Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 44


__ADS_3

Ziana sampai ke ruang rapat. Di sana, Restu sedang menunggu Zia dengan perasaan tidak sabaran. Saat melihat Zia sampai, ia segera menghampiri Zia dengan perasaan lega.


"Mbak Zia. Akhirnya mbak datang juga," kata Restu sambil menyambut kedatangan Zia.


"Di mana wakil perusahaan asing itu, Res?"


"Di dalam mbak."


"Oh, ya sudah. Ayo kita masuk ke dalam."


"Tunggu mbak!" Restu menahan langkah Zia yang ingin beranjak masuk ke dalam.


"Ada apa, Res?" tanya Zia sambil menoleh ke arah Restu.


"Mbak, aku seperti pernah bertemu dengan wakil dari perusahaan asing ini. Tapi, sepertinya, itu tidak mungkin. Pasti ingatan aku salah tentang dia."


"Maksud kamu?" tanya Zia sambil mengetukkan dahinya.


"Saya seperti pernah melihat wajah wakil dari perusahaan asing ini. Namun itu sangat tidak mungkin mbak. Karena perusahaan asing ini adalah perusahaan yang sangat terkenal di tempat mereka."


"Tidak mungkin?" tanya Ziana penasaran.


"Memangnya, perusahaan apa yang datang ke kantor kita untuk menawarkan kerja sama dengan kita?" tanya Zia lagi.


"Martin grup, mbak."


"Martin grup?"


Zia merasa kaget sekaligus bahagia. Karena, Martin grup adalah perusahaan besar yang namanya sudah sangat terkenal. Bukan hanya terkenal di tempatnya, melainkan juga terkenal di tanah air.


Semua kalangan pembisnis tahu dengan perusahaan ini. Karena Martin grup bukan hanya terkenal karena besar, namun juga terkenal dengan pimpinan yang sangat pintar dalam menjalankan bisnis mereka.

__ADS_1


Tapi sayangnya, pimpinan perusahaan Martin grup sangat misterius. Tidak ada yang tahu bagaimana penampilan dari pewaris tunggal Martin grup tersebut. Identitasnya di jaga dengan sangat baik sehingga tidak ada yang tahu siapa dia.


"Mbak." Restu memanggil Zia untuk menyadarkan Zia dari lamunannya.


"Eh, iya Res."


"Mbak kok malah melamun sih?"


"Maaf. Saat kamu mengatakan kalau yang datang ke perusahaan kita untuk menawarkan kerja sama, itu adalah perusahaan Martin grup, mbak jadi memikirkan perusahaan mereka. Benarkah yang datang ini wakil dari perusahaan Martin grup? Atau ...."


"Atau apa, mbak?"


"Tidak ada. Mbak hanya memikirkan hal yang tidak penting saja."


"Aku tahu apa yang sedang mbak pikirkan sekarang. Mbak pasti takut kalau yang datang ke perusahaan kita saat ini hanya orang yang mengaku-ngaku wakil dari perusahaan terkenal Martin grup. Iya kan mbak?" tanya Restu sambil menatap Zia mencari kebenaran dari apa yang ia katakan.


Zia yang di tatap, kini menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang Restu katakan. Restu yang melihat Zia mengangguk, tersenyum manis ke arah Ziana.


"Soal itu, mbak Zia tidak perlu cemas. Aku sudah memeriksa semua file yang wakil itu bawa. Semuanya asli mbak. Tidak ada yang perlu kita curigai. Karena file asli dengan palsu, pasti bisa aku bedakan."


"Iya mbak. Ayo!"


Restu dan Zia berjalan beriringan masuk ke dalam ruang rapat tersebut. Di mana Zein sedang menunggu mereka dengan rasa tak sabar lagi. Ia ingin melihat reaksi Zia saat tahu kalau wakil perusahaan asing itu adalah dirinya. Orang yang mengaku sebagai sopir pribadi seorang bos galak.


"Permisi. Maaf membuat anda menunggu kami terlalu lama. Perkenalkan, saya Zia. Pimpinan perusahaan Zaza grup," ucap Zia pada Zein yang sedang berdiri membelakangi, sambil melihat ke arah luar kantor dari kaca ruang rapat.


Mendengar kata-kata itu, Zein segera memutar tubuh untuk melihat Zia yang berada di belakangnya.


"Zia." Zein memanggil Zia sambil tersenyum.


"Zein?" Ziana menatap Zein dengan tatapan tak percaya. Karena yang ia tahu, Zein hanyalah seorang sopir pribadi, bukan pekerja kantoran.

__ADS_1


"Zia, aku datang untuk menggantikan bos ku menawarkan kerja sama dengan perusahaan kamu. Tolong jangan pandang rendah aku, karena kedatangan aku kali ini tidak lain adalah sebagai pembuktian kalau aku layak bekerja dengan bos galak ku atau tidak," kata Zein menjelaskan pada Zia dengan wajah takut.


"Zein, kenapa kamu menjelaskan hal ini padaku? Aku tidak mempertanyakan soal itu. Yang terpenting bukan siapa kamu, tapi apa tujuanmu. Itu yang harus kita bahas sekarang," ucap Ziana sambil tersenyum.


"Mbak, apa dia laki-laki yang menabrak mbak waktu itu?" tanya Restu setengah berbisik pada Zia.


Zia menjawab dengan anggukan saja. Membuat Restu menatap Zein dengan tatapan tajam.


"Pantas saja aku seperti pernah melihatnya. Tapi saat aku tahu dia adalah wakil dari perusahaan Martin grup, aku menyangkal kalau itu dia," kata Restu lagi.


"Sudah. Jangan bahas soal itu. Dia datang sebagai tamu penting kita sekarang. Kita harus profesional menyambut tamu kita dengan sambutan yang seharusnya."


"Maaf pak Zein. Silahkan duduk. Kita akan mulai membahas soal tawaran kerja sama antara kedua perusahaan," ucap Zia dengan mantap.


"Terima kasih, Zia. Hm ... tapi sebelum kita bahas soal kerja sama, bisakah aku minta satu hal sama kamu?"


"Minta satu hal?"


"Ya." Zein menjawab singkat sambil menatap Zia.


"Apa?" tanya Zia sambil menaikkan sebelah alisnya tanya penasaran.


"Tolong jangan panggil aku dengan sebutan bapak. Itu sangat mengganggu buat aku. Rasanya, aku seperti om-om yang sudah sangat tua."


Zia belum menjawab. Ia hanya menatap Zein dengan tatapan yang tidak bisa Zein artikan. Tatapan tajam yang entah apa maksudnya itu.


"Bagaimana, Zia? Apa kamu tidak ada masalah dengan permintaan aku barusan?" tanya Zein meminta kepastian.


"Oh, ya ... ya sudah kalo gitu. Aku tidak akan memanggil kamu dengan panggilan bapak. Tapi, bisakah kita mulai sekarang, Zein?"


"Oh, bisa-bisa. Ayo kita mulai," ucap Zein dengan cepat.

__ADS_1


Merekapun mulai membahas soal kerja sama. Bagaimana jalan kerja sama yang akan mereka tempuh, juga bagaimana keuntungan yang akan sama-sama mereka dapatkan. Semuanya mereka bahas sekarang.


Selama pembahasan itu berlangsung, Zein banyak melamun menatap Zia. Sehingga Zia berkali-kali harus menyadarkan Zein dari lamunannya. Hal itu membuat Restu semakin risih saja dengan kehadiran Zein. Jika saja Zein bukan wakil dari perusahaan terkenal, mungkin Restu sudah mengusir Zein sejak awal. Tapi sayang, itu tidak mungkin ia lakukan karena ketenaran Martin grup sangat luar biasa.


__ADS_2