
"Mas, kapan kamu belikan aku rumah? Katanya kemarin kamu mau belikan rumah baru buat kita, atas nama aku? Tapi, kok masih belum sih, mas?" tanya Laila pada Rama yang sedang duduk termenung di kursi teras rumah.
"Beri aku waktu, La. Aku masih belum bisa belikan kita rumah karena .... " Rama menggantungkan kalimatnya. Ia tidak bisa melanjutkan perkataannya karena ia tidak ingin Laila tahu kalau, perusahaan yang ia miliki sedang dalam kondisi tidak baik.
"Karena apa, mas? Karena kamu gak mau beli rumah atas nama aku? Iyakan? Tahu gitu, aku gak akan mau kamu ajak pindah dari rumah Zia."
"Laila, kamu benar-benar gak punya malu, ya? Apa kamu mau jadi benalu di rumah Ziana? Lagipula, Ziana itu mantan istri aku. Yang benar saja kamu mau tetap tinggal di sana." Rama benar-benar kesal pada Laila, sampai-sampai, ia bicara dengan nada tinggi pada Laila.
"Mas, kamu bentak aku? Hiks ... hiks ... tega banget kamu bentak aku, mas Rama," kata Laila sambil menangis.
"Aku gak akan bentak kamu, jika kamu sedikit saja punya pikiran yang bisa kamu gunakan. Kamu gak akan buat malu aku jika kamu menggunakan pikiranmu dengan baik," kata Rama sambil bangun dari duduknya, lalu berjalan meninggalkan Laila.
Laila hanya bisa melihat kepergian Rama yang meninggalkan dirinya. Melihat punggung itu, semakin menjauh darinya.
Sementara itu, Zia yang merasa kangen dengan apartemen yang sudah ia tinggali beberapa minggu, sekarang memilih mengunjungi apartemennya. Saat ia melewati kamar Zein, langkah kakinya terhenti.
Zia menatap kamar itu. Terbesit niat dalam hati untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Namun, niat itu digagalkan oleh sebuah suara yang datang dari belakang Zia.
"Dia tidak ada di apartemennya."
Begitulah sebuah suara menggagalkan niat Zia. Dengan cepat, Ziana menoleh ke belakang untuk melihat si pemilik suara tersebut.
"Riska." Zia melihat ke arah Riska yang berdiri tegak dengan tatapan tajam ke arahnya.
"Ya, ini aku. Kenapa? Kaget?"
"Nggak kok. Oh ya, kalo boleh aku tahu, Zein ke mana?" tanya Zia penasaran.
__ADS_1
"Pulang ke rumahnya."
"Pulang? Ya, pulang. Kenapa?"
"Tidak ada. Aku hanya bertanya saja. Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku sampai kamu kelihatannya tidak senang untuk menjawabnya?" tanya Zia agak kesal.
"Ti--tidak juga," kata Riska gelagapan karena kaget dengan pertanyaan balik yang Zia ucapkan.
Riska tidak menyangka kalau ia dapat pertanyaan balik seperti itu. Awalnya, ia menyangka, Zia seorang perempuan lemah yang gampang ditindas. Tapi kenyataannya, malah sebaliknya.
"Aku tahu kamu adalah sahabat, Zein. Kamu kenal dekat dengan Zein. Tapi tidak seharusnya kamu bersikap sinis padaku. Jika kamu tidak ingin menjawab apa yang aku tanyakan, maka kamu tidak perlu menjawabnya. Permisi."
Zia beranjak meninggalkan Riska setelah mengucapkan kata-kata seperti itu. Ia tidak ingin lagi berhadapan dengan orang-orang aneh dengan membiarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Waktu mengalah sudah selesai bagi Zia.
Sementara itu, di sisi lain, Zein sedang duduk termenung di ruangannya. Sambil membulak-balikkan kartu nama milik Zia yang ia simpan dari kemarin-kemarin. Namun, belum sempat ia menghubungi nomor yang tertera di atas kartu nama tersebut.
"Masuk!"
Pintu terbuka, seorang laki-laki paruh baya muncul dari balik daun pintu yang terbuka lebar. Laki-laki itu berjalan ke arah Zein sambil membawa map di tangannya.
"Ada apa, Pa?" tanya Zein pada laki-laki tersebut.
"Papa sudah menghubungi kamu beberapa kali, meminta kamu datang ke kantor papa. Tapi kamu malah mengabaikan papa dengan tidak mengangkat panggilan dari papa. Papa pikir, sesuatu yang buruk sedang menimpa sehingga kamu tega mengabaikan papamu. Tapi kenyataannya, kamu malah duduk manis dengan wajah tanpa dosa di ruangan mu ini."
"Apa! Papa menghubungi aku? Kapan, pa?" tanya Zein kebingungan.
"Lihat saja ponselmu itu! Pasti ada jawaban atas apa yang kamu tanyakan pada papa."
__ADS_1
Zein melakukan apa yang papanya katakan. Ia melihat ponselnya dengan cepat. Saat melihat panggilan masuk yang tidak satupun ia angkat, Zein mengangkat sebelah alisnya. Dengan wajah bersalah, Zein tersenyum sambil melihat wajah papanya.
"Maafkan aku, Pa. Aku gak dengar kalau ada panggilan masuk di ponselku."
"Jelas saja kamu gak dengan Zein, orang kamu sibuk dengan lamunanmu itu," kata papanya sedikit mengejek.
"Papa ada-ada saja. Oh ya, papa bawa apa ke sini barusan?" tanya Zein saat ingat dengan map yang papanya bawa.
"Oh iya, hampir lupa papa dengan tujuan papa datang ke sini. Papa datang ingin menyerahkan kontrak kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan tanah air. Papa sangat tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan itu. Menurut kabar yang papa dengar, perusahaan ini adalah perusahaan maju yang mempunyai nama sangat baik dalam dunia bisnis. Papa ingin kamu dapatkan tanda tangan untuk kontrak kerja sama yang papa bawa ini. Bagaimanapun caranya," ucap papa Zein sambil menyerahkan map tersebut pada Zein.
Zein yang kaget dengan niat sang papa, tidak bisa berkata-kata. Dengan perasaan tak percaya, ia menerima map yang papanya berikan. Lalu membuka map tersebut sambil bertanya.
"Papa yakin ingin bekerja sama dengan perusahaan tanah air, Pa?"
"Ya yakinlah. Kalo gak yakin, mana mungkin papa minta kamu kembali ke tanah air hanya ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan tersebut."
"Tumben banget papa mau menjalin kerja sama dengan perusahaan tanah air. Biasanya gak pernah mau, walaupun berkali-kali aku tawarkan," ucap Zein sambil menatap papanya dengan tatapan tak percaya.
"Itu sebelum papa tahu soal perusahaan ini. Setelah papa tahu seluk beluk perusahaan unik ini, papa merasa sangat tertarik untuk bekerja sama dengan mereka."
"Perusahaan unik?" tanya Zein semakin tak mengerti dengan apa yang papanya katakan.
"Ya, unik. Selain perusahaan ini punya nama yang cukup baik di kalangan pembisnis tingkat luar negeri. Perusahaan ini dipimpin oleh pimpinan perempuan. Jarang lho Zein, ada perusahaan yang terkenal sampai manca negara dengan pimpinan perusahaan perempuan seperti perusahaan ini," kata papanya menjelaskan.
Mendengar penjelasan dari papanya, Zein segera melihat detail perusahaan tersebut. Matanya sedikit melotot saat melihat nama perusahaan yang tertera di atas surat kontrak yang ada di depannya sekarang.
"Zaza grup?" tanya Zein seakan tak bisa mempercayai apa yang ia lihat sekarang.
__ADS_1
"Ada apa Zein? Apa kamu sudah tahu tentang perusahaan Zaza grup ini?" tanya papanya merasa penasaran dengan ekspresi yang Zein perlihatkan setelah melihat nama perusahaan yang ingin mereka ajak kerja sama.