
Kedua orang tua Zein semakin bahagia saat mendengar ucapan Zia barusan. Dengan senyum yang merekah, mama Zein menggandeng Zia meninggalkan bandara menuju mobil. Sedangkan papa Zein mengikuti mama Zein dan Zia. Mereka mengabaikan Zein di sana dengan meninggalkan Zein begitu saja.
"Mama ... papa ... kalian yang benar saja. Kalian tinggalkan aku setelah kalian dapat anak yang baru," kata Zein berucap dengan nada pura-pura sedih.
"Bodo amat sama kamu, Zein. Kamu kan udah tahu mana jalan pulang menuju rumahmu. Jika kamu ingin pulang ke rumah, kami tidak perlu mengajak kamu lagi bukan? Kamu hanya perlu mengikuti kamu saja, tanpa harus kamu ajak terlebih dahulu," kata papa Zein tidak peduli dengan rintihan anaknya.
"Ya Tuhan, kalian tega banget, Ma, Pa."
Zein terpaksa mengikuti keluarganya dari belakang dengan situasi terus diabaikan oleh mama dan papanya. Bukan hanya itu, Zein juga harus merasakan duduk terpisah kursi dengan Zia. Ia harus merasakan duduk di depan bersama sang sopir sedangkan Zia duduk di belakang bersama mama dan papa Zein.
Sampai di tempat kediaman keluarga Martin. Zia agak kaget saat melihat tempat tinggal Zein selama ini. Kediaman keluarga Martin bukan rumah melainkan mansion dengan banyak pelayan yang bekerja, layaknya di istana raja.
"Ziana, selamat datang di tempat tinggal keluarga Martin ya, Nak. Semoga kamu merasa betah dan nyaman di sini," kata papa Zein menyambut Zia sambil tersenyum.
"Te--terima kasih banyak, Pa. Kalian sudah mau menerima aku sebagai menantu di keluarga kalian," kata Zia dengan perasaan haru.
"Kamu menantu pilihan Zein. Kami yakin kalau Zein tidak akan salah pilih istri untuk menjadi pendamping hidupnya. Jadi, jangan pikirkan soal hal-hal yang tidak perlu, ya."
"Tuh, dengar apa yang papa katakan. Jangan mikir yang tidak perlu. Ini juga, kenapa malah menjatuhkan air mata," kata Zein sambil menghapus air mata haru yang tidak bisa Zia tahan.
"Ya ampun sayang, ada apa? Kenapa kamu malah menangis? Apa karena kata-kata Zein barusan?" tanya mama Zein prihatin.
"Lho, mama kok malah nyalahin aku sih," ucap Zein tak terima.
"Nggak kok, Ma. Ini bukan karena Zein. Air. mata ini adalah air mata bahagia karena kalian begitu baik padaku. Kalian bersedia menerima aku sebagai menantu kalian dengan kekurangan yang aku miliki."
__ADS_1
"Sstt. Zia, jangan pernah bicara seperti itu lagi. Kamu lupa barusan aku ngomong apa? Jangan mikir hal yang tidak perlu," kata Zein sambil menatap Zia dengan penuh kasih.
Suasana terasa semakin haru. Papa dan ma Zein bukanya mencegah, tapi malah ikut terbawa suasana. Untuk beberapa saat, mereka berada dalam suasana haru tersebut, hingga seorang kepala pelayan datang untuk menyambut ke datangan tuan mereka.
"Selamat datang tuan besar, nyonya besar, tuan muda, dan ... nona muda. Maaf mengganggu tuan besar, saya tidak bermaksud merusak suasana. Hanya saja, saya ingin bertanya, apakah acara kita akan kita mulai sekarang, atau nanti malam?" tanya kepala pelayan itu dengan seksama.
"Ya Tuhan, aku lupa," kata papa Zein sambil menepuk jidatnya.
"Lupa apa, Pa?" tanya Zein penasaran.
"Papa merencanakan sebuah pesta penyambutan kamu dan Zia. Tapi, pesta itu papa tunda karena papa kira, kamu dan Zia akan datang nanti malam karena penerbangan kalian yang berubah. Tapi sekarang, kalian udah ada di sini. Tapi, penyambutan untuk kalian masih belum selesai. Papa lupa memberitahukan pada kepala pelayan kita soal penerbangan kamu yang kembali ke jadwal semula," kata papa agak sedih.
"Udah, Pa. Gak perlu kecewa seperti itu. Papa masih bisa bikin sambutan untuk aku dan Zein jika sudah selesai."
dari mama dan papa, sudah sangat istimewa sehingga aku merasa, kalian tidak perlu membuat pesta lain lagi."
"Kalian berdua bisa aja. Kalian berdua ini memang sangat serasi. Sama-sama bisa menghibur," kata papa Zein sambil tersenyum.
Mereka masuk ke dalam dengan sambutan seadanya oleh para pelayan. Karena rencana yang papa Zein buat, masih belum selesai. Niatnya, papa Zein akan menyambut kedatangan menantu mereka dengan sambutan yang sangat meriah.
Para pelayan akan menaburkan bunga saat Zia dan Zein memasuki halaman mansion keluarga Martin. Tapi kenyataanya, semua itu tidak terjadi. Karena semua persiapan, masih belum selesai.
---------
Meskipun terlambat, pesta penyambutan Zein dan Zia tetap terjadi. Mereka merayakan pesta penyambutan itu sehari setelah Zein dan Zia berada di sana.
__ADS_1
Pesta yang lumayan besar juga meriah, di adakan di mansion keluarga Martin. Semua kerabat dekat diundang. Mama dan papa Zein dengan bangga memperkenalkan Zia pada semua kerabatnya.
Ya, sambutan semua kerabat Zein juga menyenangkan. Mereka semua ikut bahagia dengan pernikahan Zein dan Zia.
Setelah acara itu selesai, Zein dan Zia terbaring di kamar. Mereka berdua merasa lelah seharian melayani para tamu yang datang silih berganti, layaknya di acara resepsi pernikahan saja.
"Zein, ternyata keluarga kamu banyak juga," kata Zia sambil mengatur napasnya.
"Ya, lumayanlah. Bisa buat kayu bakar jika kehabisan gas," kata Zein malah menanggapi perkataan Zia dengan candaan.
"Kamu ini m Zein, ngomong kok gak mikir-miki dulu." Zia kesal dengan ucapan Zein.
"Aku udah mikir sayang. Jika nggak mikir, mana bisa aku ucapkan kata-kata itu."
"Hm ... Zia, aku capek banget. Bagaimana jika kamu obatin aku?" tanya Zein mulai berpikir hal-hal aneh.
"Obatin kamu? Caranya?"
Zein membisikkan sesuatu ke telinga Zia. Dengan cepat, wajah Zia berubah merah, bersemu malu.
"Jangan banyak tingkah kamu Zein. Kita lagi capek. Itu bukan ngobatin malah nambahin."
"Yah .... " Zein terlihat kecewa dengan penolakan Zia. Tapi sebaliknya, Zia malah tersenyum bahagia dengan ekspresi yang Zein tunjukkan.
Mereka pada akhirnya, sama-sama terlelap akibat kelelahan yang mereka rasakan. Tidak ada yang terjadi di malam itu karena Zia menolak mengobati Zein.
__ADS_1