Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 48


__ADS_3

"Lo bohong sama gue, Zia. Lo ngomong gitu di depan gue tapi tidak di belakang gue. Iya kan? Lo emang bermaksud buat rebut Zein dari gue."


"Riska. Harusnya kamu pahami apa yang aku katakan dan apa yang kamu katakan. Aku tidak berpikir untuk merebut Zein dari siapapun. Karena Zein tidak menjadi milik dari siapapun. Jadi, kenapa aku harus merebutnya. Soal persahabatan kalian yang terjalin sejak kecil, aku yakin, itu tidak akan berubah. Namun, kamu harus ingat satu hal. Jangan rusak persahabatan dengan keegoisan yang kamu miliki. Zein akan tetap menjadi sahabat kamu jika kamu tidak egois sebagai sahabat."


"Apa maksud lo bicara gitu sama gue, Zia?"


"Tidak ada maksud apa-apa. Hanya ingin kamu mengerti kalau aku tidak berniat merebut siapapun dari siapapun," ucap Zia sambil tersenyum dengan tatapan tajam ke arah Riska.


'Kurang ajar kamu Zia. Perkataan kamu ini sama dengan kamu mengatakan padaku kalau Zein bukan milik aku. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan padamu nanti, Zia. Aku tidak akan merelakan Zein pergi dari aku,' kata Riska dalam hati.


"Mm ... Riska, apa masih ada yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanya Zia untuk menyadarkan Riska dari lamunannya.


"Tidak ada. Aku permisi dulu. Terima kasih banyak untuk waktu yang kamu luangkan buat aku, Zia."


Setelah berucap seperti itu, Riska langsung bagun dari duduknya. Ia lalu beranjak meninggalkan Zia yang masih duduk manis sambil melihat Riska yang ingin meninggalkan ruangan itu.


Namun, baru beberapa langkah Riska beranjak dari tempatnya, ia kembali menghentikan langkah lalu memutar tubuh untuk melihat Zia yang masih berada di sana. Duduk manis sambil menyatukan kedua tangan di dada.


"Zia, masih ada yang ingin gue katakan sama lo."

__ADS_1


"Apa itu? Katakan saja sekarang! Jangan sampai kamu menyimpan apa yang ingin kamu katakan padaku. Jika tidak, aku yakin pikiranmu


gak akan tenang," ucap Zia sambil tersenyum.


"Sudah, jangan banyak omong. Dengarkan saja apa yang ingin gue katakan! Lo pasti akan sangat kaget jika gue mengatakan sebuah kebenaran sama lo sekarang. Gue rasa, lo gak hanya kaget, tapi juga pasti sakit hati saat mendengarkannya."


"Langsung katakan saja sekarang, Riska. Kamu tidak perlu banyak basa-basi yang nantinya bisa benar-benar basi karena kamu yang terlalu bertele-tele."


"Baiklah. Gue harap lo udah nyiapin mental baja agar nggak nangis saat tahu sebuah kebenaran, kalau Zein bukan seorang sopir melainkan anak konglomerat ternama di sana. Dia hanya pura-pura jadi sopir. Itu ia lakukan untuk membodohi lo, Zia."


"Oh ya?" tanya Zia pura-pura kaget sambil bangun dari duduknya.


"Ya, gue tahu semuanya karena gue adalah sahabat baik Zein. Sahabat masa kecil yang tahu semuanya tentang Zein. Zia, kalo gue jadi elo, mungkin gue udah nangis karena sakit hati karena di bohongi."


"Ap-apa! Lo udah tahu kalau Zein anak orang kaya?" tanya Riska tak percaya dengan apa yang Zia katakan.


"Ya, aku udah tahu sejak lama kalau dia itu anak orang kaya. Lalu, apa yang ingin kamu katakan lagi jika aku sudah tahu? Apa kamu ingin menangis karena apa yang kamu harapkan ternyata tidak terwujud?"


'Tidak mungkin. Apakah Zein sudah mengatakan yang sebenarnya pada Zia tentang siapa dia? Aku tidak percaya kalau Zein melakukan hal itu,' ucap Riska dalam hati sambil terdiam mematung.

__ADS_1


Ziana tersenyum saat melihat wajah kecewa yang sangat terlihat jelas di wajah Riska. Ziana yang sekarang bukan lagi Ziana yang dulu, yang hanya bisa menahan rasa sakit dengan mengurung diri saat hatinya di sakiti oleh orang lain. Zia yang sekarang akan berjalan selangkah lebih maju dari orang-orang yang ingin menyakitinya. Zia yang sekarang juga akan langsung membalas siapa yang ingin menyakitinya secepat mungkin tanpa ada tengang waktu.


"Ris, kamu kelihatan sedang kecewa. Apa karena aku yang sudah tahu siapa Zein ya? Makanya kamu terlihat sangat kecewa sekarang. Kamu pasti tidak menyiapkan hati baja sebelum kamu bicara padaku barusan. Seperti yang kamu ingatkan padaku tadi itu lho."


"Jangan senang dulu Zia. Gue akan pastikan kalau Zein tidak akan suka terlalu lama sama lo. Lo lihat aja nanti," kata Riska sambil beranjak meninggalkan tempatnya.


"Ya. Aku tunggu ya Ris. Jangan lama-lama lho, nanti lupa."


Zia tersenyum saat Riska tidak menjawab apa yang ia katakan.


"Riska-Riska. Kamu pasti sangat kesal saat mengetahui kalau aku sudah tahu apa yang ingin kamu katakan soal Zein. Kamu berharap aku kaget, terus marah dan kecewa karena merasa Zein membohongi aku dengan menyembunyikan identitas aslinya."


"Kamu benar, aku memang kaget saat kamu mengungkapkan identitas asli Zein. Karena sejujurnya, aku tidak tahu kalau dia anak orang kaya. Tapi, aku sudah pernah merasakan rasa kecewa, kaget, dan amarah yang lebih besar dari apa yang kamu ungkapkan padaku barusan. Jadi, itu tidak sulit untuk aku bersikap biasa saja saat kamu katakan sebuah berita yang mengejutkan soal Zein," ucap Ziana pada dirinya sendiri sambil bangun dari duduknya.


"Hm ... Zein, aku sudah tahu siapa kamu sekarang. Aku ingin tahu, apa maksud kamu menyembunyikan identitas aslimu dari aku."


"Uh ... sepertinya semua laki-laki itu sama saja. Sama-sama tidak punya hati. Selalu saja membohongi wanita dengan maksud apapun. Lihat saja kalian, aku akan bikin kalian benar-benar merasakan bagaimana rasa dibohongi," kata Ziana sangat kesal sambil melempar vas bunga yang ada di dekatnya.


Sementara itu, Laila sedang mengawasi kantor Zia. Ia ingin menjalankan apa yang telah ia dan Sinta rencanakan sebelumnya.

__ADS_1


Tahap pertama, ia hanya datang untuk mengawasi kantor tersebut, untuk mencari tahu, apakah dia bisa melakukan sendiri atau perlu bantuan orang lain. Yang jelas, ia merasa tidak bisa melakukan rencana itu tanpa bantuan dari orang dalam yang bekerja di kantor tersebut.


Dalam pengawasan itu, ia tidak memperhatikan sekeliling sehingga, brrukk ... Laila menabrak seseorang yang baru saja keluar dari kantor Zia dengan wajah kesal.


__ADS_2