
Merasa usahanya tidak berhasil. Laila semakin gusar saja. Ia kembali ke atas tempat tidur. Ia ambil ponselnya lalu menghubungi Sinta.
"Halo." Sinta menjawab panggilan Laila dengan perasaan malas.
"Ma, apa yang mama lakukan .... "
Laila mengantungkan kalimatnya dan memutuskan sambungan telepon saat ia mendengar langkah kaki yang semakin mendekati pintu kamar. Dengan perasaan campur aduk, Laila kembali berbaring di atas tempat tidur sambil memikirkan rencana apa yang akan ia jalankan lagi jika dokter itu mengatakan kalau dia berbohong soal sakitnya.
Laila memejamkan matanya saat Rama membuka pintu kamar tersebut. Ia berpura-pura tertidur saat Rama berjalan semakin mendekati dirinya.
"Maafkan aku, aku akan menjaga kamu lebih baik lagi," ucap Rama sambil menyentuh tangan Laila.
'Apa! Apa aku barusan tidak salah dengar? Mas Rama bilang kalau dia akan menjaga aku lebih baik lagi? Gila. Apa yang dokter itu katakan sampai mas Rama kelihatannya merasa semakin bersalah saja padaku. Aku yakin, ini pasti ulah mama Sinta. Dia pasti sudah membantu aku,' kata Laila dalam hati dengan perasaan sangat bahagia.
Sementara Rama sibuk di rumah, Santi sekretrisnya sibuk di kantor. Ia sedang sangat kebingungan dengan masalah yang sedang ia hadapi di kantor saat ini. Santi berusaha menghubungi Rama berkali-kali, namun Rama tidak menjawab panggilan dari Santi.
Terpaksa, Santi menghubungi Zia untuk membicarakan masalah yang sedang terjadi di kantor mereka. Kebetulan saat itu, Zia sedang duduk di taman sambil mengutak-atik ponselnya.
"Halo." Zia menjawab panggilan Santi dengan cepat.
"Mbak Zia. Saya Santi, sekretaris pak Rama. Maaf jika saya lancang ganggu mbak siang-siang begini. Tapi, saya sangat panik sekarang mbak. Tidak tahu lagi harus menghubungi siapa selain mbak Zia."
"Ada apa Santi? Kenapa kamu bisa sepanik ini? Ada masalah apa di kantor mas Rama?"
"Masalah besar sedang terjadi di kantor ini mbak. Para klien-klien besar sudah membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaan ini. Bukan hanya itu, penarikan saham yang mereka lakukan, berakibat pada ganti rugi dalam jumlah yang sangat besar. Saya sudah menghubungi pak Rama, tapi pak Rama tidak menjawab panggilan saya. Tolong saya mbak. Minta pak Rama datang ke kantor sekarang juga."
"Ya sudah. Saya akan bicara dengan mas Rama. Kamu tenang dulu ya."
"Baik mbak Zia. Terima kasih banyak atas waktunya. Saya tutup dulu panggilan ini."
"Iya."
__ADS_1
"Masalah sebesar ini sedang melanda kantor mas Rama. Tapi mas Rama sibuk dengan kehidupan barunya. Sungguh luar biasa," ucap Zia sambil melihat layar ponsel.
Ziana bangun dari duduk, lalu mencari keberadaan Rama. Ia masuk ke dalam rumah dan menemukan Rama yang baru keluar dari kamar utama.
"Mas Rama, aku ingin bicara."
"Bicara apa lagi? Aku tidak punya waktu jika kamu ingin bicara soal kehidupan kita yang sedang kacau saat ini. Tolong beri aku waktu untuk menenangkan pikiran agar aku tidak stres dengan semua yang telah terjadi."
"Bukan soal kita, tapi soal kamu dan perusahaan mu yang sedang berada di ambang kebangkrutan saat ini."
"Apa! Apa kamu bilang barusan? Jangan mengada-ada Zia. Aku tahu kamu tidak suka lagi padaku, tapi tolong, jangan mencoba membuat aku ketakutan seperti ini."
"Aku sarankan kamu lihat ponselmu sekarang juga, Mas. Nanti kamu akan tahu benar atau salah apa yang aku katakan," ucap Ziana, lalu beranjak pergi..
Rama mendengarkan apa yang Zia katakan. Ia segera menuju mobil untuk mengambil ponsel yang ia tinggalkan di sana.
"Ya Tuhan, Santi menghubungi aku puluhan kali. Ada apa ini?" tanya Rama sambil menghubungi Santi kembali.
"Ada apa Santi? Kenapa kamu menghubungi aku puluhan kali?"
"Pak Rama, sebaiknya pak Rama segera ke kantor. Saya tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi lewat ponsel."
"Baiklah kalo gitu. Saya akan ke sana segera."
"Baik pak Rama. Saya tunggu."
"Ya."
Rama bergegas menjalankan mobilnya menuju kantor setelah panggilan ia putuskan. Dengan perasaan penuh tanda tanya, ia melajukan mobil dengan cepat.
Sementara itu, Zia yang mendapat panggilan dari Restu, juga segera meninggalkan rumah. Restu meminta Zia segera ke kantor karena ada beberapa masalah yang tidak bisa ia selesaikan. Harus Zia sendiri yang turun tangan.
__ADS_1
Rama sampai ke kantor setelah beberapa menit menempuh perjalanan. Ia di sambut Santi dan beberapa staf pentingnya dengan wajah tidak enak dilihat.
"Akhirnya pak Rama datang juga," kata Santi saat melihat Rama mendekat.
"Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat panik sekarang?"
"Bagaimana kita tidak panik pak Rama. Karena kesalahan yang pak Rama buat tadi pagi, kita semua mendapatkan imbasnya," kata salah satu staf yang kesal dengan Rama.
"Apa maksud kamu?" tanya Rama tak kalah kesal.
"Sudah, kalian semua jangan memperkeruh keadaan. Biar aku sendiri yang bicara," kata Santi.
"Pak Rama, semua klien penting yang menjadi penyokong perusahaan kita sudah membatalkan kontrak kerja sama dengan kita."
"Apa! Kenapa bisa begitu?" tanya Rama dengan wajah sangat kaget juga panik.
"Semua ini terjadi karena kesalahan pak Rama tadi pagi. Pak Rama telah mengabaikan kepentingan perusahaan demi kepentingan pribadi," kata staf tersebut.
"Ya, pak Rama tidak memikirkan bagaimana nasib kita semua. Pak Rama hanya memikirkan keegoisan pak Rama saja," kata staf yang lain pula.
Rama diam tertunduk. Ia merasa tidak punya kata-kata untuk menjawab apa yang mereka tudingkan padanya. Karena kenyataannya, semua ini memang kesalahan Rama.
"Aku minta maaf pada kalian semua. Aku jani, kalian semua tidak akan merasakan akibat dari kesalahan yang aku perbuat."
"Pak Rama bicara terlalu enteng. Tapi kenyataannya jauh berbeda dari apa yang pak Rama katakan."
"Aku janji. Aku akan kembalikan keadaan perusahaan kita seperti semula. Kalian tenang saja."
"Baiklah. Kami pegang janji pak Rama. Jika Rama tidak berhasil mengembalikan perusahaan pada keadaan semual, maka jangan salahkan kami jika pak Rama akan berada dalam masalah besar."
Mereka membubarkan diri setelah mengancam Rama. Hanya Santi yang masih tetap bertahan sambil menatap Rama dengan tatapan kesal, tapi juga merasa kasihan.
__ADS_1