Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 70


__ADS_3

"Bukankah kamu sudah tahu apa statusku Zein. Aku gak ingin orang tuamu menentang hubungan kita nantinya, karena statusku ini," ucap Zia sambil menundukkan kepalanya dengan sedih.


"Zia. Hei ... jangan pikirkan soal itu dulu. Yang terpenting adalah, kamu terima aku atau tidak. Urusan restu belakangan," kata Zein meyakinkan.


"Tidak bisa Zein. Aku dan kamu itu terlahir dari orang tua. Kita tidak bisa menjalankan hubungan jika orang tua tidak merestui. Jika aku sudah menerima kamu sebagai imam ku, otomatis, hati ini berharap banyak dengan kamu. Bagaimana jika orang tuamu tidak setuju dengan hubungan ini? Aku tidak sanggup jika harus kehilangan lagi, Zein."


"Ternyata Restu benar. Kamu adalah orang yang selalu memikirkan semua kemungkinan yang akan kamu tempuh ke depannya."


"Apa? Restu?" tanya Zia sambil mengangkat satu alisnya.


"Yah, Restu. Tapi, kamu jangan salahkan dia untuk semua yang aku ketahui tentang kamu dari dia. Karena aku yang memaksa Restu untuk mengatakan semua tentang kamu padaku. Hmm ... tidak semuanya sih, hanya sebagian saja," kata Zein sambil terus menatap Zia dengan posisinya tadi.


"Zia, lupakan saja semua itu. Sekarang, aku ingin kamu jawab pertanyaan aku. Maukah kamu menikah denganku Ziana?" tanya Zein kembali mengulangi pertanyaannya.


"Jika kamu ingin tahu jawaban dari pertanyaan itu, maka kamu tanyakan dulu pada orang tuamu, apakah dia bersedia memiliki menantu seorang janda atau tidak," kata Zia menjawab dengan mantap.


"Bagaimana jika mereka bersedia, Ziana? Apa kamu akan menerima lamaran aku jika orang tuaku bersedia memiliki menantu seorang janda?"


"Aku ... aku akan pikirkan nanti. Setelah kamu menanyakan pertanyaan itu pada orang tuamu."


"Bagaimana jika setelah aku tanyakan, dan mereka bersedia, namun kamu nya yang malah tidak bersedia? Zia, ayolah jawab pertanyaan ku sekarang. Jangan buat aku menunggu lama. Maaf jika aku terkesan memaksa. Sama seperti dirimu, aku juga butuh kejelasan."


"Aku takut Zein."


"Takut apa Zia? Katakan padaku apa yang membuat kamu merasa takut!"


"Aku takut patah hati dan kecewa lagi."

__ADS_1


"Zia, aku tidak bisa menjamin semua itu. Tapi, aku berusaha sekuat tenagaku, kalau aku tidak akan mengecewakan kamu. Bagaimanapun caranya," kata Zein mantap.


"Apakah aku bisa mempercayai apa yang kamu katakan, Zein?"


"Kamu bisa mempercayainya. Kalau aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu. Aku juga berjanji tidak akan mengecewakan kamu hari ini, esok, dan selama aku bernapas."


"Baiklah. Aku percaya apa yang kamu katakan."


"Jadi ... apa kamu mau menikah denganku?" tanya Zein mengulangi sekali lagi pertanyaannya.


"Iya." Zia menjawab sambil menganggukkan kepalanya.


"Be--benarkah?" tanya Zein meyakinkan dirinya lagi.


Kali ini, Zia hanya menganggukkan kepalanya. Zein yang melihat hal itu, langsung bangun dari berlutut, kemudian langsung memeluk Zia dengan erat.


Zia menanggapi apa yang Zein katakan dengan senyum manis. Meskipun Zein tidak melihat senyumnya itu, tapi tetap saja, Zia merasa sangat bahagia dengan apa yang ia alami saat ini.


Mereka berpelukan untuk beberapa saat. Pelukan itu berakhir setelah Zein ingat kalau cincin belum ia pasangkan ke jari Zia. Bunga yang ia genggam sejak pertama masuk ke restoran ini, juga masih ada di tangannya.


"Cincin ini sangat cocok di jari manis mu Zia. Terlihat sangat pas, seperti dibuat memang untuk kamu," kata Zein setelah memasang cincin ke jari Zia.


"Kamu bisa aja. Tahu dari mana kamu ukuran jadi manis ku?" tanya Zia memasang wajah pura-pura kesal.


"Oh itu rahasia. Ini," ucap Zein sambil menyerahkan bunga pada Zia.


"Terima kasih," kata Zia sambil menerima bunga tersebut.

__ADS_1


"Kita akan menikah minggu depan, tapi sebelum itu, aku akan pulang ke luar negeri terlebih dahulu."


"Apa! Minggu depan? Kamu yang benar aja kalo ngomong Zein. Jangan permainkan aku. Bagaimana jika orang tuamu tidak setuju dengan ide kamu untuk menikah denganku."


"Zia. Kamu tenang saja oke. Mama dan papa sudah memberikan restu mereka padaku. Kamu tidak perlu cemas lagi."


"Maksud kamu?"


"Aku sudah menanyakan bagaimana pendapat mereka jika aku menikah dengan kamu. Awalnya, aku tidak mengatakan kalau kamu janda. Tapi, papa tahu siapa kamu, dia juga tahu apa status kamu. Aku tidak perlu mengungkapkan lagi apa statusmu karena orang tuaku sudah tahu. Dan kabar baiknya adalah, papa dan mama tidak keberatan dengan status. Karena yang terpenting bagi mereka adalah, aku bahagia. Siapapun yang akan jadi istriku, itu terserah padaku."


"Benarkah apa yang aku dengar? Apakah kamu tidak bercanda dengan apa yang kamu katakan padaku ini Zein?" tanya Zia berkaca-kaca.


"Untuk apa aku bohong Zia? Ini masalah masa depan. Tidak ada kebohongan yang boleh diucapkan untuk menata masa depan," kata Zein dengan wajah serius tanpa ada senyum sedikitpun.


"Zein." Zia menatap Zein dengan mata berkaca-kaca. Lalu kemudian, air mata itu tidak mampu ia bendung lagi. Dengan tangisan bahagia, Zia menghambur ke dalam pelukan Zein. Zein menyambut Zia dengan penuh kasih sayang. Dekapan hangat pun mereka rasakan untuk beberapa saat.


______


Hari ini, Zein kembali dari luar negeri bersama kedua orang tuanya. Seperti yang ia janjikan beberapa hari yang lalu, sebelum ia berangkat keluar negeri, ia akan datang bersama mama dan papanya ke rumah orang tua Zia untuk membicarakan prihal pernikahan antara Zia dan Zein. Sekarang, Zein benar-benar datang ke rumah orang tua Zia.


Setelah mereka sampai di bandara, Zein langsung meminta mereka mendatangi rumah orang tua Zia tanpa istirahat terlebih dahulu. Zein bilang, nanti akan istirahat di rumah orang tua Zia saja.


Melihat Zein yang begitu bersemangat, mama dan papanya tidak bisa menolak apa yang Zein katakan. Merekapun langsung menuju rumah orang tua Zia setelah sampai di tanah air.


Kedua orang tua Zia, ternyata juga sedang tidak sabar menantikan kehadiran calon besan mereka. Terlihat dari persiapan yang mereka lakukan, juga kegelisahan mereka dalam menunggu kedatangan orang tua Zein.


Papa Zia tidak tenang duduk. Ia terus mondar-mandir di ruang tamu sambil sesekali melihat pintu rumahnya. Saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, papa Zia langsung bergegas membuka pintu tanpa perduli kebiasaan rumah mereka lagi. Biasanya, jika ada tamu yang datang, si bibi yang akan membuka pintu. Tapi kali ini tidak. Papa sendiri yang turun tangan.

__ADS_1


Papa langsung menyambut orang tua Zein. Mengajak mereka masuk ke dalam dengan sangat ramah. Tanggapan dari orang tua Zein juga tak kalah mengharukan. Kedua orang tua Zein dan Zia seperti orang yang sudah mengenal lama. Padahal kenyataannya, mereka baru pertama kali bertemu.


__ADS_2