Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 53


__ADS_3

"Aku gak bicara sama kamu ya, aku sedang bicara dengan Zia. Dia itu .... "


Rama tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat ingat apa yang ia ingin ucapkan itu adalah salah. Rama ingin marah-marah pada Restu karena menghalangi dirinya bicara dengan Zia. Tapi sayangnya, ia tidak bisa melakukan hal itu saat ingat kalau dia bukan suami Zia lagi, melainkan, hanya mantan suami yang mungkin sekarang telah Zia lupakan.


"Dia itu apa pak Rama? Kenapa gak dilanjutin lagi kalimatnya?" tanya Restu dengan wajah kesal.


"Maaf Zia, aku ingin bicara berdua saja sama kamu. Ini soal kesepakatan kita berdua. Aku mohon, izinkan aku bicara empat mata saja," kata Rama sambil memegang tangan Ziana.


"Pak Rama!" Restu membentak Ra dengan nada tinggi. Hal itu membuat seisi restoran mengalihkan perhatian pada meja yang mereka duduki.


"Res, udah. Jangan bikin keributan di sini. Malu dilihatin orang-orang. Mbak gak papa kok, biarkan mas Rama bicara empat mata sama mbak. Karena mungkin, apa yang ingin ia bicarakan dengan mbak ini adalah aib bagi mas Rama." Zia bicara dengan nada lembut supaya ia tidak menyakiti hati siapapun.


"Baiklah mbak kalo itu yang mbak katakan. Kalo mbak tidak keberatan untuk bicara empat mata dengan pak Rama, maka aku akan pergi dari sini sekarang. Jika mbak butuh bantuan, segera hubungi aku," kata Restu sambil bangun dari duduknya.


"Aku tunggu mbak di meja luar," kata Restu lagi sebelum ia beranjak meninggalkan Zia.


"Iya." Zia bicara sambil menganggukkan kepalanya.


Rama tersenyum karena kesempatan bicara empat mata yang Zia berikan. Hatinya tiba-tiba merasa bahagia dengan kesempatan itu. Ia seperti sedang mendapatkan sebuah sebuah sinyal baik dari Zia. Dengan tatapan mata yang penuh cinta, Rama terus menatap Zia.


Melihat tatapan penuh cinta yang Rama berikan untuk Zia. Laila yang sedari tadi memperhatikan Rama, merasakan sesuatu yang jatuh dari kedua matanya. Cairan bening panas itu jatuh begitu saja tanpa bisa ia tahan.


Riska yang melihat Laila menangis, tidak bisa untuk tidak menanyakan apa yang telah terjadi pada Laila sekarang. Sampai-sampai, wanita seperti Laila bisa mengeluarkan air mata di tempat umum seperti ini.


"Apa yang terjadi sama lo sampai-sampai lo menangis di tempat umum seperti ini? Lo gak malu apa sama orang-orang yang ada di sini? Mereka pada ngeliatin lo tahu gak. Lo jadi pusat perhatian sekarang," kata Riska sedikit berbisik.

__ADS_1


"Aku gak peduli lagi sama apa yang orang-orang pikirkan tentang aku. Bagi aku, apapun yang orang katakan, itu tidaklah penting. Ayo pergi sekarang!" kata Laila sambil menarik napas panjang lalu beranjak dari tempatnya.


Benak Riska dipenuhi tanda tanya sekarang. Ia merasa penasaran dengan apa yanga baru saja ia lihat. Namun, Riska tidak berani untuk menanyakannya sekarang pada Laila. Mengingat, Laila yang kelihatannya sangat terluka saat melihat Zia di datangi laki-laki yang Laila kenali tadi. Entah siapa laki-laki itu, Riska tidak tahu.


Setelah kepergian Laila dan Riska dari restoran tersebut, Zein pun datang ke restoran itu. Ia yang mendapat kabar kalau Zia sedang berada di restoran dari karyawan kantor Zia, segera mencari Zia ke restoran yang di maksud.


Awalnya, Zein datang ke kantor untuk bertemu Zia. Namun, saat ia menuju ruangan Zia, dia tidak menemukan keberadaan Zia di ruangan tersebut. Dengan perasaan cemas, ia pun menanyakan keberadaan Zia pada karyawan yang ia temui. Makanya ia bisa datang ke restoran ini sekarang.


Baru aja Rama ingin mengangkat mulut untuk bicara dengan Zia, tapi niat itu harus tertahan karena panggilan dari Zein. Ketika melihat Zia, Zein langsung memanggil Zia tanpa pikir panjang lagi.


"Zia." Panggilan itu membuat Zia tidak fokus pada Rama lagi. Dengan cepat, ia menoleh ke samping untuk melihat Zein.


"Zein?" Zia menatap Zein dengan tatapan aneh karena telah memanggilnya dengan suara keras tanpa memikirkan keberadaan mereka sekarang.


"Zia, kamu di sini?" tanya Zein yang tidak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa.


"Oh, itu soal mudah. Tidak ada yang sulit bagi Zein Martin untuk menemukan .... "


"Zein Martin?" tanya Rama memotong perkataan Zein dengan cepat.


"Zia. Dia .... " Zein bicara sambil mengarah telunjuknya pada Rama.


"Aku Rama, mantan suami Zia." Rama menjawab dengan cepat tanpa membiarkan Zia mengatakan apa yang ingin Zia katakan.


Mendengar kata-kata yang Rama ucapkan, mata Zia melotot. Perasaan campur aduk menguasai diri Zia sekarang. Ia tak percaya kalau Rama mengatakan hal itu pada Zein. Hal yang sangat takut untuk ia ucapkan sebelumnya.

__ADS_1


Zia benar-benar tidak percaya kalau saat ini, Rama yang mengatakan tentang statusnya pada Zein. Laki-laki yang telah membuat hatinya merasa nyaman sekaligus takut akan kehilangan untuk yang kesekian kali.


"Oh, jadi ini mantan suami Zia. Lumayan juga," ucap Zein santai seperti tidak ada yang salah dengan kata yang Rama ucapkan. Kata-kata yang telah membuat Zia sangat ketakutan tadinya.


"Apa maksud kamu dengan kata lumayan juga itu, hah?" tanya Rama tidak senang.


"Zein?" Zia memanggil Zein setelah ia bisa menguasai dirinya. Karena apa yang ia pikirkan ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi sekarang. Tanggapan biasa saja yang Zein perlihatkan, membuat Ziana tak percaya dengan keadaan saat ini.


"Zein kamu .... "


"Zia, sebaiknya kita cari tempat lain untuk bicara. Aku tidak ingin ada yang mengganggu pembicaraan kita nantinya," kata Rama saat melihat kalau situasi saat ini sedang tidak menguntungkan.


"Eh, tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan kamu membawa Zia ketempat lain. Karena aku juga ingin bicara dengan Ziana sekarang."


"Siapa kamu yang berhak melarang aku membawa Zia ke mana aku mau."


"Kamu juga tidak punya hak untuk membawa Zia ke manapun kamu mau. Kamu harus ingat kalau sekarang, Zia bukan istrimu melainkan hanya mantan istri saja," kata Zein tak mau kalah.


Mendengar perdebatan itu, Zia merasa kesal. Di tambah, dua laki-laki ini sepertinya tidak punya malu. Berdebat di tempat umum dengan sama-sama mempertahankan keegoan masing-masing.


Ziana bangun dari duduknya, ia pukul meja restoran tersebut sehingga menimbulkan sebuah bunyi keras yang membuat kaget keduanya.


"Diam! Kalian berdua ini apa-apaan sih? Ngapain malah berdebat soal sesuatu yang tidak seharusnya kalian perdebatkan? Apa kalian tidak punya malu, hah!" Zia bicara dengan suara keras sehingga seluruh restoran mendengarkan apa yang ia katakan.


"Zia, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyebabkan keributan sekarang," kata Rama dengan wajah menyesal.

__ADS_1


"Aku juga sama, Zia. Tidak bermaksud bikin keributan kalo bukan dia yang mulai duluan."


"Apa kamu bilang? Aku yang mulai duluan? Kamu yang benar saja." Rama tidak terima dengan tuduhan itu.


__ADS_2