
Mendengar perkataan pimpinan itu barusan, amarah Riska yang masih belum stabil naik lagi. Ia kesal dengan ucapan pimpinan itu yang terkesan sangat merendahkan harga dirinya.
Riska bangun dari duduknya, lalu memukul meja dengan keras.
"Dasar pemimpin bodoh. Pantas saja perusahaan kamu ini kecil seperti ini. Ternyata karena kamu yang tidak punya pikiran untuk maju dengan bersaing dengan perusahaan besar. Benar-benar menyesal aku datang ke sini," kata Riska dengan nada tinggi.
Pimpinan perusahaan itu menjadi kesal. Ia lalu mengusir Riska dengan memanggil satpam penjaga kantornya.
"Tidak perlu mengusir aku dari dari sini, karena aku juga akan meninggalkan kantor kecil kamu ini segera," kata Riska sambil beranjak meninggalkan pimpinan itu.
Setelah mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan hati, dan misi yang ia punya untuk mengajak pimpinan perusahaan tersebut gagal. Niat hati Riska untuk menjatuhkan dan menghancurkan Zia semakin besar saja.
Dengan perasaan kesal, ia langsung menuju kantor Zia. Di sana, ia mengamati semua pergerakan karyawan yang bekerja di kantor tersebut.
Beberapa saat ia mengamati kantor itu, sebuah ide muncul dalam benak Riska. Dengan cepat, ia menghubungi Laila untuk melakukan apa yang ia pinta.
"Apa! Kamu gila ya? Kamu minta aku mencari tahu semua nama petugas kebersihan di kantor Zia. Kamu pikir kantor Zia itu kecil? Yang petugas kebersihannya hanya beberapa orang. Nggak! Di kantor Zia ada puluhan petugas kebersihan. Mana mungkin aku menghabiskan waktuku hanya untuk mencari tahu semua petugas kebersihan yang bekerja di sana. Yang benar saja kamu kalo minta bantuan sama aku," kata Laila sangat kesal dengan apa yang Riska katakan.
"Ya sudah kalau kamu tidak ingin membantu. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa saat aku berhasil nanti. Rencana yang kamu susun, aku yang akan menikmati hasilnya."
Mendengar kata-kata itu, Laila berubah pikiran. Ia dengan cepat menyetujui permintaan Riska padanya.
__ADS_1
"Ya, ya sudah, aku akan lakukan apa yang kamu minta. Awas aja kalo kamu merusak rencana yang aku buat. Ingat, rencana ini tidak boleh gagal dan tidak boleh meninggalkan jejak."
"Kamu tenang saja. Rencana yang kita lakukan akan berjalan sebaik mungkin. Ikuti saja apa yang aku katakan, maka kita akan berhasil."
'Sebenarnya, aku atau dia sih yang punya rencana? Kenapa malah dia yang memerintah aku sekarang? Harusnya kan, aku yang memerintah perempuan sombong itu, bukan malah sebaliknya,' kata Laila dalam hati dengan sangat kesal.
"Laila. Apa kamu masih mendengarkan aku? Cepat lakukan agar aku bisa bergerak secepat mungkin!" kata Riska menyadarkan Laila yang terdiam di seberang sana.
"Iya-iya, aku akan lakukan secepatnya. Tunggu saja kabar baiknya nanti."
Setelah panggilan terputus, Laila menatap layar ponsel itu untuk beberapa saat.
"Ih, dasar perempuan sombong. Malah menyuruh aku, bukannya dia lakukan sendiri. Untung aja ini rencana aku, jika bukan, ogah banget aku mau melakukan apa yang dia katakan," kata Laila masih kesal dengan berbicara sendiri tanpa tahu kalau Rama sedang berada di belakangnya.
Hal itu membuat Laila sangat kaget. Ia memutar tubuh dengan cepat untuk melihat Rama yang berada di belakangnya.
"Mas ... mas Rama. Sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Laila dengan wajah ketakutan. Namun ia berusaha agar tetap terlihat tenang.
"Baru aja. Kamu ngomong sama siapa? Bicara apa barusan? Rencana apa?"
Rama menghujani Laila dengan banyak pertanyaan. Namun sayang, kelihatannya, Rama tidak mendengarkan apa yang Laila dan Riska bicarakan.
__ADS_1
Mendengarkan Rama yang menanyakan banyak hal padanya, Laila malahan merasa tenang. Karena dengan Rama menghujani dia dengan banyak pertanyaan,itu membuat ia yakin, kalau sebenarnya, Rama masih belum mendengarkan apa yang ia katakan.
"Aku ngomong sama mama Sinta, Mas. Bicara soal rencana ingin buka butik bersama. Tapi sayangnya, aku gak punya dana buat ikut serta dalam rencana yang di buat oleh temannya mama Sinta. Oh ya mas Rama, kapan kamu mau beli rumah baru buat kita? Kamu bilang nanti-nanti, inikan udah lama, mas," ucap Laila berusaha mengalihkan perhatian Rama dari apa yang ia dengar tadi.
"Perusahaan aku masih belum membaik, Laila. Aku belum bisa membelikan kita rumah baru karena pendapatan dari perusahaan belum seberapa. Aku masih perlu banyak mengeluarkan uang untuk membayar denda yang klien ku minta kemarin. Aku harap kamu mengerti, Laila."
"Ya mas, aku mengerti. Kamu tenang aja, aku akan selalu mengerti dengan kesulitan yang sedang kamu hadapi. Ya udah ya mas, aku mau keluar bentar, gak papakan?"
"Keluar? Ke mana? Rumah mama Sinta lagi?" tanya Rama dengan wajah tidak suka.
"Iya mas. Aku ingin ke rumah mama Sinta. Gak papakan? Kasihan mama Sinta sendirian. Dia selalu berada dalam kesedihan setelah kejadian itu."
"Laila, sudah aku katakan kalau aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan mama Sinta. Apapun alasannya, aku tetap tidak suka. Kamu lupa apa yang mama Sinta lakukan pada aku itu sungguh sulit untuk di maafkan."
"Mas, jangan lupa satu hal, kalau mama Sinta itu adalah orang yang sudah merawat kamu sejak kecil. Terlepas dari semua kesalahan yang telah ia lakukan pada kamu dan ibumu, dia adalah mama yang baik, kok menurut aku."
"Terserah apa yang ingin kamu katakan. Yang jelas, aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan mama Sinta. Jangan bikin aku kesal dengan kedekatan kamu itu."
"Ya udah iya, aku gak akan dekat-dekat dengan mama Sinta. Tapi hari ini, aku mohon biarkan aku keluar untuk menemui mama Sinta. Karena sebelumnya, aku sudah berjanji untuk datang ke rumahnya."
"Terserah kamu aja deh. Capek aku ngomong sama kamu," kata Rama sambil beranjak meninggalkan Laila.
__ADS_1
Sambil menatap kepergian Rama, Laila berkata dalam hati. 'Maaf mas Rama, aku akan tetap mendekati mama Sinta selama rencana ku untuk mendapatkan hartanya Zia masih belum berhasil. Aku janji, jika sudah berhasil mendapatkan apa yang aku kejar, aku akan menjauhi mama Sinta. Mungkin, juga akan menjauhi kamu, mas Rama.'