Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 81


__ADS_3

"Oh ya, aku hampir lupa menanyakan keadaan kamu. Maafkan aku yang tidak perhatian padamu, Restu. Katakan pada kami semua! Apa yang terjadi padamu?"


Restu terdiam sambil memikirkan apa yang Zia tanyakan. Ia mengingat kembali apa yang terjadi sore itu, saat di mana ia mengalami hal terburuk dalam hidupnya.


"Sore itu, aku datang ke rumah Sintya untuk mengajaknya kencan. Sebelumnya, aku menghubungi Sintya berkali-kali, tapi ia tidak menjawab panggilan dariku. Nomornya sibuk melulu. Aku tidak tidak ingin berpikir negatif karena aku sangat percaya padanya," kata Restu sambil tertunduk sedih.


"Lalu?" tanya Zein merasa penasaran karena Restu menjedakan ceritanya padahal belum selesai.


"Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung saja ke rumah Sintya meski tidak mendapat jawaban saat aku menghubunginya. Aku yakin kalau Sintya pasti berada di rumah sore-sore begini."


"Selang beberapa menit, aku sampai di rumah Sintya. Seperti yang aku duga, Sintya ada di rumah. Ia sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. Awalnya, aku ingin mengangetkan dia dengan masuk diam-diam ke dalam rumah. Tapi, niat itu aku batalkan saat aku mendengar apa yang dia bicarakan dengan kakaknya lewat telepon tersebut."


"Jadi, kamu mendengarkan apa yang ia bicarakan dengan Laila?" tanya Zia penasaran.


"Iya."


"Terus, kenapa bisa kamu kecelakaan separah ini?" tanya Zein pula.


"Sintya melihat aku, ia meminta aku untuk tidak membongkar semua rencananya. Aku tidak bisa melakukan semua itu. Meskipun aku cinta dia, tapi tetap saja, aku tidak bisa menjadi pengkhianat. Aku tidak mungkin menusuk dari belakang orang yang selama ini telah aku anggap sebagai kakak ku."


"Aku meninggalkan rumah Sintya, sedangkan Sintya terus saja mengejar aku dari belakang. Saat aku ingin menyebrang jalan menuju mobil, Sintya dengan sengaja mendorong aku pada sebuah mobil yang sedang melaju pelan. Hasilnya, aku terbentur mobil itu," kata Restu terlihat sangat sedih.


"Benar-benar perempuan tidak punya hati. Kenapa dia bisa melakukan semua ini padamu, Restu. Apakah dia benar-benar tidak punya hati?" tanya Zia sangat kesal.


"Aku tidak habis pikir, kenapa tangan dan kaki mu yang patah. Padahal, kamu hanya tertabrak mobil yang sedang berjalan pelan." Zein memikirkan kronologi kejadian dari apa yang Restu ceritakan.

__ADS_1


"Ya, harusnya aku tidak separah ini. Harusnya aku hanya mengalami luka ringan saja. Tapi sayangnya, Sintya tidak merasa puas dengan kecelakaan yang ia sebabkan. Sintya membawa aku ke dalam rumahnya. Ia memukul kaki dan tanganku hingga patah. Ia juga memukul kepalaku dengan keras. Aku masih sadarkan diri saat Sintya menyiksa aku waktu itu. Tapi, setelah beberapa kali pukulan di kepalaku, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Saat aku membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit."


"Sungguh perempuan yang tidak punya hati. Tega sekali dia melakukan itu pada pak Restu," kata Venty sambil menyeka air matanya.


"Ya. Benar-benar manusia berhati bina*tang," jawab karyawan yang lain pula.


"Maaf semuanya, pasien harus kembali ke rumah sakit karena pasien harus mendapatkan perawatan kembali," ucap suster yang berada di belakang Restu.


"Oh, baiklah kalo gitu, Sus. Kami akan ikut mengantar Restu ke rumah sakit," kata Zia.


"Kamu yakin sayang? Apa kamu tidak merasa lelah saat ini? Bukankah kita baru saja pulang dari luar negeri," kata Zein berbisik ke telinga Zia agar Restu tidak mendengarkannya.


"Gak papa, Zein. Aku gak capek kok. Kasihan Restu jika harus pulang ke rumah sakit hanya berdua dengan suster saja."


"Iya, aku janji akan pulang setelah ini."


Merekapun meninggalkan kantor menuju rumah sakit. Restu terlihat sedikit bahagia karena Zia bersedia mengantar dirinya kembali ke rumah sakit. Dengan kehadiran Zia bersamanya sekarang, Restu merasa kalo dirinya tidak sedang sendirian.


Sementara itu, Sintya kini sudah berada di kantor polisi. Ia memelas pada polisi untuk membebaskan dirinya. Tapi sayang, usahanya membujuk polisi tidak berhasil sama sekali.


Sintya di masukkan ke dalam sel yang sebelumnya terdapat Laila dan Riska di sana. Laila kaget bukan kepalang saat melihat adiknya di masukkan ke dalam penjara oleh polisi tersebut.


"Sintya! Sintya kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Laila dengan wajah sangat cemas.


"Ini semua karena Zia, mbak. Zia yang telah membuat aku tertangkap dan harus berada di sini sekarang. Mbak, tolong aku. Aku gak ingin terkurung di sini, mbak," kata Sintya dengan tangisan nya.

__ADS_1


"Tolong kamu? Yang benar aja kamu kalo ngomong. Kamu gak lihat apa, mbak kamu ini juga sedang berada di dalam penjara. Bagaimana bisa kamu minta tolong sama dia buat bebas? Dirinya sendiri aja tidak bisa ia bebaskan, apa lagi kamu," kata Riska jengkel.


"Diam kamu. Aku tidak bicara padamu, kenapa kamu yang malah berisik," kata Sintya kesal.


"Sin, apa yang dia katakan itu benar adanya. Mbak tidak bisa nolong kamu karena mbak juga berada di dalam tahanan, sama seperti kamu," kata Laila dengan nada putus asa.


Sintya terdiam. Ia menundukkan kepalanya sambil terus menangis. Perasaan kesal dan amarah semakin menguasai dirinya sekarang.


Sintya mengangkat kepalanya tegak. Ia menatap Laila dengan tatapan tajam.


"Mbak, kita harus balas dendam pada Zia. Semua ini karena dia. Kita harus buat dia membayar apa yang dia lakukan pada kita," kata Sintya sambil memegang kedua bahu kakaknya.


"He he he ... lucu sekali adikmu, Laila. Bicaranya seperti orang yang tidak punya pikiran saja," kata Riska sambil tertawa mengejek.


"Apa maksudmu ngomong aku tidak punya pikiran, hah! Kamu itu yang tidak punya pikiran. Mau aja terkurung di dalam sini," ucap Sintya benar-benar kesal pada Riska yang sedang duduk santai seperti tidak punya beban sama sekali.


"Hei, kalo ngomong itu gunakan otak. Mana ada orang yang mau berada di dalam sini. Semua orang yang berada di dalam sel ini ingin bebas anak ingusan. Tapi sayangnya, tidak ada yang bisa kita lakukan selain pasrah dan menerima kenyataan kalau kita harus terkurung di dalam tahanan ini sampai waktu yang di tentukan."


"Heh, ternyata bukan aku yang tidak punya pikiran. Tapi kamu yang tidak punya pikiran, m" kata Sintya mengejek Riska balik.


Ejekan itu mampu memancing emosi Riska. Ia yang awalnya duduk santai, sekarang bangun untuk menghampiri Sintya.


"Kamu ngomong apa barusan? Kamu berani sekali," kata Riska dengan tatapan tajam pada Sintya.


"Eh, sudah-sudah. Kalian berdua ini apa-apaan sih. Kenapa malah berdebat, bukannya ngomong baik-baik. Cari solusi yang tepat, apa yang harus kita lakukan. Kita bertiga itu punya nasib yang sama sekarang. Jadi tolong, jangan bertengkar. Kita harus berdamai dan bekerja sama," kata Laila menjadi penengah dengan memisahkan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2