
Zia sampai ke kantor dengan mengunakan taksi online, karena Restu tidak bisa menjemputnya. Kesibukan Restu menjadi penghalangan untuk menjemput Zia.
Saat Zia sampai, ia di sambut dengan wajah senang oleh seluruh karyawan yang bekerja di kantornya. Karena mereka sudah sangat lama tidak bertemu sang ceo setelah perjalanan bisnis yang Zia lakukan ke luar negeri waktu itu.
Hari ini, untuk pertama kalinya Ziana datang ke kantor setelah kepulangannya dari luar negeri. Sebenarnya, ia masih belum siap untuk kembali bekerja di kantor karena takut masalah pribadinya mengganggu pekerjaan. Tapi hari ini, saat Restu meminta ia datang, Zia pun membulatkan tekat untuk kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
"Selamat datang mbak Zia. Kami sangat merindukan mbak," kata para karyawan yang Zia temui.
"Terima kasih banyak. Aku juga merindukan kalian. Aku juga sangat berterima kasih karena kalian telah bekerja sebaik mungkin meski aku tidak ada di kantor ini," ucap Ziana sambil tersenyum manis penuh rasa syukur dan rasa bahagia.
"Kami akan bekerja sebaik mungkin untuk mbak Zia. Meskipun mbak Zia tidak ada di kantor, mbak. Karena bagi kami, bekerja dengan sepenuh hati untuk pemimpin sebaik mbak Zia, adalah tanggung jawab terbesar dalam hidup kami."
Belum sempat Ziana menjawab apa yang karyawan itu katakan, Restu sudah muncul dan mengalihkan semua perhatian.
"Ya ampun, mbak sudah datang, tapi kok gak langsung mengabari aku. Kalian semua juga, gak ada yang ngasi tau aku kalau mbak Zia sudah datang. Aku itu menunggu mbak di dalam."
"Yah, maaf pak Restu. Kami sengaja gak ngomong sama pak Restu karena kami ingin melepas kangen pada mbak Zia. Kami udah lama gak ketemu pimpinan kami, Pak."
"Ya pak Restu. Kami sengaja melakukan ini supaya kami bisa melepas kerinduan kami pada mbak Zia," kata yang lain pula.
"Kalian ini. Bukankah kalian tahu kalau kita sedang ada klien penting dari luar kota. Apa kalian mau kalau klien dari luar kota itu marah sama mbak Zia gara-gara gak bisa datang tepat waktu?" tanya Restu dengan wajah kesal.
"Apa Res? Kita kedatangan klien dari luar kota?" tanya Zia tak mengerti.
"Iya, mbak. Kita kedatangan klien dari luar kota. Bukan hanya satu klien, tapi ada empat."
"Empat? Kok bisa? Tumben banget ada klien datang serentak ke kantor kita. Bukankah biasanya kamu selalu atur jadwal rapat dengan sangat baik sehingga tidak sempat bentrok seperti ini?" kata Ziana tak percaya.
"Mbak, ini bukan karena aku salah atur jadwal rapat. Tapi, para klien itu datang sendiri. Mereka yang ingin menawarkan sendiri kerja sama dengan perusahaan kita. Mereka juga menawarkan keuntungan yang sangat baik, mbak."
__ADS_1
"Oh ya?"
"Iya, mbak. Untuk itu, sebaiknya kita langsung masuk ke dalam aja. Karena lebih bagus jika mbak bicara langsung dengan mereka," kata Restu.
"Ya sudah kalo gitu. Ayo!"
"Ayok, mbak!"
"Semuanya, aku pamit ke ruang rapat dulu ya. Nanti kita sambung ngobrolnya lagi, oke," kata Zia sambil tersenyum.
"Baik mbak Zia," jawab hampir semua karyawan
secara serentak.
Ziana tersenyum bahagia. Begitu juga karyawan-karyawannya. Di kantor ini, mereka semua yang bekerja di perlakukan sangat baik. Bukan hanya sebatas karyawan, tapi sebagai saudara. Semau yang bekerja di kantor ini saling menghargai. Setidaknya, hal itulah yang pertama-tama Zia terapkan pada semua karyawan-karyawannya.
Ziana masuk ke dalam ruang rapat. Di mana semua klien sedang menantikan kehadirannya.
"Tidak masalah buk Ceo, kami tidak merasa keberatan karena sebenarnya, kami juga baru saja sampai ke perusahaan anda."
"Iya buk ceo. Kami juga baru saja sampai di sini. Jadi, buk ceo tidak perlu minta maaf pada kami."
"Oh ya, sepertinya, ceo perusahaan Zaza grup terlalu muda untuk di panggil ibuk. Karena terasa sangat aneh jika kami memanggil anda dengan panggilan ibuk. Bagaimana jika kami panggil anda dengan panggilan Ceo muda saja?" tanya salah satu diantara mereka.
"Terserah bapak-bapak saja mau panggil saya dengan panggilan apa, yang penting bapak-bapak nyaman dengan panggilan itu. Kalo saya sih, tidak ada masalah dengan panggilan apa saja," kata Zia sambil tersenyum ramah.
"Wuah, ternyata ceo muda orangnya sangat sederhana dan juga ramah. Saya nyesal, kenapa gak dari dulu aja saya kerja sama dengan anda."
"Iya, yah. Kalo dari dulu kita berkerja sama dengan perusahaan ini, mungkin sekarang kita sudah bisa menikmati hasil dari kerja sama kita," kata yang lain pula membenarkan apa yang temannya katakan.
__ADS_1
Ziana tersenyum mendengarkan apa yang mereka katakan. Hatinya tiba-tiba merasa geli dengan ucapan klien baru yang memuji-muji dirinya padahal mereka baru pertama kali bertemu.
"Bapak-bapak bisa aja. Ya sudah, bagaimana jika kita bicara masalah tujuan bapak-bapak datang ke perusahaan saya sekarang."
"Ya, baiklah kalo gitu. Kita langsung saja bicara pada tujuan kami datang ke sini."
"Ya." Ziana menjawab singkat.
Mereka langsung membahas niat dari kedatangan mereka. Klien itu datang untuk menawarkan kerja sama. Awalnya, Zia merasa agak tidak enak hati untuk menerima tawaran kerja sama, mengingat nasib perusahaan Rama yang sedang berada dalam masalah kebangkrutan karena klien membatalkan kontrak.
Tapi, Restu meyakinkan Zia kalau ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan Rama. Zia sebaiknya menerima tawaran kerja sama tersebut. Karena ini adalah kesempatan baik bagi perusahaan agar bisa semakin kuat lagi.
______
Rama menunggu kepulangan Zia dengan cemas. Karena ia ingin meminta Zia membantunya agar bisa keluar dari situasi sulit yang sedang perusahaannya hadapi.
Saat mobil Restu berhenti di depan rumah, Rama dengan cepat menghampiri mobil itu karena ia yakin kalau Restu pasti sedang Ziana.
"Zi, ada yang mau aku bicarakan pada kamu sekarang. Bisakah kita bicara empat mata sekarang juga?" tanya Rama saat Zia baru saja membuka pintu mobil tersebut.
"Mau bicara apa, Mas? Kelihatannya sangat amat penting sampai kamu tidak sabaran lagi," ucap Zia sambil turun dari mobil dengan santai.
"Sangat penting Zi. Aku mohon kamu bersedia untuk bicara empat mata denganku."
"Ya sudah kalo gitu, iya, aku bersedia."
"Ya udah mbak, kalo gitu saya pamit pulang dulu. Besok saya akan jemput mbak seperti biasa," ucap Restu seakan mengerti apa yang bosnya inginkan.
"Iya, Res, hati-hati."
__ADS_1
"Iya mbak."
Setelah Restu menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah Zia. Rama mengajak Zia pergi ke taman untuk berbicara.