
"Oh, jadi ini perempuan yang bikin rusuh di sini."
Laila langsung menoleh ke samping, tempat di mana suara itu berasal. Di sana berdiri tegak seorang perempuan paruh baya dengan gaya yang elegan, cantik, juga dandanan yang agak glamor.
Laila menyipitkan matanya ketika melihat perempuan itu. Wajah perempuan itu rasanya tidak asing lagi bagi Laila. Ia seperti pernah melihat perempuan itu, tapi ia lupa di mana dan entah bila.
"Siapa kamu?" tanya Laila sangat penasaran.
"Aku, pemilik mall ini."
"Pemilik mall?"
"Ya. Mall ini punya aku. Kamu berani banget bikin rusuh di mall ini. Punya nyali yang sangat luar biasa, perempuan seperti kamu bikin rusuh di sini."
"Hei nyonya. Aku gak bikin rusuh, tau nggak. Aku itu cuma lupa bawa uang kes, sama lupa bawa kartu ATM yang lainnya. Sehingga, aku gak bisa bayar semua belanjaan yang aku beli. Terus, karyawan kamu yang gak punya sopan santun itu malah ngata-ngatain aku."
Saat Laila membuang pandangannya ke arah luar karena kesal, ia melihat Rama yang sedang bicara dengan salah satu satpam penjaga mall ini. Hatinya kini diliputi rasa bahagia karena merasa kalau dirinya akan mendapat perlindungan dari Rama.
Ia pun terpikir untuk melakukan sandiwara lagi di depan Rama. Agar Rama merasa simpati dan merasa bersalah kembali pada dirinya.
"Mas Rama! Tolong mas, mereka buli aku," ucap Laila lebih mirip berteriak seperti berada di tengah hutan, bukan mall.
Mendengar teriakan itu, Rama segera memutar arah mencari asal suara Laila. Saat ia melihat keberadaan Laila, Rama segera berjalan mendekat. Ia abaikan pandangan semua pengunjung mall yang menatap aneh pada dirinya. Karena teriakan Laila itu, membuat mereka berdua jadi pusat perhatian.
"Rama?" tanya Saras sambil memutar tubuh untuk melihat ke belakang.
Saat Saras melihat ke belakang, ia kaget bukan kepalang saat melihat Rama yang Laila panggil ternyata Rama yang ia kenal. Sama halnya dengan Rama, saat ia melihat Saras, kakinya enggan untuk melangkah. Seperti ada batu besar yang menindih kaki Rama sehingga sangat sulit untuk ia gerakkan.
Melihat Rama yang terhenti di tengah jalan, Laila berinisiatif untuk menyongsong Rama. Ia pun memeluk tubuh Rama ketika ia sudah sampai.
"Mas, tolong. Aku di buli mereka karena aku ingin beli baju yang aku suka. Mereka bilang, aku gak cocok belanja di tempat ini karena aku gak punya uang," ucap Laila dengan wajah sedih.
"Rama!"
__ADS_1
Bentakan keras itu membuat semua orang berada di sana terperanjat kaget. Rama semakin gemetaran, sedangkan Laila melepas pelukannya dari Rama.
"Ma--mama." Rama berucap dengan gelagapan.
Laila menatap Rama dengan tatapan bingung. Tatapan itu ia alihkan dari Rama ke Saras, lalu kembali ke Rama lagi.
"Mama?" tanya Laila dengan nada sangat bingung.
Saras berjalan mendekati Rama dan Laila.
Plaakkk ... sebuah tamparan keras mendarat ke pipi Rama. Pipi itu terasa hangat juga menyisakan warna kemerah-merahan.
"Lancang kamu Rama!" kata Saras sambil menatap Rama dengan tatapan tajam.
"Anda apa-apaan sih? Kenapa main tampar-tampar aja suami saya. Saya bisa tuntun anda dengan .... "
"Diam!" Rama membentak Laila. Seketika, Laila menghentikan kata-katanya, lalu, dengan tatapan tak percaya, dia menatap Rama.
"Mama, aku minta maaf. Aku salah dan aku tidak pantas menjelaskan semua kesalahan ini pada mama. Sekali lagi maaf, Ma. Aku harus pergi," kata Rama sambil menarik Laila untuk menjauh dari tempat itu.
Saras kaget bukan kepalang. Apa yang telah terjadi pada rumah tangga anaknya? Dia sedikitpun tidak tahu. Karena selama ini, tidak ada satu masalah pun yang ia dengar dari pernikahan Zia dan Rama selama usia pernikahan mereka.
"Ya Tuhan, Zia."
Hanya itu yang mampu Saras ucapkan sambil menarik napas panjang. Lalu melepaskan napas itu perlahan, untuk mengurangi rasa sakit juga kaget yang ia rasakan saat ini.
"Pak, antara kan aku ke rumah Zia sekarang juga," kata Saras pada sopir pribadinya.
"Baik nyonya, Saras." Mereka pun meninggalkan mall menuju rumah Zia.
Sementara itu, Zia yang berada di kantor, dapat kabar dari bik Imah, kalau mama mertuanya sedang berada di rumah. Bik Imah meminta Zia kembali ke rumah karena Sinta sedang marah-marah di sana.
"Baik, bik. Aku akan kembali sekarang," ucap Zia sambil bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Ada apa, mbak?" tanya Restu yang kebetulan berada di ruangan Zia.
"Ada masalah sedikit di rumah. Aku harus kembali ke rumah sebentar. Aku titip kantor padamu sebentar ya Res."
"Apa tidak sebaiknya aku ikut mbak Zia pulang aja, mbak?"
"Tidak usah. Kamu tetap di sini saja. Karena aku tidak ingin melibatkan kamu untuk urusan rumah tanggaku."
"Oh, ya udah deh kalo gitu. Mbak Zia harus hati-hati, ya. Jika ada masalah, langsung hubungi aku sesegera mungkin. Aku akan datang secepat kilat untuk membantu mbak."
"Iya-iya. Ya sudah, aku berangkat sekarang."
"Iya mbak. Hati-hati."
"Iya."
Ziana meninggalkan kantor. Ia kembali ke rumah untuk melihat kekacauan yang mama mertuanya buat. Sementara itu, Saras yang berangkat duluan menuju rumah Zia, dia sampai duluan sebelum Zia sampai ke rumahnya.
Melihat pintu rumah yang terbuka dengan kegaduhan yang terdengar jelas dari dalam rumah, Saras segera masuk ke dalam. Tanpa berpikir panjang atau memberi salam lagi sebelum masuk.
"Sinta!" Saras berteriak saat melihat Sinta yang sedang mengacak-acak rumah anaknya.
Sinta yang sedang memegang vas bunga, yang sedang bersiap-siap untuk membanting vas tersebut, menghentikan niatnya. Ia menoleh ke belakang untuk melihat Saras.
"Saras!"
"Ada apa ini, Sinta? Apa yang kamu lakukan, hah! Kenapa kamu merusak barang-barang anakku? Di mana anakku sekarang?" tanya Saras dengan tatapan tajam.
"Kebetulan kamu datang, Saras. Aku ingin katakan apa yang telah anak kamu lakukan pada anakku."
"Apa yang anak aku lakukan, hmm?" tanya Saras sambil berusaha menahan amarahnya.
"Asal kamu tahu, anak kamu itu telah berani-beraninya mengusir Rama anakku dari rumah ini. Apa dia tidak punya pikiran? Dia usir suaminya sendiri. Istri macam apa anak kamu itu, hah!" kata Sinta dengan suara tinggi.
__ADS_1
"Oh, ternyata anak aku itu adalah perempuan yang sangat pintar, ya Sin. Aku salut sama keberanian dan kepintaran yang anakku miliki," kata Saras sambil tersenyum.
"Apa maksud kamu, Saras? Kamu mendukung perbuatan tercela yang anak kamu miliki? Mama macam apa kamu ini?" tanya Sinta benar-benar sangat kesal.