
Laila berhasil mendapatkan apa yang Riska inginkan. Biodata semua petugas kebersihan kini semuanya sudah ada dalam genggaman Laila. Sekarang, tinggal ia serahkan saja biodata itu pada Riska.
Entah apa gunanya Riska menginginkan biodata petugas kebersihan, Laila juga tidak tahu. Yang jelas, Laila hanya berharap kalau apa yang ia lakukan sekarang tidak akan sia-sia lagi.
Laila sedang menunggu Riska di cafe untuk menyerahkan biodata tersebut. Sambil menikmati segelas jus, ia melemparkan pandangan ke seluruh penjuru cafe. Tanpa sengaja, ia melihat ke arah luar, di sana, Zia dan Zein sedang berjalan beriringan menuju pintu masuk.
"Zia. Sama siapa dia? Apa itu cowok barunya? Aku kok seperti pernah melihat laki-laki ini, ya. Tapi di mana?" tanya Laila berusaha mengingat di mana ia pernah melihat laki-laki tersebut.
Laila membatalkan niat untuk mengingat di mana ia pernah melihat laki-laki yang sedang bersama Zia, saat laki-laki itu tersenyum. Hati Laila tiba-tiba luluh dengan senyuman manis itu.
"Ya ampun, manis sekali senyumannya. Ini lebih manis dari gula kayaknya," ucap Laila seperti sedang meleleh akibat senyuman dari bibir Zein yang indah.
"Hei, lo ngapain kayak orang gak makan tiga hari aja," kata Riska yang baru datang lalu langsung melihat Laila seperti orang lemas.
"Kamu itu bisa gak ganggu aku gak, hah. Kamu gak lihat aku lagi bahagia seperti ini, eh malah kamu bilang gak makan tiga hari," ucap Laila kesal.
"Habisnya, lo kelihatan lemah amat."
"Aku gak lemah, tapi bahagia."
"Bahagia? Emang ada ya orang bahagia seperti yang lo lakukan barusan? Kayak balon kehabisan gas aja."
"Kamu ... ah, bikin kesal aja padahal aku baru aja bahagia."
"Udah, gue gak akan ganggu kebahagiaan lo lagi nanti. Ayo cepat berikan biodata yang gue inginkan!"
Laila membuka tasnya, lalu mengeluarkan flash disk yang ia dapatkan entah bagaimana caranya, yang jelas, ia berhasil mendapatkan apa yang ia mau. Laila ingin menyerahkan flash disk itu pada Riska, namun, ia membatalkan niatnya.
"Tunggu! Aku penasaran dengan biodata petugas kebersihan ini. Kamu ingin gunakan untuk apa sih biodata mereka?" tanya Laila penasaran.
"Aku ingin gunakan salah satu biodata mereka agar aku bisa masuk ke dalam perusahaan Zia dengan menyamar menjadi salah satu petugas kebersihan di sana."
__ADS_1
"Ha ha ha ... gila. Lucu banget ide kamu, Riska. Mau nyamar tapi nyamar dengan pangkat yang paling rendah. Kalo kamu mau nyuri identitas salah satu pegawai Zia, ngapain kamu harus nyuri yang pangkatnya rendah. Curi aja tuh yang pangkatnya staf, atau paling bagus, manajer," kata Laila sambil terus tertawa.
"Lo punya otak itu dipakai deh. Yang benar aja kalo mau nyuri identitas. Jika pangkat mereka tinggi, otomatis, identitas mereka gak akan bisa dicuri. Karena mereka adalah karyawan terkenal. Tapi, kalau petugas kebersihan, tidak. Mereka tidak di kenal karena mereka tidak menduduki meja seperti para staf dan manajer."
"Kamu benar juga Riska. Karyawan tingkat tinggi gak akan bisa kita manfaatkan. Tapi, karyawan pangkat rendah memudahkan kita untuk mencuri identitas mereka."
"Iya, itu kalau kantor tempat mereka bekerja tidak teliti sih sebenarnya," ucap Riska bicara dengan suara kecil.
"Maksud kamu?" tanya Laila penasaran.
"Ah sudah, jangan dibahas lagi. Berikan flash disk itu agar aku segera melakukan tugasku!"
"Baiklah, ini," kata Laila sambil mengulurkan flash disk ke tangan Laila.
"Ingat! Harus berhasil," ucap Laila lagi.
"Lihat saja nanti," kata Riska sambil menerima flash disk tersebut.
Riska ingin beranjak meninggalkan Laila, namun Laila menahan langkat Riska dengan cepat.
"Tunggu!"
"Ada apa lagi?" tanya Riska bingung.
"Sebaiknya kamu keluar dari pintu samping. Pintu di mana kamu masuk tadi."
"Kenapa memangnya? Apa ada yang salah jika gue keluar dari pintu utama?"
"Di depan ada Zia bersama seorang laki-laki tampan. Aku sarankan kamu mendengarkan apa yang aku katakan. Jika tidak, Zia pasti melihat kamu."
"Laki-laki tampan? Di mana dia?" tanya Riska penasaran.
__ADS_1
"Itu." Laila mengarahkan bibirnya untuk memberi tahu Riska di mana Zia dan laki-laki yang ia katakan. Dengan cepat, Riska melihat ke arah yang Laila maksudkan.
"Aku heran deh sama tuh perempuan, ada aja laki-laki yang mau dekat-dekat sama dia. Laki-lakinya ganteng-ganteng pula," kata Laila bergumam pelan sambil membuka tasnya kembali.
"Zein." Riska menyebut nama Zein dengan suara pelan.
"Siapa? Kamu panggil siapa barusan, Riska?"
"Zein." Riska berucap sedih sambil terus menatap Zein dan Zia yang sedang ngobrol sambil menikmati minuman mereka.
"Kamu kenal dengan laki-laki itu?" tanya Laila sangat antusias.
"Ya, dia sahabat aku."
"Oh, jadi dia sahabat kamu yang waktu itu? Pantas saja aku sepertinya pernah melihat laki-laki tampan itu. Ternyata dia sahabat kamu."
"Tampan banget ya sahabat kamu? Kalau dia sahabat aku, udah aku ubah status kami dari sahabat jadi cinta sejati. Karena, aku yakin, mencintai sahabat sendiri itu lebih indah rasanya," ucap Laila berusaha menyiram minyak dalam kobaran api. Tentu saja akan semakin menambah besar kobaran tersebut.
Begitu juga dengan perasaan yang Riska rasakan saat ini. Ia semakin kesal dan benci pada Zein dan Zia.
"Aku harus pergi sekarang. Aku harus segera melakukan apa yang harus aku lakukan," kata Riska beranjak dari tempatnya.
"Iya. Hati-hati ya."
Laila tersenyum melihat Riska yang berjalan meninggalkannya. Dari wajah Riska, ia bisa melihat kalau niatnya membakar daun kering ternyata berhasil.
"Uh, aku yakin kalau kamu sekarang pasti sedang sangat sedih juga kecewa, Riska. Melihat sahabat baik kamu sedang bersama perempuan lain, dan sahabat baik kamu itu mengabaikan kamu. Aku juga yakin, kalau kamu pasti punya harapan yang melebihi sahabat pada laki-laki itu. Dari tatapan matamu, aku bisa melihat dengan jelas kalau kamu menaruh hati pada sahabatmu itu," kata Laila sambil tersenyum bahagia.
"Aku akan terus pancing kemarahan mu pada Zia. Aku yakin, dengan begitu, aku akan bisa memanfaatkan kemarahan itu untuk menyakiti Zia, tanpa harus aku sendiri yang bertindak," kata Laila lagi.
"Sedangkan untuk kamu Zia, aku akan rebut semua yang kamu punya. Kamu lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu selanjutnya," kata Laila sambil menatap Zia yang sedang ngobrol dengan Zein.
__ADS_1