
Dengan sigap, Sinta melepaskan tangan Saras. Lalu menatap Saras dengan tatapan tajam seolah tiada takut sedikitpun dalam hati Sinta.
"Cegah saja jika kamu bisa, Saras. Aku tidak melarang kamu melakukan apa yang kamu inginkan."
"Oh, kamu nantang aku? Kamu tidak tahu kalau aku bisa bawa masalah ini kepengadilan, dan kamu akan di tahan akibat kerusuhan yang kamu lakukan di rumah anakku."
"Coba saja jika kamu bisa, Saras. Aku tidak takut. Jika kamu berani bawa aku ke jalur hukum, maka, anak kamu juga akan aku bawa ke jalur hukum."
"Apa maksud kamu?"
"Oh, apakah kamu tidak tahu kejahatan apa yang telah anak kamu lakukan, Saras? Anak kamu ini telah membunuh bayi yang ada dalam kandungan seorang perempuan. Aku bisa tuntut dia atas kejahatan yang ia lakukan dengan tuduhan, percobaan pembunuhan."
"Apa? Zia." Saras melihat ke arah Ziana yang sedari tadi hanya diam saja.
"Aku tidak takut! Jika kamu mau bawa masalah ini ke jalur hukum, maka silahkan saja. Kita akan bertemu di pengadilan nanti," kata Zia menantang Sinta.
"Jangan Zia! Aku gak ingin kamu di penjara nantinya." Rama mencegah perkataan Zia dengan lantang.
"He ... tidak perlu takut mas Rama. Aku tidak merasa salah atas apa yang telah terjadi pada Laila, istri siri mu itu. Jadi, mengapa aku harus takut jika harus di bawa ke jalur hukum? Dengan di bawanya masalah ini ke jalur hukum, maka aku juga bisa menuntut balik atas tuduhan yang telah di lemparkan padaku. Aku akan tuntut balik mereka yang menuduh aku dengan tuduhan, pencemaran nama baik," kata Zia sambil tersenyum manis dengan tatapan tajam ke arah Sinta.
'Sial. Benar-benar sial. Bukannya dia merasa takut dengan ancaman yang aku lontarkan, eh malahan dia yang merasa senang dengan ancaman itu. Tidak. Aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi. Tidak-tidak-tidak,' kata Sinta dalam hati.
"Aku harus pergi sekarang. Kalian tunggu saja apa yang akan aku lakukan pada kalian," kata Sinta sambil beranjak meninggalkan tempatnya dengan cepat.
"Sinta! Tunggu Sinta!" Saras berusaha menahan Sinta, namun tidak ada hasilnya. Sinta mengabaikan teriakan Saras. Ia bahkan semakin mempercepat langkah kakinya untuk meninggalkan rumah Zia.
__ADS_1
"Sudah, Ma. Biarkan saja mama Sinta pergi. Yang penting, kita sudah tahu siapa dia sebenarnya," kata Ziana mencegah niat Saras untuk mengejar Sinta.
"Zi, kenapa kamu tidak mengatakan pada mama tentang masalah sebesar ini? Kamu anggap apa mama kamu ini Ziana?" tanya Saras dengan perasaan kesal sekaligus sedih. Ia menatap tajam Zia yang tertunduk saat kata-kata yang ia ucapkan menyentuh telinga Zia.
"Ma."
"Diam! Aku tidak sedang bicara sama kamu. Kamu dan Sinta sama saja. Sama-sama tidak punya hati dan perasaan," kata Saras membentak Rama yang ingin menjawab apa yang ia katakan.
"Aku minta maaf, Ma, atas apa yang sudah terjadi."
"Apa! Maaf? Kamu pikir semuanya akan kembali seperti semula hanya dengan kata maaf, Rama? Tidak! Semuanya tidak akan kembali seperti semula. Kata maaf yang kamu ucapkan tidak akan mampu mengembalikan sakit hati yang anakku derita akibat kelemahan yang kamu miliki."
"Aku tahu, Ma. Aku memang pantas disalahkan
"Ya, kamu memang pantas disalahkan karena ini murni kesalahan kamu. Kamu jadi laki-laki terlalu lemah. Mau saja diperalat oleh perempuan seperti Sinta. Benar-benar lemah. Kamu tidak pantas hidup di atas dunia ini, Rama. Mati saja kamu sana!" kata Saras benar-benar kesal dengan Rama.
Zia dan Rama kaget dengan ucapan Saras barusan. Zia benar-benar tidak menyangka kalau mamanya akan berkata seperti itu. Sesakit-sakitnya hati Zia, ia masih bisa menahan kata-kata kotor supaya yang lepas dari mulutnya. Karena ingat, kalau Rama masih suami yang di mana surga istri berada di bawah telapak kakinya.
Tapi Saras, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengutuk Rama. Karena kelemahan Rama sebagai kaum laki-laki, tidak bisa ia terima dengan akal sehat.
"Ma, sudahlah. Semuanya sudah terjadi. Tidak mungkin bisa kita perbaiki lagi sekarang. Aku dan mas Rama juga sudah sepakat untuk mengakhiri pernikahan kami."
"Bagus. Sangat bagus ide yang kamu ambil ini. Kalian berpisah saja. Untuk apa bertahan dengan laki-laki lemah seperti dia. Anak mama cantik, masih banyak laki-laki di luar sana yang menginginkan anak mama untuk dijadikan perempuan teristimewa," kata Saras setuju dengan niat Ziana.
"M ... ma." Rama mencoba bicara. Karena sesungguhnya, perpisahan yang Zia katakan itu terlalu berat untuknya. Jika bukan karena perusahaan yang sedang sekarat, dia tidak akan pernah sepakat untuk bercerai dari Ziana.
__ADS_1
"Diam! Aku tidak sudi bicara dengan kamu lagi. Dan tolong, jangan panggil aku dengan sebutan mama. Kuping ini terasa sakit saat kamu panggil aku dengan panggilan mama."
"Aku minta maaf," kata Rama sambil beranjak meninggalkan tempatnya.
'Zi. Tolong cegah kepergian aku ini. Aku mohon. Jika kamu mencegah kepergian aku ini, itu tandanya, aku masih punya harap untuk memiliki kamu setelah kita bercerai nanti. Aku janji, jika kita bersama kembali, aku tidak akan mengecewakan kamu lagi,' kata Rama dalam hati dengan perasaan penuh harap.
Sayangnya, kenyataan tidak sama dengan apa yang Rama harapkan. Ziana tidak mencegah kepergian Rama. Jangankan mencegah, melihat saja tidak.
Zia malah sibuk menenangkan sang mama. Membicarakan tentang alasan kenapa ia tidak mengatakan pada Saras soal kehancuran rumah tangganya.
______
Satu minggu kemudian, surat cerai mereka akhirnya keluar juga. Dengan surat cerai tersebut, Rama dan Zia resmi berpisah. Dengan begitu, Zia sekarang bebas menjalani kehidupannya. Ia sudah bebas dari sebuah ikatan pernikahan yang menyakitkan.
"Selamat mbak Zia, akhirnya, mbak bebas dari belenggu cinta berduri milik suami mbak," kata Restu memberikan selamat pada Zia atas perceraian yang telah berjalan lancar.
"Terima kasih, Res. Mbak harap hati ini tidak akan merasakan yang namanya sakit hati lagi."
"Iya mbak. Semoga saja yah. Oh ya, aku juga doain mbak Zia supaya dapat cinta baru yang bisa membahagiakan mbak Zia selamanya," kata Restu sambil tersenyum manis.
"Ih, baru juga baru juga mau menikmati kesendirian, udah di doakan dapat cinta aja. Nggak ah, mbak gak mau. Doain yang lain aja."
"Nanti aku pikirkan doa yang lain buat mbak. Yang terpenting, sekarang mbak harus bahagia dengan status baru mbak ini."
"Oke, siap."
__ADS_1