
"Pak Zein, aku ingin katakan kalau aku akan mendukung kamu bersatu dengan mbak Zia. Jika kamu benar-benar tulus mencintai mbak Zia, maka aku akan membantu kamu untuk mendapatkannya."
"Apa? Apa barusan aku tidak salah dengar? Atau, kamu yang sedang salah ngomong?" tanya Zein dengan wajah kaget juga tatapan tak percaya pada Restu.
"Kamu tidak salah dengar dan aku tidak salah omong. Yang kamu dengar dan aku yang katakan itu benar adanya. Aku akan bantu kamu dapatin mbak Zia seutuhnya."
"Gila. Nggak. Ada rencana apa kamu sebenarnya, Restu? Bukankah selama ini kamu tidak suka kalau aku dekatin Zia. Kamu kelihatan sekali keberatan jika aku mendekati Zia. Ini, sekarang kamu malah bantu aku dapatin Zia, bukan cuma dekatin lagi, malahan mendapatkan. Kamu yang benar saja," kata Zein sambil menggeleng-gelengkan kepala juga tersenyum geli dengan apa yang baru saja terjadi.
"Pak Zein, aku serius. Awalnya aku memang tidak suka dengan kamu, tapi, saat aku melihat pak Rama yang mendekati mbak Zia hari ini, aku berubah pikiran. Aku akan membantu kamu mendapatkan mbak Zia, karena aku yakin, kamu bisa membahagiakan mbak Zia yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri."
Zein terdiam. Dia memasang wajah serius sambil menatap Restu. Ia mencari kebenaran dari kata-kata yang Restu ucapkan. Ia menemukan kalau Restu sepertinya sedang berkata benar saat ini.
"Apakah ... kamu benar-benar mendukung aku dengan Zia? Apakah tidak ada rencana lain dibalik semua ini?" tanya Zein mulai serius.
"Tidak ada gunanya aku merencanakan sesuatu yang hanya akan merugikan aku. Pak Zein dengar aku baik-baik, aku menjadi asisten pribadinya mbak Zia sudah sangat lama. Dia adalah orang yang selalu membantu aku dan keluargaku. Aku berhutang banyak padanya. Dengan membantu dia bersatu dengan orang yang tepat, aku akan merasa kalau aku sudah membalas jasa baiknya mbak Zia padaku juga keluargaku."
"Kamu sudah lama ikut Zia sebagai asisten pribadinya. Kenapa kamu malah mendukung aku dengan Zia, bukan dengan Rama? Harusnya, kamu dukung Zia dan Rama bersatu, bukan? Karena kamu juga sudah mengenal Rama dengan baik."
"Karena aku sudah kenal pak Rama dengan baik, makanya aku tidak ingin pak Rama dan mbak Zia bersatu. Aku tahu bagaimana mbak Zia sangat terluka dengan pengkhianatan yang pak Rama lakukan. Mbak Zia terpuruk beberapa lama karena pengkhianatan itu. Aku tidak ingin mbak Zia terluka lagi nantinya."
Zein terdiam memikirkan apa yang Restu katakan. Dia kembali ingat dengan data hasil penyelidikan yang orang kepercayaannya berikan padanya.
Ya, satu hari setelah pertemuannya dengan Zia, Zein merasa sangat tertarik dengan perempuan yang ia temui. Untuk mencari tahu latar belakang dari perempuan yang telah mencuri perhatiannya, Zein menugaskan seseorang untuk mencari tahu semua tentang Zia.
Tidak butuh waktu lama untuk orang suruhan itu mendapatkan apa yang ingin Zein ketahui tentang Zia. Awalnya, ia kaget saat tahu kalau Zia itu ternyata istri orang. Namun, seiring waktu berjalan, Zia akhirnya berpisah dengan suaminya. Saat itulah, Zein seperti mendapatkan sebuah peluang emas untuk mendekati Zia kembali.
__ADS_1
"Pak Zein. Apakah yang anda pikirkan saat ini?" tanya Restu menyadarkan Zein dari lamunannya.
"Maaf, aku sedang berpikir sesuatu. Sebuah kebenaran dari kata-kata yang kamu ucapkan barusan. Jika kamu memang ingin membantu aku untuk mendapatkan hatinya Zia, maka aku akan sangat berterima kasih padamu. Dan, jika aku berhasil memiliki Zia seutuhnya, akan aku hadiahkan sesuatu padamu sebagai imbalan dari bantuan yang kamu berikan padaku," ucap Zein dengan sangat serius.
"Pak Zein. Maaf, jangan janjikan aku hadiah apapun, karena aku ingin membantu kalian dengan tulus. Asalkan kamu berjanji padaku, kalau kamu akan membahagiakan mbak Zia seumur hidupmu, maka aku akan berada di belakang mu untuk membantu dengan sepenuh hati."
"Aku berjanji akan membahagiakan Zia selama aku hidup. Kamu tenang saja, aku tidak akan mengecewakan kamu."
Restu mengulurkan tangannya sebagai tanda pengikat janji antara mereka berdua. Zein menerima ukuran tangan tersebut dengan senang hati. Keduanya saling berjabat tangan, lalu sama-sama tersenyum.
Di sisi lain, Laila dan Riska baru aja sampai di tempat tak jauh dari kantor. Mereka membatalkan niat bicara di restoran dan mengubahnya ke cafe samping kantor Zia.
"Apa kamu tidak takut kalau Zia akan melihat kita berada di sini? Inikan tempat yang sangat dekat dengan kantornya," kata Riska agak ragu-ragu saat mereka memasuki cafe tersebut.
"Ayo duduk!" kata Laila lagi saat mereka sudah berada di meja paling pojok dalam cafe tersebut.
Riska melakukan apa yang Laila katakan. Ia menarik kursi yang ada di sampingnya, lalu menduduki kursi tersebut.
"Mau pesan apa?" tanya Laila setelah melihat Riska duduk di depannya.
"Terserah kamu aja. Aku tidak keberatan mau kamu pesankan apapun."
"Baiklah, aku pesankan jus stoberi dan mie goreng untuk kamu, bagaimana?"
"Ya, terserah kamu aja."
__ADS_1
"Oke."
Laila langsung memanggil pelayan cafe untuk mengatakan pesanannya.
Setelah pelayan itu pergi, Laila menanyakan maksud dari Riska yang mengajaknya bertemu.
"Sekarang, katakan padaku ada apa kamu ingin bertemu dengan aku!" kata Laila sambil menatap Riska.
"Katakan padaku terlebih dahulu siapa laki-laki yang bertemu dengan Zia di restoran tadi! Laki-laki yang telah membuat kamu menangis di tempat umum barusan itu."
Laila menatap Riska dengan tatapan tajam. Ia tidak menyangka kalau Riska malah menanyakan soal itu padanya.
'Tidak. Aku tidak bisa membiarkan perempuan sombong ini tahu siapa mas Rama. Jika dia tahu, mungkin dia akan membatalkan kerja sama antara kita yang hampir saha terjadi. Perempuan sombong ini pasti akan berpikir kalau aku akan memanfaatkannya hanya untuk kepentingan aku sendiri,' kata Laila dalam hati.
"Hei! Gue bertanya sama lo tapi lo malah bengong. Lo mikirin apa sih sebenarnya?" tanya Riska kembali lagi jadi dirinya yang sesungguhnya karena telah melihat Laila baik-baik saja sekarang.
"Siapa dia itu tidak penting. Yang jelas, aku dan kamu itu sama-sama merasa tersakiti oleh kesombongan dan keangkuhan Zia. Sekarang, katakan padaku apa yang ingin kamu katakan! Aku tidak bisa lama-lama di luar karena aku banyak kerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Laila seperti wanita karier saja.
"Baiklah, yang ingin gue bicarakan sama lo itu adalah, gue ingin terima tawaran kerja sama yang lo tawarkan sama gue kemarin."
"Oh, benarkah kamu ingin terima tawaran kerja sama yang waktu itu aku tawarkan?"
"Ya."
"Bagus kalo gitu. Kita bisa langsung membicarakan apa rencana yang akan kita jalankan untuk membalas Zia sekarang juga."
__ADS_1