Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 49


__ADS_3

Dalam pengawasan itu, ia tidak memperhatikan sekeliling sehingga, brrukk ... Laila menabrak seseorang yang baru saja keluar dari kantor Zia dengan wajah kesal.


Seseorang yang Laila tabrak tak lain adalah Riska. Ia berjalan dengan terburu-buru meninggalkan kantor Zia agar ia bisa cepat-cepat menjauh dari kantor tersebut. Karena ia merasa sangat kesal pada Zia saat ini.


"Mbak jalan pakai mata dong mbak. Jangan main tabrak aja. Gak lihat apa, orang sebesar ini," kata Laila kesal karena Riska menabrak dirinya.


"Heh, lo bicara yang benar aja. Di mana-mana, jalan itu pakai kaki, bukan pakai mata. Lagian, salah lo sendiri, jalan ngendap-ngendap kayak maling. Gak tau apa kalo gue lagi kesal banget sekarang?" kata Riska malah balik marah-marah pada Laila.


"Tunggu! Jangan-jangan lo benar-benar maling lagi."


"Apa! Kamu bilang aku maling?" tanya Laila tiba-tiba naik darah, karena tidak bisa menerima apa yang Riska katakan.


"Iya, lo maling. Karena cuma maling yang selalu waspada di manapun ia berada."


"Tapi, bagus juga sih kalo lo benar-benar maling. Lo malingin tuh kantornya si Zia biar tau rasa tu perempuan. Biar kapok sekalian," kata Riska berucap dengan nada sangat kesal.


"Apa! Kamu kenal Zia?" tanya Laila kaget dengan apa yang Riska ucapkan.


"Gak, gue gak kenal perempuan menyebalkan seperti dia. Andai aja bukan karena sahabat gue, gak akan pernah mau gue datang dan bertemu dengan perempuan itu di sini."


'Wuah, sepertinya dia membenci Zia karena suatu alasan yang tidak aku ketahui. Ini sangat bagus. Aku akan tambah kebencian perempuan ini supaya dia bisa aku manfaatkan,' kata Laila dalam hati.

__ADS_1


"Hm ... sepertinya kita berada di jalan yang sama. Kenalin, nama aku Laila. Kita mungkin bisa bekerja sama untuk memberi pelajaran pada Zia," kata Laila sambil mengulur tangan dan tersenyum manis ke arah Riska.


"Kenapa lo bisa berpikir gue mau kerja sama sama lo ya. Lo pikir gue bodoh gitu, mau aja lo ajak kerja sama yang tidak jelas seperti itu. Gue memang kesal sama dia, tapi bukan berarti gue mau lo ajak kerja sama. Lagipula, gue gak kenal lo. Kenapa harus gue kerja sama sama lo."


Selesai bicara seperti itu, Riska beranjak meninggalkan Laila tanpa menyambut uluran tangan Laila sama sekali. Hal itu memancing rasa kesal dalam hati Laila, namun ia tahan karena ia melihat peluang besar dari Riska.


'Kurang ajar ini perempuan. Sombong banget dia sama aku. Jika saja bukan karena aku melihat sebuah peluang untuk menambah teman memusuhi Zia, aku pasti sudah mencabik-cabik mulutnya, supaya dia tidak bisa berkata sombong seperti itu lagi.'


'Oh, tapi tidak. Aku butuh dia sekarang. Aku tidak boleh membiarkan dia pergi begitu saja. Aku harus bisa menambah rasa benci juga sakit hati dalam hatinya. Dengan begitu, perempuan sombong ini pasti akan mau aku ajak kerja sama,' kata Laila lagi dalam hati.


Dengan cepat, ia berusaha mengejar Riska yang berjalan beberapa langkah menjauhinya.


Ia akan mencoba cara lain untuk mengajak Riska bekerja sama dengannya untuk menghancurkan Zia.


"Ih, ada apa lagi sih lo ini. Mau ajak gue kerja sama sama lo lagi. Nggak! Gue gak mau kerja sama sama siapapun. Sekali gue bilang nggak, maka akan tetap nggak," kata Riska sambil melepaskan tangannya yang Laila pegang.


"Aku mau ngomong sama kamu sebentar. Kamu seharusnya beri aku kesempatan untuk bicara. Tawaran kerja sama yang aku tawarkan itu sangat menguntungkan kamu."


"Lo ini gak ngerti bahasa manusia atau apa sih sebenarnya? Gue udah berkali-kali bilang nggak mau, eh tapi lo tetap aja maksa. Dasar gak jelas."


Riska melanjutkan langkahnya setelah berucap seperti itu. Ia tidak ingin terus berbicara dengan orang aneh yang memaksanya bekerja sama padahal sudah ia tolak berkali-kali. Sementara itu, Laila terpaksa harus membiarkan Riska pergi menjauh darinya. Meskipun merasa sangat kesal dengan kata-kata yang Riska ucapkan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah dengan kegagalannya dalam membujuk Riska.

__ADS_1


'Dasar perempuan sombong. Aku tawarkan kerja sama yang menguntungkan buat dia, eh malah dia tolak. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan padamu nanti perempuan sombong. Aku akan buat kamu sendiri yang mengemis bantuan dan mengajak aku kerja sama. Jangan panggil aku Laila jika tidak bisa membalaskan apa yang kamu lakukan padaku perempuan sombong dan bo*doh,' kata Laila dalam hati sambil menatap kepergian Riska yang semakin menjauh dari pandangan matanya.


______


Sejak terjalinnya kerja sama antara Zein dan Zia, mereka berdua semakin dekat saja. Ada banyak hal yang menyebabkan mereka selalu bersama. Bukan hanya soal kerjaan, tapi juga soal kehidupan pribadi.


Zein dan Zia lebih banyak menghabiskan waktu bersama di luar. Seperti makan malam bersama, jalan-jalan bersama, terkadang, juga belanja bersama.


Sampai pada akhirnya, Zein merasa kalau dirinya tidak bisa lagi untuk menyembunyikan identitas aslinya pada Ziana. Ia tidak ingin membohongi Zia lebih lama lagi. Karena dia sudah memikirkan jalan hidup selanjutnya. Ia ingin serius menjalani hubungan dengan Ziana.


Sore ini, Zein mengajak Zia bertemu. Ia ingin mengatakan siapa dia yang sebenarnya, agar dia tidak bohong terlalu lama pada Zia.


"Ada perlu apa kamu ajak aku jalan ke taman kota, Zein? Apa kamu ingin membahas soal kerjaan kita?" tanya Zia setelah beberapa saat ia duduk di kursi taman kota tersebut.


"Aku ingin ngomong sesuatu padamu, Zia. Ini soal kebohongan yang aku simpan selama ini."


"Kebohongan? Kebohongan apa yang kamu simpan? Lalu kenapa kamu ingin mengatakannya padaku. Aku tidak merasa kalau kamu berbohong padaku," ucap Zia panjang lebar.


"Ini soal identitas asliku yang aku sembunyikan dari kamu. Sebelumnya, aku minta maaf terlebih dulu padamu, Zia. Aku sudah bohong soal siapa aku yang sesungguhnya."


"Maksud kamu?" tanya Zia pura-pura tidak mengerti dengan apa yang Zein katakan. Padahal sebenarnya, dia sungguh memahami apa yang ingin Zein katakan.

__ADS_1


"Zia, nama asliku bukan Zein Mardani melainkan Zein Martin. Aku bukan sopir dari keluarga Martin melainkan anak tunggal dari keluarga tersebut. Aku minta maaf untuk kebohongan yang telah aku perbuat Ziana."


__ADS_2