Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 23


__ADS_3

Selesai berucap seperti itu, Zia beranjak meninggalkan Laila. Ia berjalan untuk masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Laila menggenggam tangannya dengan sangat erat. Ia benar-benar sakit hati dengan apa yang Zia lakukan barusan.


"Tunggu!" Laila berteriak dengan suara tinggi untuk menahan langkah Zia.


Langkah Zia terhenti. Ia berdiri tegak tepat di tengah-tengah pintu masuk. Zia menarik napas untuk menahan rasa kesal juga emosi agar tidak ia tumpahkan pada Laila.


"Ada apa lagi?" tanya Zia sambil memutar tubuhnya.


"Aku akan hubungi mas Rama. Aku akan katakan pada mas Rama apa yang telah kamu lakukan padaku," kata Laila sambil mengeluarkan ponselnya.


"Oh, silahkan. Hubungi saja siapa yang ingin kamu hubungi. Emangnya aku peduli? Sepertinya ... tidak," ucap Zia sambil senyum mengejek, lalu melanjutkan langkah kakinya memasuki rumah.


Laila melakukan apa yang ingin ia lakukan. Ia menghubungi Rama dengan cepat. Sementara itu, Rama yang sedang buru-buru, baru memasuki pintu ruang rapat. Langkahnya terhenti saat mendengar bunyi ponselnya.


Rama mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Ia melihat ponsel itu, lalu mengangkat panggilan dari Laila.


"Halo mas. Kamu bisa pulang sekarang gak? Tolong aku mas, aku takut banget," kata Laila sambil dengan nada takut dan pura-pura nangis.


"Kamu kenapa, La? Ada apa? Katakan padaku apa yang terjadi!" kata Rama panik.


"Mas, mbak Zia datang dan marah-marah padaku. Dia ngamuk-ngamuk di rumah sekarang. Dia gak ngizinin aku tinggal di rumah ini. Dia bilang, ini rumah dia, bukan rumah mas."

__ADS_1


"Apa? Zia datang ke rumah sambil marah-marah?" tanya Rama seakan tak percaya.


"Iya, Mas. Mbak Zia marah-marah padaku. Dia ngusir aku mas Rama. Sebaiknya, kamu pulang sekarang. Jika tidak, aku benar-benar akan pergi dari rumah ini karena aku gak mau mbak Zia nyakitin aku lagi."


"Tapi Laila, saat ini aku mungkin belum bisa pulang. Karena ada rapat penting yang harus aku hadiri. Ini saja aku sudah terlambat belasan menit," ucap Rama serba salah.


"Tapi mas, mana yang lebih penting aku dari rapat kamu? Kamu ingin istri pertama kamu itu menyakiti aku lagi. Apa kamu lupa dengan janji kamu. Tau gitu, aku gak nerima tawaran kamu buat tinggal di rumah ini. Dari pada aku disakiti istri pertama kamu lagi, mending aku menghilang untuk selamanya," kata Laila mencoba mengancam Rama.


Mendengar ancaman itu, rasa bersalah Rama kembali muncul. Ia tidak ingin Zia melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan lagi. Ia tidak ingin Zia mengulangi kesalahan yang sama. Mau tidak mau, Rama terpaksa mengikuti apa yang Laila katakan. Pulang ke rumah dan meninggalkan rapat pentingnya.


"Baiklah, aku akan pulang sekarang."


"Aku tunggu kamu di rumah, mas. Cepat pulang atau mbak Zia akan mencelakai aku lagi," kata Laila sebelum ia menutup panggilannya.


Asisten Rama yang baru keluar dari ruang rapat menghentikan langkah Rama. Rama menolah kembali melihat Santi yang berada di depan pintu. Santi menatap Rama dengan tatapan tajam juga wajah panik.


"Pak Rama mau ke mana? Bukankah kita ada rapat penting dengan klien? Kami sudah menunggu bapak sebelas menit yang lalu. Klien kita yang dari luar kota juga ada di dalam. Mereka sudah menanyakan kehadiran pak Rama sejak tadi."


"Maa--maaf, aku tidak bisa menghadiri rapat ini. Aku serahkan semuanya pada kamu. Aku minta, kamu yang urus semuanya. Karena aku ada urusan yang sangat mendesak, yang tidak bisa aku tinggalkan," kata Rama sambil beranjak meninggalkan Santi.


"Ta--tapi pak."

__ADS_1


Rama tidak mendengarkan apa yang Santi katakan. Ia terus berjalan cepat menuju mobil. Yang ada dalam hatinya saat ini adalah, ketakutan akan pertengkaran para istri-istrinya di rumah.


Ia takut kalau Zia akan kalap mata sekali lagi. Ia tidak ingin Zia bertindak gegabah dengan mencelakai Laila hanya karena sakit hati yang ada dalam hatinya. Karena sesungguhnya, sakit yang ada dalam hati Ziana, itu bukan murni salah Laila, tapi juga ada kesalahan dirinya.


Santi yang di tinggalkan Rama berusaha menghadapi para klien yang ada dalam ruang rapat. Tapi sayangnya, usaha Santi tidak berhasil sama sekali. Para klien itu malah marah-marah padanya.


"Pak Rama gimana sih? Sudah bikin kita nunggu lama, tapi malah membatalkan rapat. Dia pikir kita tidak punya urusan lain apa."


"Iya, bapak benar. Saya menyesal telah datang ke kantor ini. Kesalahan terbesar saya datang ke kantor ini."


"Saya juga menyesal. Saya akan batalkan kontrak kerja sama perusahaan saya dengan perusahaan ini."


"Bapak-bapak semua, saya minta tolong jangan batalkan kontrak kerja sama dengan perusahaan. Pak Rama ada urusan yang sangat penting. Jika tidak, dia pasti akan hadir di ruang rapat ini," kata Santi mencoba membela Rama.


"Maaf mbak Santi, kami tidak bisa bekerja sama dengan orang yang tidak menghargai kami. Apa mbak Santi tidak memikirkan seberapa banyak waktu yang saya habiskan untuk datang ke kantor ini, hanya untuk rapat dengan klien seperti pak Rama. Sungguh menyebalkan."


Santi tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak punya kata-kata lagi untuk membela Rama. Karena perlakuan Rama bukan hanya bikin kesal para klien, melainkan juga bikin kesal dan kecewa hatinya.


Santi hanya bisa menatap para klien beranjak dari tempat mereka masing-masing. Satu persatu mereka berjalan keluar dari pintu rapat, hingga tinggal Santi sendirian di ruang itu.


"Ya Tuhan, kenapa pak Rama bisa bersikap seperti ini? Ini sama saja dengan mengantarkan perusahaan ini ke depan pintu kebangkrutan," kata Santi pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia terduduk sambil memegang kepalanya. Santi tidak tahu lagi harus apa. Ia dibikin bingung dengan perlakuan bosnya itu.


__ADS_2