
Baru juga Sinta ingin memutar arahnya untuk meninggalkan Laila. Tangan Laila dengan cepat menahan tubuh Sinta agar tidak benar-benar pergi meninggalkannya.
"Ada apa lagi?" tanya Sinta agak kesal sambil menatap Laila tajam.
"Mama Sinta, tolong aku. Tolong bebaskan aku dari tahanan ini. Aku akan lakukan semua yang mama Sinta inginkan jika mama Sinta berhasil membebaskan aku dari sini."
"Kamu yang benar aja kalo ngomong Laila. Gimana caranya aku membebaskan kamu, sedangkan, putusan pengadilan untuk kamu sudah jelas."
"Gimanapun caranya, mama Sinta harus menolong aku. Aku gak ingin terus berada di sini. Apalagi sampai dua puluh tahun, itu hukuman yang sangat lama. Aku ingin segera bebas dan segera memberikan pelajaran untuk mas Rama dan Zia."
"Kamu perempuan yang luar biasa ya Laila. Bukannya insyaf, eh, malah semakin brutal. Nanti akan aku pertimbangkan permohonan kamu barusan. Tapi untuk sekarang, aku harus pulang dulu."
Laila mengangguk tanpa menjawab dengan kata-kata apa yang Sinta katakan. Besar harapan dalam hati Laila saat ini, kalau Sinta berhasil membebaskan dirinya dari neraka dunia yang mengurungnya sekarang.
Sementara itu, sepasang pengantin baru sedang bersiap-siap ingin menuju ke luar negeri untuk mengunjungi kediaman keluarga Martin. Tempat tinggal keluarga pemilik saham terbesar di negara B.
Saat mereka ingin menaiki pesawat, tanpa sengaja, Zia bertabrakan dengan seorang laki-laki.
"Aduh, maaf-maaf, aku gak sengaja. Aku sedang buru-buru soalnya," kata laki-laki itu sambil membungkuk untuk mengambil paspor Zia yang terjatuh.
"Kamu gak papa sayang?" tanya Zein agak cemas.
"Gak kok, Zein."
__ADS_1
Mendengar nama dan suara yang sangat tidak asing lagi, laki-laki itu segera bangun dari bungkuknya. Ia melihat wajah Zia dan Zein yang sedang berada di depannya. Kaget! Itu adalah hal biasa saat bertemu dengan orang yang tidak ingin kita temui. Sama halnya dengan mereka bertiga sekarang.
"Zia? Zein?"
"Mas Rama? (Rama)," ucap Zein dan Zia tak percaya.
Ya, laki-laki yang tidak sengaja menabrak Zia barusan adalah Rama. Ia yang sedang terburu-buru ingin menaiki pesawat karena takut terlambat, tidak memperhatikan sekeliling saat berjalan. Hasilnya, ia menabrak Zia yang sama-sama ingin menaiki pesawat tersebut.
"Mau ke mana kamu?" tanya Zein kesal.
"Aku ... aku mau menjalankan kerja sama dengan perusahaan asing. Kalian .... "
"Mau bulan madu. Udah, ya. Kita lagi buru-buru. Takut ketinggalan pesawat jika lama-lama di sini," kata Zein sambil menarik tangan Zia.
Tiga puluh menit kemudian, pesawat meninggalkan bandara menuju kota B. Zia memilih tidur karena tidak ingin memikirkan apa yang baru saja terjadi. Sedangkan, Zein. Ia selalu waspada dengan keadaan sekeliling. Ia curiga pada Rama yang bisa-bisanya berangkat bersamaan dengan mereka.
Zein memilih tetap terjaga agar ia bisa terus menjaga Zia dari Rama, maupun dari semua kejahatan. Karena ia lihat, Zia tertidur dengan nyenyak sekarang.
Delapan belas jam waktu yang mereka tempuh dalam menuju tempat tujuan. Akhirnya, pesawat mendarat dengan selamat juga. Zein membangunkan Zia dengan sangat lembut agar tidak menyakiti Zia. Dengan cepat, Zia terbangun. Ia melihat sekeliling.
"Zein, apa kita sudah sampai?" tanya Zia sambil mengucek matanya pelan.
"Iya sayang, kita sudah sampai. Mendarat dengan selamat. Ayo turun! Mama dan papa udah nunggu kita sekarang."
__ADS_1
Zia mengikuti apa yang Zein katakan. Ia bangun dari duduknya untuk segera meninggalkan pesawat ini. Zein dengan cepat mengandeng Zia agar mereka berdua tidak terpisah di tengah keramaian.
Seperti yang Zein katakan tadi, saat mereka masih berada di dalam pesawat, kedua orang tua Zein sedang menantikan kedatangan anak menantu mereka dengan bahagia. Mama Zein langsung memberikan pelukan hangat pada Zein dan Zia secara bergantian.
"Ya Tuhan anak-anak mama. Akhirnya kalian sampai juga. Mama sangat cemas mendengar kabar penundaan keberangkatan kalian tadinya. Mama takut terjadi apa-apa dengan perjalanan kalian ke sini. Mana mama udah gak sabar lagi mau ajak kamu cantik, jalan-jalan dengan mama ke tempat-tempat pembelanjaan," kata mama Zein bicara panjang lebar pada Zein dan Zia.
"Harap maklum anak manis. Mama mertua kamu ini agak berbeda dengan perempuan kebanyakan," kata papa Zein sambil memberikan kode pada Zia. Yang entah apa maksud dari kode itu, Zia juga tidak tahu.
"Apa kamu bilang, Pa? Mama berbeda dengan perempuan pada umumnya. Hei ... papa kalo ngomong itu mulutnya dijaga ya, Pa. Jangan buat mama kesal, terus mama ngamuk di sini," kata mama Zein dengan wajah serius. Tapi pada kenyatannya, semua itu hanyalah candaan belaka.
"Eh, jangan-jangan. Gak malu apa kalo ngamuk-ngamuk di tempat umum. Apalagi ada menantu kita di sini. Mama harus jaga perasaan menantu kita dong, Ma."
"Ya habisnya, papa yang mulai. Papa yang mancing keributan."
"Mama, papa. Jika kalian terus bertengkar di sini, maka aku akan membawa istriku kembali ke tanah air sekarang juga."
"Lho, kamu kok gitu sih Zein. Gak boleh! Mama gak setuju."
"Habisnya, kalian berdua bertengkar melulu sejak tadi. Kalian membiarkan kami berdiri di sini menjadi penonton pertunjukan pertengkaran kalian berdua," kata Zein agak kesal.
"Maafkan mama dan papa cantik. Kami tidak bermaksud membuat kamu merasa risih dengan perdebatan kecil kami barusan. Kami hanya ingin kamu merasa nyaman berada dalam keluarga Martin," ucap papa Zein menjelaskan apa maksud dari perdebatan kecil barusan.
"Iya, cantik. Apa yang papa katakan itu benar. Kami hanya ingin kamu merasa betah bersama keluarga Martin. Karena keluarga Martin itu di kenal dengan keluarga penuh keseriusan di luar sana. Kami tidak ingin kamu juga menganggap kami sama seperti apa yang orang lain pikirkan tentang keluarga Martin," ucap mama Zein ikut menjelaskan.
__ADS_1
"Gak papa, Ma, Pa. Aku malahan sangat senang saat melihat kedekatan kalian berdua saat menyambut kedatangan aku dan Zein. Perdebatan kecil ini sangat mampu mengalihkan pikiranku untuk keluarga mama dan papa. Karena sama seperti yang mama katakan, aku juga punya pemikiran yang sama tentang keluarga Martin. Tapi, pemikiran itu sudah aku ubah saat melihat perdebatan kecil mama dan papa barusan," ucap Zia sambil tersenyum manis.