucapkan.


Lagipula, untuk apa ia memikirkan kata-kata yang Zein ucapkan. Karena sebenarnya, Zein adalah saingan yang nyata dalam persaingan untuk merebut hati Ziana kembali.


__ADS_2