
Rama sampai ke rumah. Ia bergegas turun dari mobil untuk melihat apa yang sedang terjadi pada kedua istrinya.
"Mas Rama."
Baru juga Rama ingin menginjakkan kakinya ke dalam rumah. Langkahnya harus tertahan oleh suara Laila yang memanggil namanya.
Rama melihat ke samping, di mana suara Laila berasal. Di sana, Laila sedang berjalan cepat mendekati Rama. Dengan penampilan berantakan dan air mata mengalir deras, Laila langsung menghambur ke dalam pelukan Rama.
"Laila. Kamu kenapa? Kenapa rambut kamu berantakan seperti ini? Baju kamu juga kenapa Laila? Kenapa pada robek begini?" tanya Rama agak panik.
"Ini salah aku mas. Salah aku yang tidak ingin meninggalkan kamu."
"Apa maksud kamu, Laila? Jangan katakan kalau ini adalah ulah Zia," kata Rama dengan wajah memerah.
"Mas, aku gak bisa jelaskan sama kamu. Tapi kamu bisa lihat sendiri apa yang mbak Zia lakukan. Aku gak bisa di perlakukan seperti ini, mas. Aku juga punya hati. Mbak Zia sudah bunuh anak aku, sekarang, ia juga ingin bunuh aku."
"Keterlaluan Ziana. Dia tidak bisa melakukan hal ini. Walaupun kita bersalah, tapi perlakuan ini sungguh sangat keterlaluan. Ini sudah sangat melampaui batas," ucap Rama kesal.
"Sekarang, di mana Ziana. Aku ingin bicara dengan dia."
"Dia di dalam, Mas."
"Ya sudah, kamu ikut aku. Aku akan bicara sama Ziana."
"Tapi, mas. Aku takut," kata Laila pura-pura takut padahal hatinya sangat bahagia sekarang.
__ADS_1
"Sudah. Kamu gak perlu takut karena ada aku. Aku gak akan biarkan Ziana nyakitin kamu lagi."
"Ya sudah."
Laila mengikuti langkah Rama dari belakang. Hatinya sangat bahagia. Sambil tersenyum-senyum, ia mengingat apa yang ia lakukan sesaat setelah ia menghubungi Rama tadi.
Laila berjalan menuju samping rumah. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia bikin seolah-olah, rambutnya itu baru saja diacak-acak oleh Zia. Bukan hanya itu, untuk menambah keyakinan Rama, ia juga mencabik-cabik bajunya. Hal itu ia lakukan supaya kelihatan ia benar-benar sudah mendapat penyiksaan dari Ziana.
Mereka masuk ke dalam dan menemukan Zia sedang duduk manis di atas sofa ruang keluarga sambil menikmati segelas capuccino kesukaannya.
"Zia! Aku ingin bicara!" kata Rama dengan nada tinggi.
Ziana tersenyum. Ia sudah tidak kaget lagi walaupun Rama membentaknya. Meski rasa sakit dalam hati tetap ada. Tapi, ia berusaha sekuat mungkin untuk tetap menahan dan tidak menunjukkan pada Rama maupun Laila.
"Eh, mas Rama. Ada apa, Mas? Mau bicara apa?" tanya Zia berusaha sesantai mungkin.
"Heh, kamu bilang aku berubah mas Rama? Apa aku gak salah dengar itu, Mas? Aku berubah atau kamu yang berubah di sini?"
"Zia, sebenarnya aku gak ingin kita berantem. Tapi kamu sudah menyakiti Laila lagi dan lagi. Apa gak cukup bagi kamu, hah! Kamu bikin dia kehilangan anaknya. Sekarang, kamu malah bikin dia seperti ini," kata Rama sambil memperlihatkan Laila pada Zia.
"Wuah, sepertinya, istri siri kamu ini aktris yang luar biasa ya mas. Ia sangat pandai dalam memainkan perannya."
"Sungguh keterlaluan kamu mbak. Tega-teganya kamu tuduh aku bersandiwara di depan Mas Rama. Aku tahu siapa aku, mbak. Aku tahu aku salah dengan hadir dalam pernikahan kalian sebagai orang ketiga. Tapi, aku juga manusia, mbak. Punya hati yang pastinya merasa tersakiti," kata Laila dengan deraian air mata mewarnai setiap ucapannya.
"Uh, aku turut berduka cita atas sakit hati yang kamu rasakan itu. Semoga, kamu semakin merasakan sakit hati lagi dan lagi. Aku ikut senang untuk kesadaran yang kamu milik. Kamu orang ketiga yang tau diri ternyata," ucap Zia dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Zia cukup! Kamu semakin tidak punya perasaan ternyata. Kamu lihat apa yang kamu lakukan. Apakah tidak ada rasa bersalah sedikitpun saat kamu melihat dirinya yang telah kamu aniaya seperti ini."
"Mas Rama, kamu mau aku punya perasaan seperti apa? Apakah seperti dia juga. Yang datang dan bersandiwara jika di depan kamu?" tanya Zia semakin sakit hati namun ia semakin berusaha tetap kuat.
"Satu hal yang harus kamu tahu, mas. Aku tidak pernah menganiaya istri siri mu ini. Dia yang menganiaya dirinya sendiri," kata Zia lagi.
"Aku baru tahu siapa kamu Zia. Kamu benar-benar keras kepala dan kejam. Aku ingin kamu minta maaf pada Laila sekarang juga."
"Apa! Minta maaf? Tidak akan! Kamu jangan bermimpi aku akan melakukannya," ucap Zia kesal sekali.
"Ziana!"
"Mas, sudah. Jangan bentak mbak Zia. Aku yang salah. Aku yang datang ke rumah ini tanpa persetujuan mbak Zia. Aku yang tidak tahu diri," kata Laila sambil menatap Rama dengan penuh kesedihan.
"Tidak Laila. Kamu datang atas permintaan kamu. Kamu tidak salah. Yang salah itu .... "
"Siapa yang salah? Aku? Atau kamu, Mas?" tanya Zia memotong cepat perkataan Rama.
"Ziana, kamu semakin kurang ajar sekarang. Semakin tidak terkendali lagi ternyata. Segera minta maaf pada Laila, atau .... "
"Atau apa? Hem ... mau menceraikan aku? Ya udah silahkan. Karena memang itu yang aku tunggu-tunggu," ucap Ziana mantap.
Rama terdiam. Matanya tajam menatap Zia. Dari relung hati terdalam, ia sangat tidak menginginkan pertengkaran ini terjadi. Jangankan bertengkar, beda pendapat saja dia tidak mau.
'Zi, apakah kamu tidak punya rasa sedikitpun lagi sekarang. Aku tidak percaya kalo kamu benar-benar berubah. Aku kangen kamu yang dulu. Yang selalu hangat dan lembut,' kata Rama dalam hati.
__ADS_1
'Maafkan aku mas, aku sudah jadi istri durhaka sekarang. Daripada aku semakin berdosa bersama kamu, mungkin, jalan terbaiknya adalah, kita berpisah saja. Apalagi sekarang, diantara kita berdua, ada orang ketiga. Aku semakin tidak kuat lagi untuk bertahan,' kata Zia dalam hati.
Melihat Zia dan Rama yang terdiam dengan mata saling tatap. Laila merasa sangat kesal. Ia tidak ingin Rama dan Zia mengingat kalau sebelumnya mereka adalah orang yang saling mencintai. Laila berpikir keras agar bisa menciptakan suasana kacau kembali.