Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 52


__ADS_3

"Cepat angkat!" kata Sinta.


"Jangan dulu, Ma. Biarkan dia menghubungi aku beberapa kali, baru kita angkat panggilan darinya."


"Lho, kok gitu sih? Bukannya kita sangat membutuhkan dia untuk menjalankan rencana kita? Bagaimana jika dia kesal dan berubah pikiran hanya karena kamu telat mengangkat panggilan darinya, Laila? Kita akan kehilangan pion untuk memakan raja," kata Sinta kesal dengan apa yang Laila lakukan.


"Mama Sinta, tenang aja. Aku tahu apa yang aku lakukan. Mama tenang, kita tidak akan kehilangan pion ini hanya karena aku telat mengangkat panggilan darinya. Karena sekarang, dia yang butuh kita, bukan kita yang membutuhkannya," ucap Laila sambil tersenyum licik.


"Ah, terserah kamu aja. Jangan salahkan mama jika semua yang kita rencanakan tidak bisa kita jalankan karena tidak ada pion itu."


"Tidak akan," kata Laila masih dengan senyum manis di bibirnya.


Setelah empat kali Riska mengulangi panggilannya ke nomor Laila, barulah Laila mengangkat panggilan dari Riska. Dengan nada pura-pura malas, ia angkat panggilan itu.


"Halo, siapa ini?" tanya Laila.


"Halo, gue Riska. Bisa ketemuan gak? Ada yang ingin gue bicarakan sama lo."


"Kenapa harus ketemu? Kenapa gak ngomong langsung aja sih?"


"Gak enak kalo ngomong lewat telepon. Enaknya bicara langsung. Kalo lo gak mau gak papa, gue gak maksa."


"Ya udah deh, gue mau. Kita ketemuan di mana?" tanya Laila sambil melihat Sinta.


"Tak jauh dari tempat tinggal gue aja gimana?"


"Woah, itu aku yang kejauhan datangnya. Gimana kalo kita ketemuan dekat dengan kantor Zia aja. Itu lebih adil buat kita berdua. Lagian, itu tempat pertemuan kita pertama."


"Ya sudah kalo gitu. Gue setuju. Kita bertemu di restoran seberang kantor Zia."


"Oke."

__ADS_1


Setelah mencapai kesepakatan, panggilan itu pun berakhir. Laila tersenyum manis sambil melihat Sinta. Sinta yang melihat Laila begitu bahagia, tidak sabar lagi ingin bertanya bagaimana kelanjutan rencana yang telah mereka susun.


"Bagaimana? Apa yang dia katakan padam?" tanya Sinta terlihat sangat penasaran.


"Seperti yang aku katakan, rencana kita akan segera berjalan. Dan, aku yakin kalau rencana ini tidak akan gagal. Mama Sinta tenang saja, kita pasti akan menang."


"Semoga saja apa yang kamu katakan itu bukan hanya sekedar kata, melainkan kenyataan yang sesungguhnya."


"Pasti," kata Laila sambil tersenyum dengan pandangan lurus ke depan.


_____


Riska sampai duluan di restoran yang telah mereka sepakati. Ia memesan jus alpokat untuk menemaninya dalam menunggu kedatangan Laila.


"Ke mana perempuan itu? Mengapa belum sampai juga, dia. Apa dia ingin mengerjai aku dengan sengaja datang terlambat?" tanya Riska pada dirinya sendiri sambil memutar gelas jusnya.


"Jus alpokat satu, mbak."


Saat Riska melihat ke samping, matanya membulat terbuka lebar. Di sana, Riska melihat Zia dan Restu sedang duduk sambil ngobrol ria. Entah apa yang mereka bicarakan, Riska sama sekali tidak bisa mendengarkannya.


"Dasar perempuan mu*rahan. Semua laki-laki ia dekati. Aku tidak habis pikir dengan apa yang Zein pikirkan soal perempuan seperti dia. Meskipun sudah tahu kalau dia perempuan gak baik, eh, Zein masih aja menutup mata soal kekurangan yang perempuan itu milik. Benar-benar menyebalkan," kata Riska bicara pada dirinya sendiri.


"Ssttt! Kamu ngomong apa sih barusan?" tanya Laila sambil menyentuh bahu Riska.


"Lo lama amat datangnya. Sampai bosan gue nungguin lo datang. Sampai-sampai, gue harus kesal karena melihat Zia ada di sini bersama dengan cowok lain," kata Riska dengan wajah kesal dan tatapan tajam pada Laila.


"Ap--apa? Zia ada di sini? Di mana?" tanya Laila agak kaget.


"Di sana. Noh liat, di kursi paling samping tak jauh dari pintu masuk." Riska bicara sambil melihat ke tempat Zia dan Restu duduk.


Laila melihat ke arah yang Riska katakan. Matanya agak melotot saat melihat Zia dan Restu sedang bicara sambil menikmati makan siang mereka.

__ADS_1


'Gawat. Aku tidak boleh kelihatan oleh mereka berdua. Jika tidak, rencana yang aku jalani pasti akan berantakan,' kata Laila dalam hati.


"Ris, ayo ikut aku! Kita cari tempat lain untuk bicara. Aku merasa tidak nyaman untuk bicara di sini. Aku tidak suka berada satu tempat dengan perempuan janda itu."


"Kenapa harus pindah kalo lo gak suka? Biarkan aja dia di sana. Bukankah kita tidak mengganggu mereka. Jadi kenapa lo harus mengalah dari Zia?"


"Kamu gak akan tahu apa yang aku rasakan. Aku tidak suka berada di tempat yang sama dengan dia. Jadi, aku harap kamu mau mendengarkan apa yang aku katakan."


"Ya sudah kita pindah. Tapi mau pindah ke mana?"


"Ikut saja dengan ku. Aku tahu kita harus pergi ke mana sekarang."


"Baiklah," ucap Riska sambil bangun dari duduknya.


Baru juga Laila ingin melangkahkan kakinya meninggalkan restoran tersebut. Langkah kaki Laila terhenti kembali oleh sebuah suara yang sangat tidak asing bagi Laila.


Dengan perasaan tak percaya, Laila menoleh ke arah asal suara tersebut. Di sana, ia melihat Rama yang sedang berdiri di samping Zia sambil tersenyum manis menatap wajah Zia.


"Mas ... mas Rama." Laila berucap kecil sambil menatap tajam ke arah Rama.


Perasaan sakit tiba-tiba menyelimuti hati Laila saat ini. Kesal, marah, dan cemburu menyatu jadi satu menguasai diri Laila sekarang. Namun sayang, ia tidak mungkin melampiaskan rasa itu saat ini. Mengingat ia sedang dalam rencana besar yang harus ia jalankan. Dan rencana itu harus berhasil. Jika ia menuruti perasaan sekarang, maka ia kalah sebelum berperang.


Rama tidak mendengar panggilan Laila karena memang, Laila tidak berniat memanggil namanya. Ia juga tidak menyadari akan kehadiran Laila di sana. Karena yang menjadi pusat perhatian Rama saat ini adalah Zia.


Rama begitu merindukan Zia sehingga ia tidak memperhatikan sekelilingnya. Saat bertemu Zia, Rama merasa tidak ada orang lain di sana selain mereka berdua.


"Zi, maaf udah buat kamu menunggu lama. Jalanan macet tadi, makanya aku telat datang," kata Rama menjelaskan pada Zia sambil terus menatap Zia.


"Gak papa. Aku dan Restu juga baru aja sampai, jadi, kami gak menunggu kamu terlalu lama, Mas. Oh ya, ada perlu apa kamu ingin aku bertemu dengan aku?" tanya Zia langsung.


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Sebenarnya, aku ingin bicara berdua saja. Apakah boleh?" tanya Rama hati-hati.

__ADS_1


"Nggak. Sekarang, mbak Zia tidak bisa bicara berdua saja dengan pak Rama, karena mbak Zia adalah pimpinan perusahaan Zaza grup, yang jika ingin bicara harus melewati aku sebagai tangan kanannya mbak Zia," kata Restu dengan cepat menjawab apa yang Rama katakan.


__ADS_2