Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 30


__ADS_3

Zia dan Rama berjalan menuju taman. Saat itu, tanpa sengaja, Laila melihat Zia dan Rama berjalan bersama. Hatinya tiba-tiba merasa kesal. Perasaan marah tidak bisa ia tahan lagi sekarang.


Namun, ia tidak ingin menunjukkan sifat aslinya pada Rama. Ia berusaha menahan diri agar tujuannya bisa tercapai. Laila memilih mengikuti Rama dan Zia secara sembunyi-sembunyi. Niatnya, dia akan menguping pembicaraan Zia dan Rama.


Tapi sayang, belum sempat ia melakukan hal itu, langkahnya terhenti oleh panggilan bik Imah. Mau tidak mau, Laila harus membatalkan niatnya agar tidak ketahuan kalau dirinya telah berbohong sakit pada semua orang.


Laila terpaksa kembali ke kamar


Sedangkan Zia dan Rama, mereka duduk di kursi taman untuk membicarakan hal penting yang Rama maksud.


"Ada apa, mas? Kamu mau bicara apa?".


"Zi, aku tahu aku salah. Aku ingin minta maaf dan minta tolong sama kamu. Aku akan melakukan apa yang kamu inginkan asal kami bersedia membantu aku."


"Membantu? Bantuan apa yang kamu butuhkan dari aku?"


"Perusahaan sedang dalam masalah besar dan sedang berada diambang kebangkrutan. Aku mohon bantuan dari kamu Zia. Karena kamu punya kedudukan yang tinggi di dunia bisnis. Aku yakin, perusahaan kamu pasti bisa bantu perusaan ku."


"Mas, kenapa kamu berpikir aku akan membantu kamu setelah apa yang kamu lakukan padaku?"


"Aku tahu kamu tidak akan mau membantu aku dengan mudah. Untuk imbalan atas bantuan itu, kamu bisa minta aku melakukan apa yang kamu inginkan. Aku akan lakukan apa yang kamu minta asal kamu bersedia menyelamatkan perusahaan yang dengan susah payah papaku bangun."

__ADS_1


"Benarkah kamu akan melakukan apapun yang aku minta, Mas Rama?"


"Iy--iya. Aku akan lakukan asal permintaannya tidak macam-macam saja. Selagi aku mampu, maka aku akan penuhi."


"Baik, kalo gitu aku minta kamu tinggalkan istri siri mu itu. Bagaimana, apa kamu bisa?" tanya Ziana sekedar menguji saja.


"Ap--apa? Kamu minta aku tinggalkan Laila? Tidak mungkin aku lakukan itu karena aku ...." Rama menggantungkan kalimatnya.


'Karena aku sangat sayang padamu, Zi. Jika aku tinggalkan Laila, maka mama akan melaporkan kamu atas tuduhan percobaan pembunuhan. Bukti rekaman yang mama ambil dari cctv tetangga sangat jelas. Sehingga aku tidak bisa berkutik untuk melawan keinginan mama,' ucap Rama dalam hati.


'Zia, seharusnya kamu tahu siapa kamu sekarang. Kamu tidak bisa berharap terlalu banyak lagi. Sampai kapan kamu mau berharap dan terus mencari remahan-remahan cinta dari suamimu Rama. Yang terbaik itu adalah, kalian berpisah. Jalani kehidupan masing-masing,' kata Zia dalam hati.


"He he he. Sudah, mas Rama. Aku hanya bercanda. Aku tahu kalau kamu tidak akan meninggalkan istri siri mu itu. Lagipula, aku tidak mungkin mau sama bekas aku yang sudah diambil orang lain."


"Aku punya syarat lain untuk mas Rama. Syarat yang sesungguhnya. Yang harus mas Rama penuhi jika mas Rama ingin aku membantu perusahaan almarhum papa mas Rama."


"Apa syaratnya. Katakan padaku, maka aku akan penuhi syarat itu."


"Dua syarat yang akan aku ajukan padamu. Setelah syarat ini kamu lulus kan, maka perusahaan kamu akan aku bantu."


"Ya, katakan apa syaratnya!"

__ADS_1


"Pertama, kamu harus menceraikan aku."


"Apa! Menceraikan kamu?" tanya Rama kaget.


"Kenapa kamu kaget mas? Bukankah menang seharusnya kita berpisah sejak kemarin?"


"Tapi Zia, apakah tidak ada syarat lain lagi?" tanya Rama penuh harap. Ia berusaha mencari puing-puing cinta di tengah reruntuhan hati Zia.


"Tidak ada, Mas. Aku ingin kita pisah karena rumah tangga ini tidak mungkin kita jalani lagi. Seharusnya, sudah dari kemarin kita berpisah, karena aku tidak pernah sanggup jika dalam rumah tangga ini hadir orang ketiga."


"Ba--baiklah. Apa syarat yang kedua?" tanya Rama dengan perasaan sedih.


'Aku yang salah. Mungkin perpisahan adalah jalan terbaik untuk melihat kamu bahagia. Aku berharap, suatu hari nanti, kamu akan datang kembali padaku. Dan kita akan memulai kehidupan yang baru,' kata Rama dalam hati.


"Pergi dari rumah ini karena aku tidak ingin istri siri mu mengambil semua yang aku punya. Rumah ini dibeli atas namaku dengan uangku, dan yang paling penting, rumah ini nenek yang memilihnya. Karena itu, maaf aku tidak bisa memberikan rumah ini pada kalian. Karena yang aku lihat, istri siri mu sangat menyukai rumah ini," ucap Zia bicara dengan sangat jujur.


"Baik. Aku akan bawa Laila pergi dari sini, jika itu yang membuat kamu merasa sangat bahagia. Kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan Laila mengambil apa yang kamu punya lagi."


"Bagus. Aku harap kamu memegang kata-katamu mas. Jangan buat aku kecewa lagi," kata Zia sambil bangun dari duduknya.


Ziana beranjak meninggalkan Rama yang masih terdiam duduk sambil tertunduk. Sejujurnya, rasa sakit itu tidak pernah bisa berkurang meskipun ia sudah berusaha membalas apa yang Rama lakukan padanya. Rasa sakit itu akan selalu ada karena bagaimanapun ia masih punya rasa sayang pada Rama.

__ADS_1


'Maafkan aku mas Rama. Aku harus melakukan ini agar aku tidak terus-terus merasa sakit hati saat melihat kamu bersama istri siri mu itu. Aku tidak bisa melihat kamu lebih mementingkan dia dibandingkan aku. Sejujurnya, aku sangat merasa tersakiti,' kata Zia sambil menahan air mata agar tidak jatuh.


'Zi, aku harap ini satu-satunya cara agar kamu bisa merasakan kebahagiaan. Juga satu-satunya cara agar kita semua tidak merasa sakit hati lagi,' ucap Rama dalam hati, sambil menatap kepergian Zia yang berjalan semakin menjauh darinya.


__ADS_2