Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 51


__ADS_3

Riska menunggu kepulangan Zein dengan perasaan tidak sabar lagi. Ia ingin segera bertemu dengan Zein untuk menyampaikan berita soal Zia.


Setelah menunggu beberapa saat, barulah Zein pulang ke apartemen. Saat Riska melihat Zein berjalan mendekat, ia segera menyongsong Zein agar dia dan Zein cepat bertemu.


"Riska. Tumben kamu datang ke sini? Ada apa?" tanya Zein saat melihat Riska yang menghampirinya.


"Ada yang ingin gue bicarakan pada lo, Zein. Ini soal Zia," kata Riska langsung pada intinya.


"Soal Zia? Ada apa dengan Zia, Ris?" tanya Zein penasaran.


"Zein, sebaiknya lo jauhi Zia mulai dari sekarang. Gue gak ingin lo dapat masalah karena dia."


"Lho, ada apa sebenarnya. Kenapa gue harus jauhi dia? Masalah apa yang bisa ia timbulkan jika gue dekat sama dia, Riska? Lo ada-ada aja deh," kata Zein bicara sambil geleng-geleng kepalanya.


"Gue serius Zein. Zia itu biang masalah. Apa. lo tau kalo dia itu janda. Jadi .... "


"Oh, lo ingin gue jauhi Zia hanya karena dia seorang janda ya, Ris?" tanya Zein santai.


"Lo ... lo kok tenang gitu saat tahu Zia janda. Apa lo gak kaget sama sekali dengan kabar yang gue bawakan untuk lo ini, Zein?"


"Tunggu! Jangan bilang lo udah tahu siapa Zia yang sesungguhnya sejak kemarin ya Zein," kata Riska lagi.


"Riska, sudahlah, kenapa setiap kali bertemu kita selalu membahas soal Zia saja. Apa tidak ada pokok pembahasan yang lain saja yang ingin kita berdua bahas hm ....?"

__ADS_1


"Jawab dulu apa yang gue tanyakan, Zein! Apa lo udah tahu sejak awal kalo Zia itu bukan gadis melainkan janda?"


Zein terdiam. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab apa yang Riska tanyakan. Ia hanya menatap Riska dengan tatapan penuh tanda tanya.


Merasa Zein mengabaikan apa yang ia tanyakan. Riska semakin kesal dan sakit hati. Ia menatap Zein dengan tatapan tajam, lalu mengulangi pertanyaannya kembali.


"Zein, jawab gue! Apa lo udah tahu kalo Zia itu janda!"


Kali ini, Riska bertanya dengan nada tinggi, membuat Zein tidak punya pilihan lain selain menjawab apa yang ia tanyakan.


"Ya, gue tahu siapa Zia sejak awal. Gue tahu dia janda sejak gue dan dia baru-baru bertemu. Gue udah tahu siapa dia." Zein menjelaskan dengan nada lemah.


"Jadi, lo udah tahu dia janda tapi lo masih mau deketin dia? Lo juga ngejar-ngejar dia saat lo tahu kalo dia janda. Lo gak punya ot*ak banget ya Zein. Masa lo mau sama janda sedangkan yang gadis masih banyak di luar sana yang mau sama lo."


"Lo itu masih bujangan Zein. Masih belum pernah merasakan bagaimana pernikahan. Yang benar aja lo sukanya sama janda."


"Riska. Gue merasa lo itu aneh tau gak. Gue bingung dengan apa yang lo bicarakan. Lo melarang gue suka sama janda, padahal, suka sama janda itu wajar. Masih banyak anak bujangan di luar sana yang menikah dengan janda dan hidup mereka bahagia."


"Lo yang aneh Zein. Sejak lo kenal sama Zia, lo jauh berubah. Lo kayak bukan sahabat gue lagi tau gak. Lo kayak orang asing yang gue sendiri belum pernah kenal sama lo."


"Seharusnya gue yang ngomong gitu, Riska. Lo aneh sejak gue kenal Zia. Dan bukan hanya Zia, lo selalu bersikap aneh saat gue dekat dengan perempuan manapun. Gue jadi bingung sama lo tau gak. Gue jadi mikir satu hal jika ingat sikap lo sama gue jika gue dekat sama perempuan lain. Gue jadi mikir, lo itu sahabat gue atau istri gue sih sebenarnya?"


Saat itu, mental Riska beku. Ia tidak punya kata-kata untuk melawan apa yang Zein ucapkan. Ia hanya mampu terdiam mematung dengan satu kalimat tersebut.

__ADS_1


"Gue kecewa sama lo, Ris. Harusnya lo dukung gue, karena lo sahabat gue sejak kecil. Bukan malah bikin perasaan gue jadi kecewa seperti ini," kata Zein sebelum ia beranjak meninggalkan Riska di depan pintu apartemennya.


Zein langsung menutup pintu apartemen tanpa menghiraukan Riska yang masih berdiri di depan pintu tersebut. Karena rasa kecewa pada Riska, ia mengabaikan Riska sekarang.


Riska tidak bisa berkata apa-apa untuk menahan Zein. Hanya air mata yang jatuh perlahan mengiringi kesendiriannya karena Zein meninggalkannya di sini.


'Zein, seandainya lo sedikit saja peka pada apa yang terjadi anatar lo dan gue, mungkin hubungan kita tidak akan seperti ini. Sayangnya, lo tidak sedikitpun punya kepekaan pada gue. Lo selalu anggap gue sahabat lo. Itu saja, tidak pernah lebih dari kata sahabat,' kata Riska dalam hati sambil terus menangis.


Tiba-tiba, kata-kata yang Laila ucapkan memenuhi memori Riska. Kata-kata itu mengubah kesedihan menjadi kebencian yang semakin kuat saja.


"Tidak. Ini bukan salah Zein. Tapi salah Zia. Seperti yang Laila katakan, Zia bukanlah perempuan baik-baik. Dia pasti sudah mencuci otak Zein sebersih mungkin. Sehingga Zein tidak sedikitpun mau mendengarkan kata-kata yang gue ucapkan. Tunggu saja lo Zia, akan gue buat lo menderita. Lebih dari penderitaan yang gue rasakan saat ini," kata Riska bicara pada dirinya sendiri sambil menggenggam erat tangannya.


Sementara itu, di sisi lain, Laila sedang duduk manis bersama Sinta. Mereka berdua sedang membicarakan rencana besar yang sedang mereka jalankan. Rencana yang sudah mereka susun dengan sangat matang. Hanya menunggu beberapa langkah saja lagi, mereka akan menjalankan rencana tersebut.


"La, bagaimana jika perempuan sombong itu masih tidak mau kita ajak bekerja sama hm? Apa kamu masih akan berusaha membujuknya sampai dia mau?" tanya Sinta agak khawatir.


"Mama Sinta tenang aja. Jangan panggil aku Laila jika tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Mama lihat saja, apa yang aku kerjakan tidak akan pernah sia-sia. Sebentar lagi, perempuan sombong itu pasti akan menghubungi aku. Dia sendiri yang datang pada kita untuk bekerja dama. Lihat saja," kata Laila dengan percaya diri yang luar biasa.


Benar saja apa yang ia katakan. Setelah selesai bicara, ponsel Laila tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan masuk ke ponselnya. Laila melihat ponsel tersebut dengan cepat.


"Siapa?" tanya Sinta penasaran.


"Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Pion catur kita sudah datang sekarang."

__ADS_1


Sinta paham apa maksud dari kata-kata yang Laila ucapkan barusan. Ia tersenyum penuh kemenangan, lalu memerintahkan Laila untuk segera mengangkat panggilan dari Riska tersebut.


__ADS_2