
Rama menyipitkan matanya mendengar perkataan Zia barusan. Lalu, ia melihat surat perjanjian yang ada di depannya saat ini.
"Surat perjanjian?" tanya Rama sambil mengambil surat itu.
"Ya, Mas." Zia menjawab singkat.
"Kenapa harus pakai surat perjanjian segala sih, Zi? Kamu gak percaya ya sama aku?"
"Hm ... kepercayaan itu adalah hal paling berharga dalam hidup kita, mas. Sekali ia rusak, kamu tidak akan bisa mengembalikannya lagi. Ibarat kaca, jika sudah kamu pecahkan, gak mungkin bisa kamu satukan kembali."
"Cukup. Aku mengerti apa yang kamu maksudkan."
"Kalo gitu, tanda tangani surat perjanjian itu sekarang, maka aku akan berikan pinjaman yang kamu butuhkan," ucap Zia sambil menatap Rama.
"Izinkan aku membaca surat perjanjian ini dulu, Zi."
"Silahkan, Mas."
Rama membaca surat perjanjian tersebut dengan seksama. Ia mencoba memahami apa yang tertulis di atas surat perjanjian itu dengan baik. Matanya melotot saat membaca seluruh isi dari surat perjanjian itu.
"Zia, apa kamu yakin dengan isi surat perjanjian ini?" tanya Rama sambil menatap Zia dengan tatapan tak percaya.
"Yakin, Mas. Aku sangat yakin dengan apa yang aku buat."
"Zia, empat puluh persen dari saham yang aku miliki, itu sama aja kamu ambil semua saham yang tertulis atas nama aku. Kamu kan tahu, saham yang aku miliki hanya lima puluh persen. Sedangkan yang lima puluh persen lagi atas nama mama."
"Aku tidak memaksa kamu menyetujui apa yang aku buat, Mas. Jika kamu tidak mau, ya sudah, kamu tidak perlu menandatangi surat itu. Gampang kan?"
"Kamu kok tega banget sama aku, Zia. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana kehidupan aku yang selanjutnya, jika kamu hanya menyisakan aku saham sepuluh persen saja."
__ADS_1
"Tegaan mana kamu sama aku, Mas? Kamu juga tidak memikirkan bagaimana kehidupan aku selanjutnya saat kamu bawa perempuan pulang ke rumah kita. Maksud aku, rumah aku. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan aku saat kamu menikah lagi?"
"Kamu kok malah bahas soal rumah tangga kita di sini. Bukankah sekarang kita sedang membahas soal pekerjaan, bukan soal rumah tangga."
"Oh ya sudah kalo gitu. Jika kamu ingin aku bahas soal pekerjaan tanpa menyingung soal rumah tangga kita, maka, bersikaplah profesional sekarang."
"Zi ... baiklah, aku akan tanda tangan surat perjanjian ini. Tapi, aku minta satu hal sama kamu. Tolong jangan katakan pada mama atau siapapun, tentang perjanjian ini," ucap Rama dengan pasrah.
"Itu urusan aku, mas. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak mengatakan semua ini, karena ini bukan soal pribadi kita."
"Aku mohon Zia. Anggap saja ini permintaan terakhir aku sebagai suami kamu."
Rama bicara dengan wajah penuh harap. Meskipun Zia sakit hati dengan wajah itu, tapi tetap saja, ada rasa kasihan saat melihat wajah penuh harap itu menatap dirinya dengan tatapan sayu.
"Baiklah. Aku coba untuk tidak bicara pada siapapun soal perjanjian ini. Tapi maaf, aku tidak bisa berjanji padamu. Karena ini soal bisnis. Dan kamu juga tahu, jika kamu tidak bisa bayar pinjaman ini selama lima tahun, maka saham itu akan murni jadi milik aku. Jadi, bagaimana mungkin aku tidak bicara jika saham itu sudah menjadi milik aku, Mas."
"Ya, aku mengerti."
Lalu, memberikan kartu itu pada Rama.
"Ini, Mas. Dalam kartu ini terdapat uang sebanyak yang kamu butuhkan. Kata sandinya, tanggal lahir kamu."
"Terima kasih," ucap Rama sambil menerima kartu tersebut.
Setelah Rama menerima kartu tersebut, ia pamit pada Zia untuk meninggalkan kantor itu. Sedangkan Laila, ia begitu bahagia saat taksi online yang ia tumpangi berhenti di depan mall yang kelihatannya sangat amat mewah.
"Wuah, akhirnya, aku sampai di mall juga," ucap Laila sambil tersenyum manis.
Ia berjalan cepat memasuki mall tersebut dengan perasaan bahagia. Sambil terus tersenyum, Laila melihat mall itu dengan tatapan penuh takjub.
__ADS_1
"Uh, aku akan belanja semua barang yang aku sukai sekarang. Aku akan beli semuanya," kata Laila sambil terus tersenyum.
Laila berjalan memasuki tempat baju-baju mahal. Seorang pelayan mall berjalan mendekat Laila. Ia membantu Laila memilih semua baju yang Laila sukai.
"Mbak yakin mau beli semua baju ini?" tanya pelayan itu dengan sangat hati-hati.
"Apa! Kamu tanya apa barusan? Kamu pikir aku gak mampu bayar apa?" tanya Laila kesal.
"Maaf mbak, bukan gitu maksud saya. Baju-baju yang mbak pilih ini terlalu banyak, apa mbak yakin mau beli semuanya?"
"Ya yakinlah. Sudah aku pilih, jelas aku mau beli semuanya. Apa kamu pikir aku hanya mau pilih-pilih saja, hah. Hei, aku ini orang kaya, aku mampu bayar semua barang yang aku pilih. Kamu juga mampu aku beli jika aku mau."
"Ma--maaf mbak," kata pelayan itu ketakutan.
Setelah memarahi pelayan mall tersebut, Laila langsung beranjak menuju kamar ganti. Ia akan mencoba semua baju yang telah ia pilih. Puluhan baju yang Laila pilih, semua ia coba satu persatu. Sampai memakan waktu hampir satu jam untuk Laila mencoba semua baju-baju tersebut. Plus, berkaca di depan cermin sambil mengangumi dirinya saat mencoba baju-baju tersebut.
Setelah selesai mencoba, Laila meminta pelayan tersebut membawa baju itu untuk di bayar. Pelayan mall itu menanyakan metode pembayaran apa yang akan Laila gunakan untuk membayar hampir dua puluh lebih baju yang Laila pilih.
"Nih, bayar dengan kartu dong. Kalian gak tahu apa, aku orang kaya?" kata Laila membanggakan dirinya, sambil memberikan kartu ATM tersebut pada kasir.
"Baik mbak," ucap kasir tersebut sambil menerima kartu yang Laila berikan.
Beberapa saat lamanya Laila menunggu kasir itu melakukan transaksi pembayaran. Kemudian, kasir itu melihat Laila dengan tatapan aneh.
"Ada apa?" tanya Laila merasa terganggu.
"Apa mbak punya kartu yang lain? Karena saldo dalam kartu ini tidak cukup untuk membayar semua baju yang mbak beli."
"A--apa! Tidak cukup? Tidak mungkin," kata Laila sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya mbak. Saldonya tidak cukup untuk membayar semua belanjaan mbak. Hanya bisa membayar satu pertiga dari apa yang mbak beli," kata kasir itu menjelaskan.
"Apa mbak punya kartu lain yang bisa kita gunakan untuk membayar sisa belanjaan mbak ini? Atau mbak mau bayar dengan uang kes saja?"