
Apa yang Laila katakan, diterima dengan baik oleh Sintya dan Riska. Mereka berdua menghentikan perdebatan itu, dengan Riska yang kembali duduk.
Melihat Sintya sudah tenang, Laila langsung mengajak Sintya ikut duduk di dekat Riska. Awalnya Sintya menolak, tapi, karena kakaknya memaksa, ia pasrah dengan mengikuti apa yang Laila katakan.
"Sekarang, kita harus pikirkan jalan terbaik untuk kita semua. Cari cara agar kita bisa bebas dari jeruji besi ini," kata Laila sambil melihat Riska dan Sintya secara bergantian.
"Aku ada satu ide. Tapi, ini sangat beresiko untuk kita. Jika salah langkah, nyawa kita yang akan menjadi taruhannya. Tapi, keberhasilannya dari ide ini tidak usah di ragukan lagi. Jika kita berhasil, maka kita akan bebas selama-lamanya, tanpa harus di kejar-kejar polisi lagi," kata Sintya sambil tersenyum manis.
"Ide apa yang kamu punya?" tanya Riska enggan.
"Kita akan ciptakan kebakaran di penjara ini. Kita bertiga akan jadi korbannya," kata Sintya dengan senyum di bibir.
"Apa! Kamu gila, ya!" Riska berteriak sehingga semua yang ada di sana mengalihkan perhatian mereka pada sel yang di huni Riska.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya polisi yang berjaga di sana merasa terganggu.
"Maaf bu polisi, emosinya sedang tidak stabil. Harap maklum dan maafkan dia," kata Laila meminta pengertian.
"Kali ini saya tidak akan menghukum kalian. Tapi ingat, jangan sampai bikin keributan dan menganggu ketenangan lagi. Atau ... kalian bertiga akan kena akibatnya," kata polisi itu, lalu meninggalkan sel yang mereka huni setelah mengatakan ancamannya pada mereka bertiga.
"Gila ya kamu. Hampir aja kita dapat hukuman, karena suara burik mu itu," ucap Sintya kesal setelah kepergian polisi penjaga tadi.
"Apa lo bilang ...."
"Ssstttt." Laila bertindak cepat dengan menutup mulut Riska agar suaranya tidak terdengar oleh polisi penjaga.
__ADS_1
"Diam, atau kita akan dapat hukuman," kata Laila sebelum melepaskan Riska.
"Lo apa-apaan sih. Adik lo ini yang mulai duluan," kata Riska kesal.
"Maafkan Sintya. Dia memang seperti itu. Emosinya memang selalu meledak-ledak. Maklum, diakan masih remaja."
"Untuk kamu Sintya. Tolong jangan mancing amarah lagi. Kita di sini itu teman," kata Laila pada adiknya.
"Tapi mbak, dia yang mulai duluan." Sintya tidak terima.
"Mbak minta sama kamu agar bisa menahan emosi sedikit saja. Apa kamu mau kita di hukum hanya karena emosi mu itu yang tidak bertempat?"
Sintya diam. Sepertinya, dia tidak ada cara lain selain mendengarkan dan mengikuti apa yang kakaknya katakan.
"Sekarang, katakan sama mbak apa rencana kamu yang sesungguhnya. Jika memang itu cara terbaik dan satu-satunya cara yang kita punya, maka mbak akan lakukan cara itu," kata Laila serius.
"Ya, itu juga aku sudah tahu. Sejal tadi kamu sudah mengatakan hal itu. Tapi caranya, kamu tidak katakan bagaimana," kata Riska kesal.
"Makanya dengarkan baik-baik apa yang aku katakan. Jangan main nyamber aja kaya api nyambar bensin," kata Sintya tak kalah kesal.
"Aduh, udah deh. Kalian berdua ini kenapa sih, berdebat melulu. Sekarang, kita ini harus saling dukung dan saling kerja sama. Bukannya saling debat," kata Laila kembali menjadi penengah.
"Sintya, sekarang katakan bagaimana cara kita agar bisa menciptakan kebakaran? Bukankah kita sekarang berada dalam tahanan. Mana bisa kita mencipta kebakaran, kalau api saja kita tidak punya."
"Itu soal gampang mbak Laila. Aku sudah memikirkan bagaimana caranya agar bisa membakar lapas ini. Serahkan saja padaku semua itu," kata Sintya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kamu bilang ini semua sangat beresiko, nyawa kita jadi taruhannya. Tapi, kamu tidak mengatakan bagaimana cara kamu akan menciptakan kebakaran di lapas ini. Kamu ingin kami mati di sini? Iya?" Riska kembali emosi karena Sintya tidak mengatakan rencananya.
"Iya dek. Jika kamu tidak mengatakan rencana kamu pada kami, maka kami tidak akan tahu apa yang harus kami lakukan untuk menolong diri kami sendiri."
"Besok pagi, kalian harus waspada dengan bunyi ledakan dari arah dapur," kata Sintya.
"Maksud kamu?" tanya Riska masih tak mengerti.
Sintya mengatakan bagian dari rencanannya. Besok sebelum subuh, dia akan berpura-pura sakit perut dan meminta izin untuk membuatkan jahe hangat untuk meredakan rasa sakit pada perutnya. Saat itulah, dia akan membocorkan tabung gas yang ada di dapur.
Sementara dia melakukan hal itu, Sintya meminta Laila dan Riska menuju kamar mandi. Kebetulan, kamar mandi berada tak jauh dari dari dapur. Ketika ia sudah menciptakan kebakaran yang akan datang dari dapur, Laila dan Riska ia minta berpura-pura terbakar dan terluka parah di depan polisi.
Tentunya, semua akan panik. Apalagi jika melihat ada korban dari kebakaran itu. Dengan begitu, para polisi yang panik pasti akan membawa korban ke rumah sakit. Di sana, mereka akan menjalankan rencana kedua. Membuat dokter di sana mengatakan kalau mereka semua sudah meninggal. Bagaimanapun caranya, mereka harus bisa meyakinkan polisi kalau mereka sudah mati.
Jika berhasil, mereka akan menghilangkan identitas lama mereka. Mereka akan bebas, tapi dengan identitas yang baru. Identitas yang lama akan mereka kubur bersama jenazah orang lain nantinya.
"Rencana kamu terlalu gila dan tidak masuk akal," kata Riska mengejek.
"Ya sudah, jika kamu tidak ingin maka kamu tidak perlu ikut. Tapi ingat, jangan pernah membocorkan semua ini pada polisi-polisi itu," kata Sintya semakin kesal.
"Ris, jika kamu tidak ingin mengikuti rencana ini, maka kesempatan satu-satunya kamu untuk bebas akan lenyap. Apa kamu tidak ingin bebas dari sini, lalu membalaskan dendam mu pada Zia yang telah merebut sahabat masa kecil mu itu. Mereka telah menikah lho sekarang. Kamu di lupakan begitu saja oleh sahabat masa kecil mu itu karena pengaruh Zia," kata Laila mencoba meyakinkan Riska untuk mengikuti rencana mereka.
Benak Riska perlahan membenarkan apa yang Laila katakan. Ia kembali merasakan panas dalam hatinya. Dendam kini mengambil alih diri Riska, mengalahkan rasa takut yang awalnya bersemayam.
"Baiklah. Aku akan ikut rencana kalian. Aku harap, kita berhasil dan bisa bebas dari tahanan ini. Karena aku sudah tidak sabar lagi untuk memberikan pelajaran berharga pada si Zia itu," kata Riska bicara sambil menggenggam erat tangannya dengan tatapan lurus ke depan.
__ADS_1
Laila dan Sintya saling padang. Senyum mengembang dari bibir mereka berdua, karena telah berhasil meyakinkan Riska untuk ikut ambil andil dalam rencana yang telah Sintya susun.
Jika Riska menolak. Maka rencana itu tidak akan berjalan lancar. Bukan hanya tidak berjalan lancar, melainkan, tidak bisa mereka jalankan. Karena Riska pasti akan menggagalkan rencana mereka, jika Riska tidak bersedia ikut.