
Setelah akad nikah selesai, Rama pun tidak kuat lagi untuk bertahan di sana hingga sampai resepsi pernikahan di mulai. Setelah Zia meninggalkan ruangan itu untuk berganti pakaian, Rama memilih pergi meninggalkan rumah orang tua Zia, tempat di mana pesta pernikahan itu berlangsung.
"Rasanya sungguh sakit saat aku melihat Zia berdampingan dengan orang lain. Hatinya ini rasanya seperti diiris-iris dengan belati tumpul," kata Rama bicara ada dirinya di dalam mobil.
"Ya Tuhan ... jadi seperti inilah sakit yang Zia rasakan saat aku bersama perempuan lain. Zia pasti sangat amat sakit," kata Rama semakin merasa bersalah saat ia ingat apa yang sudah terjadi di masa lalu.
"Aku pantas mendapatkannya. Ini karma untuk aku. Ya ... ini memang karma yang pantas aku terima. Karena aku telah menyakiti Zia saat ia menjadi istriku. Dan sekarang, aku yang tersakiti saat dia menjadi istri orang lain. Ya Tuhan .... "
Rama menundukkan kepalanya, ia bersandar pada stir mobil untuk beberapa saat. Memikirkan apa yang telah ia lewati selama ini. Berusaha menerima kenyataan pahit yang sedang ia rasakan sekarang.
Suara deringan ponsel membuyarkan suasana sedih yang Rama rasakan. Dengan cepat, ia bangun untuk melihat panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
"Mama Sinta," kata Rama dengan kesal saat melihat nama Sinta terpampang jelas di layar ponselnya.
"Untuk apa mama Sinta menghubungi aku? Mau bikin masalah apa lagi dia?" tanya Rama cemas pada dirinya sendiri.
"Angkat tidak ya? Angkat tidak?" Rama mempertimbangkan apa yang akan ia lakukan sekarang.
"Sebaiknya aku angkat saja. Mana tahu dengan mengangkat panggilannya aku jadi tahu apa yang ia inginkan sebenarnya," ucap Rama lalu menggeser layar ponsel untuk menjawab panggilan Sinta.
"Halo."
"Kamu di mana?" tanya Sinta tanpa basa basi.
__ADS_1
"Aku di mobil. Ada apa?"
"Apa kamu tahu, kalau hari ini, mantan istrimu melaksanakan pernikahannya?" tanya Sinta dari seberang sana dengan nada setengah mengejek.
"Ya aku tahu. Kenapa memangnya? Bukan kamu senang jika dia menikah lagi?" tanya Rama kesal dengan Sinta.
"Apa yang kamu bicarakan, hah! Siapa yang senang dengan pernikahan Zia?" tanya Sinta balik.
"Siapa lagi kalau bukan kamu," kata Rama semakin kesal saja.
"Apa yang kamu bicarakan Rama? Aku tidak pernah merasa senang dengan pernikahan Zia. Aku malahan merasa sebaliknya. Kesal saat tahu kalau dia telah menikah lagi."
"Sudahlah. Jangan dibahas lagi. Kamu mau senang atau sedih, tidak ada urusannya dengan aku. Jika kamu meneleponku hanya untuk membicarakan soal pernikahan Zia, sebaiknya kita akhiri saja pembicaraan ini, karena masih banyak hal penting yang harus aku kerjakan."
"Rama! Kamu kurang ajar sekali ya sekarang. Apa sangat sulit untuk kamu panggil aku mama? Hah!" kata Sinta membentak Rama karena ia begitu kesal.
"Walaupun aku bukan mama kandung mu Rama. Tapi pada kenyataannya, aku ini orang yang telah merawat kamu selama puluhan tahun. Aku ini mama angkat kamu."
"Kamu membesarkan aku hanya untuk kepentingan mu, Sinta. Jika tidak, kamu pasti tidak akan merawat aku dengan baik. Ingat satu hal Sinta, kamu adalah orang yang telah memisahkan aku dari mama kandungku. Wanita yang telah melahirkan aku kedunia ini.
Aku yakin, kamu adalah dalang dari kecelakaan orang tua kandungku puluhan tahun yang lalu. Kamu lihat saja, aku akan cari bukti dan aku akan jebloskan kamu ke dalam penjara," kata Rama mengancam Sinta dengan tegas.
"Rama! Kamu anak yang tidak tahu balas budi. Aku telah merawat kamu selama puluhan tahun, tapi ini balasan yang kamu berikan padaku, hah! Kamu malah mengancam aku, kamu menuduhku yang mencelakai orang tua kandung kamu. Padahal, aku tidak tahu menahu soal kecelakaan pagi itu," kata Sinta benar-benar marah.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi. Aku akan buktikan kebenaran dibalik kata-kata yang kamu ucapkan," kata Rama kemudian memutuskan sambungan panggilan antara dirinya dan Sinta.
Rama menatap ponselnya dengan tatapan penuh amarah. Hatinya masih terasa sangat kesal walaupun sudah tidak berbicara dengan Sinta lagi.
Ya, ia merasa begitu membenci Sinta setelah ia tahu kalau Sinta telah memisahkan dia dengan mama kandungnya. Walaupun Sintabtelah merawatnya dengan baik selama puluhan tahun, tapi semua itu tidak bisa menutupi rasa marah yang ada di hati Rama.
Perbuatan jahat Sinta yang telah memisahkan Rama dari mama kandungnya, tidak bisa Rama maafkan walaupun ia telah mencoba untuk memaafkan Sinta karena kebaikan yang Sinta lakukan pada dirinya selama ini. Kebaikan itu musnah saat Rama ingat kejahatan yang Sinta lakukan pada dirinya juga orang tuanya.
Rama telah bertekad untuk mencari bukti dari kejahatan yang Sinta lakukan puluhan tahun yang lalu. Ia yakin, kalau semua kejadian itu adalah ulah Sinta.
Sementara Rama kesal dengan apa yang terjadi pada dirinya, Zia dan Zein sangat menikmati hari bahagia mereka berdua. Mereka melangsungkan resepsi di taman belakang rumah orang tua Zia.
Acara berjalan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun. Resepsi berakhir dengan sesi foto-foto bersama keluarga besar mereka.
"Sayang, semoga keluarga kalian samawa. Doa terbaik dari mama dan papa akan selalu menyertai kalian berdua," kata mama Zia sambil meneluk Zia dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih mama," ucap Zia membalas pelukan sang mama dengan perasaan haru.
"Zein, papa titipkan putri satu-satunya papa pada kamu. Papa mohon agar kamu menjaganya dengan sangat baik sepenuh jiwa dan ragamu. Jangan buat dia merasakan sakit hati dalam rumah tangga untuk yang kedua kalinya. Papa percayakan dia padamu, buat dia bahagia dengan pernikahannya ini," kata papa Zia berpesan pada Zein sambil berjabat tangan.
"Papa tenang saja. Aku akan jaga Zia dengan jiwa dan ragaku. Sepenuh hati, selagi nyawa ini masih melekat di tubuh, maka selama itulah aku akan terus menjaganya. Aku tidak bisa menjamin kalau air mata tidak akan mengalir dari matanya, aku juga tidak akan menjamin kalau Zia tidak akan merasakan sakit hati. Tapi, aku bersumpah kalau aku akan berusaha kenjaga semua itu agar tidak akan pernah terjadi pada Zia lagi."
"Papa yakin kamu bisa membuat ia selalu bahagi," kata papa, lalu ia menarik Zein ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat lamanya, Zein dan papa Zia saling peluk. Mama dan papa Zein saling pandang satu sama lain, lalu mereka tersenyum bahagia dengan tugas besar yang besannya berikan pada anak laki-laki mereka ini.
Setelah orang tua Zia selesai memberikan doa restu pada Zein dan Zia sebagai pengantin hari ini, kini giliran mama dan papa Zein pula yang akan memberikan doa restu pada Zein dan Zia.