Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 34


__ADS_3

Rama datang ke kantor Zia, untuk membicarakan soal bantuan yang akan Zia berikan padanya. Ia di sambut dengan wajah masam oleh Restu di depan pintu masuk.


"Restu, apakah Ziana ada di ruangannya?" tanya Rama saat melihat Restu.


"Ada. Tapi maaf, mbak Zia tidak bisa diganggu sekarang. Dia sedang sibuk," ucap Restu dengan nada jengkel.


"Sesibuk apa sih Zia sekarang, sampai aku tidak bisa bertemu dengannya?"


"Sibuk ... ya sibuk banget, pak Restu."


"Ada apa Res?" tanya Zia yang tiba-tiba muncul dari dalam kantor.


"Zi." Rama memutar tubuhnya untuk melihat Ziana.


"Mas Rama?"


"Ada ... ada apa mas Rama datang ke kantor aku?" tanya Ziana lagi.


"Aku datang untuk bicara sama kamu."


"Ya sudah kalo gitu, kita bicara di ruangan aku saja."


"Iya."


Ziana beranjak dari tempatnya diikuti Rama dari belakang. Melihat hal itu, Restu merasa tidak senang. Ia tidak ingin melihat Ziana sedih kembali. Ia ingin mengikuti Zia dan Rama. Namun ia ingat, kalau dirinya tidak berhak ikut campur semua urusan Zia. Apalagi itu urusan rumah tangga Ziana.


Sementara itu, Laila sedang menuju rumah Sinta. Ia ingin membicarakan semua yang telah terjadi pada mama mertuanya. Ia juga ingin meminta pendapat sekaligus bantuan pada Sinta.


Laila menaiki ojek online untuk ke rumah Sinta. Tidak butuh waktu lama, ia pun sampai ke rumah mama mertuanya itu. Karena jarak antara rumah lamanya dengan rumah Sinta, memang tidak terlalu jauh.


Laila mengetuk pintu rumah Sinta. Kebetulan, saat itu Sinta sedang duduk di ruang tamu sendirian. Ketika mendengar ketukan di pintu, Sinta segera bangun dari duduknya.


"Sebentar," ucap Sinta sambil menuju pintu.


Sinta membuka pintu tersebut. Saat melihat Laila yang berdiri tegak, Sinta menatap Laila dengan tatapan aneh.


"Sinta?"


"Mama."

__ADS_1


"Tumben kamu datang ke sini? Ada apa?"


"Ada yang ingin aku bicarakan sama mama."


"Mau bicara apa? Katakan saja!"


"Gak ajak aku masuk dulu?" tanya Laila agak kesal.


"Oh ya, silahkan masuk," kata Sinta dengan wajah acuh tak acuh.


Laila masuk mengikuti Sinta yang berjalan duluan.


"Silahkan duduk!" kata Sinta mempersilahkan duluan sebelum Laila bicara lagi.


"Makasih mama."


"Hmm ... jadi, kamu mau bicara apa? Mama sedang banyak pikiran sekarang. Mama harap, kamu gak bertele-tele jika ingin bicara sama mama."


"Hmm ... aku ingin bicara soal mas Rama dan istri pertamanya, Ma."


"Aduh, ada apa lagi dengan suami dan madu kamu itu, Laila? Ada masalah apa lagi sih? Bukankah seharusnya kamu sudah bahagia? Karenakan, kamu dan Rama udah tinggal satu rumah sekarang."


"Ha, tapi apa?"


"Kami sudah tidak tinggal di rumah besar mas Rama lagi sekarang. Aku dan mas Rama sudah pindah ke rumah lama yang sebelumnya aku tinggali."


"Maksud kamu?" tanya Sinta agak kaget sambil membenarkan posisi duduknya.


"Ma, Ziana telah mengusir aku dan mas Rama dari rumah itu. Dia bilang, itu rumahnya. Dia tidak ingin kami tinggal satu rumah dengan dia."


"Apa! Zia ngusir Rama dari rumah itu? Tidak mungkin. Kamu yang benar aja kalo ngomong Laila."


"Ya, Ma. Aku ngomong yang sebenarnya. Zia ngusir aku dan mas Rama dari rumah itu. Dia tidak rela kalau aku dan mas Rama tinggal di rumahnya. Untuk itulah aku datang ke rumah mama sekarang. Aku ingin mama membantu aku melawan istri pertama mas Rama, Ma."


'Aduh, kenapa jadi rumit begini sih? Aku baru aja merasa bahagia dengan apa yang baru terjadi dengan keluarga Rama. Eh, malah harus mikir lagi sekarang,' kata Sinta dalam hati.


"Ma." Laila memanggil Sinta untuk menyadarkan Sinta dari lamunannya.


"Eh, iya. Ada apa?"

__ADS_1


"Mama kok malah bengong sih? Bukannya tolong aku mikir apa yang harus aku lakukan untuk membalas perbuatan istri pertama mas Rama itu."


"Ini mama juga lagi mikir. Eh kamu malah gangguin mama yang sedang fokus sama pikiran mama."


"Hmm ... berani banget Zia ngusir Rama dari rumah itu," kata Sinta sambil bangun dari duduknya.


"Ya jelas beranilah, Ma. Orang dia bilang kalo itu rumahnya," kata Laila.


"Iya sih. Itu memang rumah dia. Neneknya yang pilih rumah itu," kata Sinta membenarkan apa yang Laila katakan.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang, Ma? Apa kita akan membiarkan saja apa yang Zia lakukan sama kita?"


"Ya nggak dong, La. Kita gak mungkin membiarkan Zia merasa menang dengan apa yang baru saja ia lakukan. Dia sudah berhasil membuang anak aku dari rumah itu, maka dia akan terima akibatnya."


"Katakan padaku apa yang harus kita lakukan sekarang, Ma. Aku sudah tidak sabar lagi untuk membalas perempuan itu."


"Sabar. Berikan mama waktu untuk berpikir. Karena saat ini, mama belum tahu apa yang harus mama lakukan untuk membalas Zia."


"Hm, sebaiknya kamu pulang saja dulu. Nanti akan mama katakan jika mama punya ide balas dendam pada Zia," kata Sinta lagi.


"Mama usir aku?" tanya Laila tidak suka.


"Nggak sih. Mama hanya ingin sendiri. Mama butuh ketenangan untuk berpikir."


"Ya sudah kalo gitu. Aku akan pulang sekarang. Mama jangan lupa kabari aku jika punya ide bagus buat balas perempuan itu."


"Iya. Mama akan kabari kamu secepatnya, jika mama punya ide bagus."


Laila pun memutuskan untuk beranjak meninggalkan rumah Sinta. Meskipun hatinya agak kesal dengan Sinta, tapi ia memilih mengabaikan rasa kesal itu. Karena ia yakin, cuma Sinta yang bisa membantu dirinya dalan melawan Ziana.


Dalam kekesalan itu, tiba-tiba Laila tersenyum manis saat ia melihat tasnya. Di sana, ia menemukan kartu ATM yang Rama berikan padanya kemarin.


"Iya, aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Dari pada pusing mikirin masalah yang ada, mending aku belanja. Dengan begitu, aku bisa melupakan masalah yang aku hadapi. Ya, walaupun hanya untuk beberapa saat," kata Laila pada dirinya sendiri.


Sambil tersenyum manis, ia meminta sopir taksi online itu menuju mall terdekat. Ia ingin melepaskan kegundahannya dengan berbelanja barang-barang yang ia inginkan.


Sementara itu, Rama dan Zia sedang membicarakan soal bantuan yang akan Zia berikan untuk menolong perusahaan Rama dari kebangkrutan.


"Zi, aku mohon tolong percepat bantuan yang sudah kamu janjikan padaku kemarin. Karena, perusahaan ku tidak bisa menunggu lama lagi."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan berikan pinjaman itu sekarang padamu. Tapi kamu harus tanda tangan surat perjanjian ini dulu," kata Zia sambil menyodorkan sebuah surat perjanjian yang baru ia keluarkan dari laci mejanya.


__ADS_2