Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 80


__ADS_3

"Venty, sekarang aku sudah ada di sini. Jadi, tunggu apa lagi, panggil satpam dan seret benalu ini keluar dari kantor kita," kata Zia sambil menunjuk ke arah Sintya.


"Tidak perlu panggil satpam karena aku juga akan pergi dari kantor kamu ini. Kantor perempuan mandul yang tidak bisa punya anak. Siapa sudi berlama-lama di sini," kata Sintya mengejek Zia.


Plakk ....


Zia reflek langsung menampar pipi Sintya yang baru saja ingin melewati Zia.


"Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kamu begitu kurang ajar, hah!" Zia menatap tajam pada Sintya yang sedang memegang pipinya akibat tamparan yang Zia hadiahkan.


"Aku ... aku calon istri Restu. Kenapa? Kamu marah dengan apa yang aku katakan barusan? Seharusnya kamu tidak perlu marah karena apa yang aku katakan itu adalah fakta. Restu sudah menceritakan semuanya padaku tentang kamu. Tentang rumah tanggamu yang berantakan, dan sekarang, kamu menikah lagi," kata Sintya dengan senyum mengejek.


Tiba-tiba, dua orang polisi datang ke ruangan Zia. Semua menjadi kebingungan dengan kedatangan dua polisi tersebut.


"Pak polisi?" Zia heran dengan kehadiran polisi di kantornya.


"Angkat tangan!" kata salah satu polisi sambil mengarahkan senjatanya pada Sintya.


"Po--polisi. Ada ... ada apa, pak? Ke--kenapa mau tangkap saja?" tanya Sintya benar-benar gugup dan takut.


"Anda kami tahan atas laporan seseorang dengan tuduhan percobaan pembunuhan yang telah anda lakukan."


"Tapi pak, saya tidak bersalah. Tolong jangan tangkap saya, pak," kata Sintya dengan nada memelas.


"Anda bisa jelaskan semuanya di kantor polisi. Sekarang, anda harus ikut kami!"


"Siapa sih yang buat tuduhan padaku sehingga kalian bersedia menangkap aku?" tanya Sintya dengan nada kesal.

__ADS_1


"Aku," ucap seseorang yang berada di tikungan kantor.


Suara itu mengalihkan semua perhatian yang ada di kantor Zia. Mereka melihat seseorang yang berada di tikungan kantor tersebut. Yang berjalan semakin mendekat.


"Restu," ucap Zia seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Pak Restu," kata yang lain pula.


Di sana, Restu sedang duduk di kursi roda dengan kaki, tangan, juga kepala yang sedang memakai perban berwarna putih. Seorang suster sedang mendorong kursi roda Restu dengan wajah santai. Terlihat sekali kalau saat ini, Restu masih belum di izinkan pulang ke rumah. Karena ia datang dengan suster yang menggunakan seragam rumah sakit.


"Restu! Kenapa kamu bisa keluar dari rumah sakit sekarang? Bukannya seharusnya .... "


"Seharusnya apa? Aku koma bertahun-tahun? Iya? Itu yang ingin kamu katakan, iya kan?" Restu memotong perkataan Sintya dengan cepat.


"Iya. Seharusnya kamu koma selamanya. Atau mati sekalian, biar aku bisa memberikan pelajaran pada Zia, perempuan mandul yang telah menjebak kakak ku hingga dia masuk penjara saat ini," kata Sintya tanpa sadar membuka aibnya di depan semua orang.


"Laila! Laila madu mu itu adalah kakak ku. Kakak yang aku sayangi. Karena kamu, dia harus meringkuk dalam penjara. Aku ingin membuat kamu merasakan hal yang sama seperti yang kakak ku rasakan. Tapi sayang, aku harus ketahuan duluan sebelum berhasil membalaskan dendam kakak ku padamu," kata Sintya kesal sambil meronta-ronta berharap terbebas dari borgolan polisi. Tapi pada kenyataannya, tidak sama sekali. Usaha Sintya hanya sia-sia saja.


"Oh, jadi kamu adiknya Laila? Pantas saja kamu sama persis dengan kakakmu. Tidak punya malu, merebut apa yang orang lain miliki. Sungguh tidak ada muka kalian berdua," kata Zia santai sambil berkacak pinggang.


"Kamu yang tidak tahu malu, Ziana. Kamu! Kamu yang kalah saing dengan kakakku, dalam merebut hati suami. Setelah kalah dalam persaingan, kamu malah menjebak kakakku sampai dia harus mendekam di penjara. Benar-benar jal**ng tidak punya muka kamu."


"Uh, aku tidak kalah anak ingusan. Tapi mengalah. Kakakmu lah yang kalah sebenarnya. Ia sudah di talak mas Rama, tapi tidak terima dengan kenyataan. Eh, malah ngirim kamu datang ke sini untuk melawanku lagi. Dia tidak putus asa ternyata," kata Zia sambil tersenyum mengejek.


"Kamu .... "


"Sudah pak polisi, sebaiknya dia di bawa sekarang. Agar dia cepat diadili," kata Zia pada polisi yang sedari tadi berusaha menahan Sintya yang terus saja berontak ingin bebas.

__ADS_1


"Ya pak. Sebaiknya dia dibawa pergi sekarang. Biar dia diadili secepat mungkin. Biar tidak ada kejahatan lagi yang bisa ia perbuat," kata Restu membenarkan.


"Betul. Bawa dia pak polisi! Penjarakan dia seumur hidup! Kalo bisa, hukum mati saja dia karena kejahatannya," kata salah satu dari pegawai Zia.


"Benar pak polisi. Hukum dia seberat mungkin," jawab yang lain pula.


Polisi itu melanjutkan tugasnya. Ia mengiring Sintya untuk dibawa ke kantor polisi. Sebelum ia meninggalkan Zia dan yang lainnya. Sintya sempat mengeluarkan semua unek-unek yang ada dalam hatinya.


"Kalian semua kurang ajar. Lihat saja apa yang aku lakukan pada kalian nanti. Akan aku balas kalian semua. Aku akan buat kalian semua menyesali apa yang telah kalian lakukan padaku hari ini," kata Sintya sambil berlalu.


Setelah polisi membawa Sintya, semua yang ada di sana terlihat lega. Mereka bisa tersenyum puas atas apa yang telah mereka lewati saat ini.


Restu tertunduk dengan raut wajah penuh sesal. Ia berkata dengan seribu penyesalan pada Zia. "Mbak Zia, semuanya, aku minta maaf telah berbuat kekacauan besar yang hampir membawa perusahaan kita dalam kehancuran."


"Kenapa kamu melakukan itu, Restu? Jelaskan pada kami semua, apa alasan kamu meminta Sintya masuk ke kantor ini? Katakan dengan sejujurnya alasan kamu agar kami semua bisa memahami jalan pikiran kamu ini," ucap Ziana masih dengan nada kesal.


"Apa maksud mbak Zia? Aku tidak pernah meminta Sintya masuk ke kantor ini. Aku tidak pernah berpikir untuk menempatkan siapapun atau menyalah gunakan wewenang yang mbak berikan. Aku minta maaf karena aku telah mengenal orang yang salah. Jika Sintya tidak mengenali aku, mungkin dia tidak akan berada di kantor ini sekarang," kata Restu bicara dengan sungguh-sungguh.


"Zia, aku yakin kalau Restu tidak sebodoh itu. Dia tidak akan menyalah gunakan kepercayaan yang kamu berikan padanya. Selama ini, bukankah Restu yang begitu kamu percayai? Aku yakin, ini semua hanya salah paham saja. Sintya pasti berusaha menghancurkan kamu dan semua orang yang dekat dengan kamu untuk memberikan sakit hati padamu, Zia." Zein menyimpulkan semua kejadian yang terjadi sekarang.


Benak Zia membenarkan perkataan Zein barusan. Dilihat dari wajah Restu yang benar-benar tulus, ia yakin kalau Restu tidak akan mengkhianati dirinya. Sedangkan Sintya, sudah jelas niat awalnya datang hanya untuk menghancurkan dirinya karena dendam yang ia miliki.


"Restu, maafkan mbak telah mencurigai kamu."


"Aku yang seharusnya minta maaf mbak Zia. Karena aku, mbak dan perusahaan mbak dalam masalah besar," kata Restu dengan nada penyesalan.


"Aku pasrah jika mbak Zia ingin mendepak aku dari kantor ini. Karena aku memang tidak pantas jadi orang kepercayaan mbak Zia lagi."

__ADS_1


"Restu, kamu bicara apa sih? Aku tidak bermaksud melakukan apapun dengan jabatan yang kamu miliki. Kamu akan tetap menjadi orang kepercayaan ku. Kamu adalah tangan kanan kebanggan ku," kata Zia sambil berjongkok agar dia bisa setara dengan Restu saat bicara.


__ADS_2