Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 84


__ADS_3

Zia dan Zein meninggalkan rumah sakit setelah Lola mengatakan dirinya bersedia datang ke rumah sakit untuk menemani Restu.


Tidak butuh waktu lama untuk Lola datang ke rumah sakit tersebut. Karena kebetulan, ia memang sedang berada tak jauh dari rumah sakit itu.


Lola yang awalnya berniat untuk jalan-jalan, terpaksa membatalkan niatnya. Bukan karena permintaan Zein, melainkan karena pacarnya telah ketahuan berselingkuh dengan teman baiknya sendiri.


Lola tidak patah hati dengan terbongkarnya kebusukan sang pacar. Karena sebelumnya, ia sudah beberapa kali tersakiti dan memaafkan perbuatan pacarnya itu. Untuk kali ini, Lola bertekad tidak akan memaafkan pacar yang kini sudah berubah menjadi mantan tersebut.


Lola sampai di depan kamar yang Zein katakan. Untuk memastikan kalau dia memang berada di kamar yang benar, Lola kembali melihat ponselnya. Membuka pesan singkat yang Zein kirimkan lewat WA.


"Kayaknya benar deh, ini kamar yang kak Zein maksudkan," kata Lola sambil mencocokkan alamat yang tertera di layar ponsel dengan kamar yang berada di depannya saat ini.


"Semoga aja aku gak salah kamar," ucap Lola sambil membuka pintu kamar tersebut dengan perasaan gugup.


Pintu terbuka sedikit. Lola tidak langsung masuk ke dalam. Ia mengintip untuk memastikan siapa yang ada di dalam kamar ini. Benar atau tidak kalau kamar ini adalah kamar yang harus ia datangi.


Kebetulan, saat Lola melihat ke dalam, Restu sedang terlelap akibat efek obat yang ia makan barusan. Lola memaksakan kakinya untuk melangkah masuk.


Lola melihat wajah Restu yang sedang terlelap.


Ada rasa kagum sekaligus simpati, yang kini perlahan menyusup ke dalam hati Lola. Hatinya yang kosong, sangat mudah tersentuh sekarang. Apalagi saat melihat wajah tampan yang Restu miliki.


"Kayaknya benar deh, ini yang namanya Restu. Seperti yang kak Zein katakan, dia mengalami luka di bagian kepala," kata Lola bicara pada dirinya sendiri.


"Wuah, kasihan sekali cowok tampan ini. Ia harus merasakan penyiksaan dari orang yang ia sayangi. Kasihan sekali."


Entah mendapatkan bisikan dari mana, Lola tiba-tiba saja terpikir untuk menyentuh pucuk kepala Restu yang sedang terlelap itu. Alhasil, saat tangan Lola menyentuh sedikit saja rambut Restu, sontak saja, Restu kaget dengan sentuhan itu.

__ADS_1


"Siapa kamu!" tanya Restu sambil berusaha bangun dari baringnya dengan susah payah.


"Eh-eh ... jangan paksakan tubuhmu bangun. Maafkan aku, karena aku terlalu lancang. Ada lalat di kepalamu, aku hanya berniat mengusir lalat ini," kata Lola berusaha memberikan alasan dengan setenang mungkin. Padahal sebenarnya, dia juga sedang gugup dan kaget.


"Siapa kamu! Aku tanya siapa kamu?" Zein bertanya dengan nada tinggi lebih mirip bentakan bukan pertanyaan.


"Aku Lola. Tolong jangan paksa tubuhmu untuk melakukan gerakan yang berlebihan," kata Lola berusaha menahan niat Restu untuk bangun.


"Lo--Lola?" tanya Restu sambil melihat wajah Lola dengan seksama.


"Ya, aku Lola. Adik sepupu kak Zein. Aku yakin kak Zein pasti sudah mengatakan padamu jika ia meminta aku untuk menemani kamu di sini. Makanya, aku ada di kamar ini sekarang."


"Oh, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kamu adalah adik sepupu mas Zein. Iya, dia sudah katakan sebelumnya, kalo dia minta adik sepupunya buat temani aku di sini. Sekali lagi maaf. Aku sudah membentak kamu barusan," ucap Restu agak tenang.


"Sudahlah, itu bukan salah kamu. Itu semua karena aku yang terlalu lancang telah menganggu kamu yang sedang terlelap. Oh ya, lupa. Kenalin, aku Lola Pandini Utami. Kamu bisa panggil aku dengan nama pendek ku saja. Yaitu, Lola," kata Lola sambil mengulur tangannya.


"Oh, aduh, gak papa. Aku yang seharusnya minta maaf karena aku tidak ingat kalo tangan kamu sedang cedera," kata Lola berusaha tersenyum sambil menarik tangannya kembali.


'Ya Tuhan, bikin malu aja aku ini. Udah lihat tangannya tidak bisa ia gunakan sekarang, eh, aku malah mengulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya. Ini semua terjadi karena aku terlalu grogi,' kata Lola bicara dalam hati sambil menahan malu.


"Oh ya, maaf ya, Lola. Aku merepotkan kamu. Aku sudah katakan pada mas Zein jika aku tidak apa-apa sendirian. Tapi, mereka tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan . Mereka tetap mengatakan padamu untuk meminta kamu menemani aku," kata Restu dengan nada menyesal.


"Gak papa. Aku tidak merasa direpotkan. Aku malahan merasa sekang. Karena kebetulan, aku juga sedang bosan. Ingin punya teman ngobrol saat ini."


"Benarkah?"


"Iya. Aku datang ke kota ini untuk melanjutkan liburanku. Karena kebetulan, pacarku berada di kota ini. Tapi .... "

__ADS_1


"Tapi apa? Kamu udah punya pacar? Apa pacarmu tidak keberatan jika kamu menemani aku di sini?" tanya Restu dengan nada agak kecewa.


"Dia tidak akan keberatan dengan apa yang aku lakukan. Karena memang, dia tidak pernah menganggap aku sebagai pacarnya selama ini."


"Kalian bertengkar?" tanya Restu antusias.


"Bukan hanya bertengkar. Aku dan pacarku malahan sudah putus sekarang. Aku tidak akan pernah mau lagi jadi gadis bodoh untuknya kali ini. Tidak ada lagi kata maaf untuk laki-laki pengkhianat seperti dia," kata Lola benar-benar kesal.


"Jadi, kalian putus karena pacarmu telah mengkhianati kamu? Dan, ini bukan yang pertama kalinya kamu dikhianati oleh pacarmu itu?"


"Ya. Ini bukan untuk yang pertama kalinya dia berselingkuh dengan sahabatku. Ia telah membodohi aku selama ini. Tapi, yang bodoh itu entah dia atau aku."


"Maksud kamu?" tanya Restu tak mengerti.


"Ya, kamu pikir aja sendiri. Sudah berkali-kali dia membohongi aku dengan berselingkuh di belakangku, tapi, aku tetap saja memaafkannya. Kalo gitu, aku yang bodoh dong, bukan dia."


"Tidak. Bukan kamu yang bodoh. Tapi, pacarmu itu saja yang tidak tahu diri. Harusnya, ketika diberikan kesempatan, ia gunakan dengan sebaik mungkin. Tapi pacarmu malah sangat bodoh. Membuang kesempatan dengan mengkhianati kamu lagi dan lagi."


"Entahlah. Aku juga merasa kebingungan dengan masalah percintaan yang aku miliki. Selalu saja harus merasakan rasa sakit dan kecewa," kata Lola dengan nada putus asa.


"Ya ampun .... " Lola menepuk dahinya dengan pelan saat ia menyadari apa yang telah mereka bicarakan.


"Ada apa?" tanya Restu kaget sekaligus penasaran.


"Maafkan aku yang telah membebani kamu dengan curhatan ku yang tidak penting. Kita baru aja ketemu, eh, aku malah curhat pada kamu, orang yang baru aku kenali beberapa menit yang lalu. Benar-benar aku ini," kata Lola sambil menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang ia lakukan barusan.


"Kenapa harus menyesal? Aku malahan merasa senang saat ini. Dengan kamu curhat padaku sekarang, aku merasa punya teman yang juga membutuhkan aku sebagai temannya, bukan hanya aku yang membutuhkan teman itu karena aku takut kesepian."

__ADS_1


Lola tersenyum dengan kata-kata bijak yang Restu ucapkan. Perlahan, hati kosong itu tiba-tiba merasa hangat karena kehadiran seseorang setelah kekosongan melanda.


__ADS_2