Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 39


__ADS_3

"Apa? Apa maksud kamu, Sinta?" tanya Saras tak mengerti sekaligus kaget dengan apa yang Sinta katakan.


"Ya, aku menghukum kamu dengan melampiaskan dendam ini pada anak kamu, Ziana. Aku pertemukan anak kamu dengan Rama, sampai mereka menikah. Lalu, aku hadirkan perempuan lain dalam pernikahan mereka. Orang ketiga yang menjadi perebut kebahagiaan anak kamu."


"A--apa? Kamu telah merusak pernikahan Zia dengan menghadirkan perempuan lain ke dalam rumah tangga mereka? Apa kamu sudah gila, Sinta! Kamu bukan hanya merusak kebahagiaan anak aku, tapi juga merusak kebahagiaan anak kamu!" kata Saras sangat kesal sampai dia berbicara dengan nada tinggi.


"Anak? Ha ha ha ... Saras, hari ini, aku juga ingin mengatakan satu rahasia pada kamu. Dari pernikahan terpaksa yang aku jalani dengan mas Ryan, aku sama sekali tidak punya anak. Karena memang aku tidak ingin punya anak dari mas Ryan. Aku menikah dengannya hanya untuk kehidupan yang lebih baik dari segi ekonomi. Karena mas Ryan orang kaya. Jadi, aku bisa menguasai hartanya dengan sesuka aku saat dia meninggal."


"Apa! Lalu, dari mana datangnya Rama? Anak siapa dia? Kenapa dia bisa jadi anak kamu, hah!"


"Kelihatannya, kamu sangat penasaran dengan asal usul Rama. Baiklah-baiklah, aku tidak akan menyembunyikan lagi rahasia ini dari kamu, Saras. Rama adalah anak seorang pembantu yang aku curi dari mamanya. Lalu .... "


"Apa!"


Pembicaraan itu terhenti seketika saat suara kaget Rama terdengar sangat lantang memenuhi ruang tengah rumah Zia. Rama yang mendengarkan apa yang Sinta katakan, tidak sanggup untuk menahan diri walaupun Zia sudah berusaha mencegahnya.


Ya, sejak tadi, Ziana dan Rama sudah berada di depan pintu. Mereka membatalkan niat untuk masuk ke dalam rumah saat mendengarkan pembicaraan Saras dan Sinta. Karena, pembicaraan itu menyangkut mereka berdua.


Awalnya, Ziana ingin datang sendirian, tapi saat ingat kalau yang bikin rusuk di rumahnya adalah mama mertuanya, alias mama Rama yang sebentar akan menjadi mantan dalam hidupnya. Zia membatalkan niat untuk datang sendirian. Ia menghubungi Rama yang kebetulan sedang ingin kembali ke kantor setelah mengantarkan Laila pulang ke rumah.


Rama langsung membatalkan niat menuju kantor, setelah mendengarkan kabar dari Zia. Mereka bertemu di depan perempatan jalan karena Rama berhenti di sana untuk berbarengan dengan Zia. Akhirnya, mereka sampai bersama-sama ke rumah itu.

__ADS_1


Berkali-kali Rama ingin menerobos masuk saat mendengarkan apa yang Sinta katakan. Apalagi saat ia mendengar, kalau kehancuran rumah tangga dia dengan Zia karena ulah sang mama, hal itu menambah niat dalam hati Rama untuk menerobos masuk, lalu menanyakan pada Sinta, mengapa ia begitu tega melakukan semua ini, padahal, dia adalah anak Sinta sendiri.


Tapi, semua itu berhasil Zia tahan. Karena Zia ingin tahu lebih lanjut, apa lagi yang akan mama dan mama mertuanya bicarakan. Tapi sayang, ia tidak bisa mencegah Rama saat Sinta mengatakan kalau Rama adalah anak pembantu yang sengaja ia curi dari pembantu itu.


Rama langsung menerobos masuk, sambil terus menatap tajam ke arah Sinta. Ia begitu terluka dan tidak pernah bisa mempercayai apa yang telah jadi dalam hidupnya. Orang yang paling ia sayangi, juga paling ia hormati, ternyata adalah orang yang paling jahat. Yang dengan sengaja merusak kehidupannya.


"Ma--mama." Rama menatap Sinta dengan air mata yang tidak bisa ia bendung.


"Jadi, semua ini memang sudah mama rencanakan? Oh tidak. Aku tidak pantas memanggil kamu mama karena kamu memang bukan mama aku. Katakan padaku, apalagi kebohongan yang telah kamu perbuat, nyonya Sinta?" kata Rama terus menatap Sinta.


"Sekarang, kamu sudah tahu semuanya. Aku tidak perlu bersandiwara lagi di depan kamu, Rama. Ya, aku akui, ada banyak kebohongan yang telah aku sembunyikan dari kamu. Terutama, jati dirimu yang sesungguhnya," ucap Sinta seperti tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Di mana orang tuaku sebenarnya?"


"Apa! Tidak mungkin. Ini pasti tidak benar. Kamu pasti bohong padaku, iyakan? Kamu pasti membohongi aku lagi, Sinta!" kata Rama sambil menahan rasa sakit yang menyentuh hatinya.


"Aku tidak bohong. Mereka semua tewas dalam sebuah kecelakaan saat .... "


'Tidak, aku tidak bisa menceritakan semuanya pada Rama. Karena di sini juga ada Saras dan anaknya. Mereka pasti bisa menyimpulkan sebuah kejanggalan yang terjadi dalam kecelakaan waktu itu. Tidak-tidak, aku tidak boleh mengungkit soal kecelakaan puluh tahun yang lalu, atau mereka akan menyeret aku ke jalur hukum,' kata Sinta dalam hati.


"Ayo katakan padaku! Kenapa kamu malah diam saja, hah!" Rama membentak Sinta yang tiba-tiba melamun setelah menggantungkan kalimatnya.

__ADS_1


"Aku tidak ingat lagi bagaimana kejadian yang sebenarnya. Karena itu sudah sangat lama," ucap Sinta pura-pura tidak tahu.


"Tidak ingat, atau sengaja tidak ingin menceritakan seperti apa kejadian waktu itu?" tanya Zia tidak tahan untuk tetap diam.


"Diam kamu, Zia. Jangan coba-coba ikut campur dalam masalah ini. Kamu tidak ada sangkut pautnya dalam masalah ini, jadi jangan ikut campur." Sinta bicara dengan nada marah, karena ia benar-benar kesal sekarang.


"Apa! Kamu minta aku diam? Kamu bilang aku tidak ada sangkut paut dalam masalah yang terjadi sekarang. Apa kamu lupa siapa aku? Apa yang telah kamu lakukan pada keluargaku? Apa kamu melupakan semua itu?" tanya Zia sangat kesal.


"Diam. Ini bukan soal kamu dan rumah tanggamu. Tapi ini soal Rama."


"Sinta, kelihatannya ada yang janggal dengan ucapan kamu barusan. Seperti ... ada sebuah ketakutan yang sedang kamu sembunyikan dalam ucapan itu," kata Saras juga ikut bicara setelah terdiam beberapa lama.


"Diam kalian berdua. Ini antara aku dengan Rama, sebaiknya, kalian tidak perlu ikut campur karena ini tidak ada sangkut pautnya dengan kalian."


"Untuk kamu Rama, temui aku di rumah jika masih ada yang ingin kamu tanyakan lagi padaku," kata Sinta sambil beranjak dari tempatnya.


Melihat Sinta yang ingin kabur dari permasalahan yang sedang mereka bicarakan, Saras dengan cepat menarik tangan Sinta agar tidak bisa meninggalkan rumah ini.


"Mau ke mana kamu, hmm?" tanya Saras sambil mengangkat sebelas alisnya.


"Lepaskan aku!"

__ADS_1


"Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan kamu lari dari apa yang telah kamu lakukan, Sintawati."


__ADS_2