Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 54


__ADS_3

Mereka berdua kembali menciptakan keributan dengan berdebat lagi. Ziana yang sudah tidak tahan melihat dua laki-kaki dewasa yang memperdebatkan hal kecil, segera beranjak meninggalkan meja yang mereka duduki.


Melihat Zia pergi, Rama dan Zein menghentikan perdebatan itu. Mereka merasa bersalah dengan Zia atas apa yang mereka lakukan.


"Ini semua gara-gara kamu. Kamu lihat sekarang, Zia pergi meninggalkan tempat ini, padahal aku ingin bicara empat mata dengannya," kata Rama kesal sambil menatap tajam ke arah Zein.


"Lho, kenapa kamu malah nyalahin aku. Zia itu juga gak akan pergi jika kamu gak mancing keributan dengan aku. Kamu yang salah, tapi malah nyalahin aku," kata Zein tak mau kalah.


"Sebenarnya, kamu ini siapa sih? Ikut campur aja urusan aku sama Zia," kata Rama sangat kesal.


"Kamu tanya aku siapa? Bukankah tadi aku sudah katakan siapa aku. Apa kamu lupa? Aku ini Zein Martin."


"Aku tidak peduli siapa kamu, jadi jangan bangga dengan nama belakang yang kamu punya. Sekarang, tolong jangan dekati Zia lagi. Karena aku gak akan pernah membiarkan siapapun mendekati Ziana."


"Kamu tidak punya hak melarang aku mendekati Zia. Karena sekarang, Zia bukan milik kamu," kata Zein kesal.


"Siapa bilang dia bukan milik aku? Asal kamu tahu, aku akan dapatkan Zia kembali. Jadi, kamu jangan bermimpi untuk memiliki mantan istri aku itu," kata Rama dengan tatapan kesal. Setelah berucap seperti itu, ia meninggalkan Zein tanpa membiarkan Zein menjawab apa yang ia katakan.


Restu mendengarkan semua yang terjadi antara Rama dan Zein. Sejujurnya, ia tidak suka kalau Rama dekat-dekat dengan Zia. Ia tidak ingin Zia terluka lagi karena Rama yang tidak tegas dalam mengambil keputusan, juga karena Rama adalah laki-laki yang lemah menurut pendapat Restu.


Tapi, Restu sebenarnya juga tidak suka jika Zein mendekati Zia. Bukan karena apa-apa, hanya karena hatinya yang tidak bisa menerima kalau Zia bersama laki-laki lain.


Namun, sekarang Restu sadar, kalau Zein lebih baik dari Rama. Ia lebih rela jika Zein yang menjadi pendamping Zia sekarang. Soal hatinya, Restu mulai meyakinkan diri sendiri, kalo dia tidak pantas untuk memiliki rasa yang berlebihan pada Zia.

__ADS_1


Perasaan itu tidak boleh melebihi dari perasaan antara bos dan bawahaan. Setidaknya, perasaan itu tidak akan menimbulkan duri yang bisa menyakitkan bagi mereka berdua.


Restu menarik tangan Zein yang ingin keluar dari restoran tersebut. Zein melihat tangannya yang berada dalam genggaman Restu, ia pun mengalihkan pandangannya dari tangan menuju wajah Restu.


"Kenapa kamu menahan tangan ku?" tanya Zein penasaran dengan apa yang Restu lakukan.


"Aku ingin bicara. Bisakah kamu tetap di sini sebenar, dan dengarkan apa yang ingin aku katakan," kata Restu sambil menatap wajah Zein.


"Ya sudah, aku akan dengarkan apa yang ingin kamu katakan padaku. Tapi, aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku harap kamu bicara cepat dan tidak berbelit-belit."


"Baiklah. Silahkan duduk terlebih dulu."


Zein melakukan apa yang Restu katakan. Ia menarik kursi lalu mendudukinya.


"Mau bicara soal apa?" tanya Zein tak sabaran.


"Soal Zia? Ada apa memangnya? Apa yang ingin kamu katakan tentang Zia?"


"Barusan yang bertengkar dengan mu itu adalah pak Rama, mantan suami mbak Zia."


"Aku tahu siapa tadi. Jadi, kamu tidak perlu menjelaskan lagi siapa dia padaku, Restu."


"Jadi, apa kamu sudah tahu kalau mbak Zia itu janda?"

__ADS_1


"Ya. Aku sudah tahu status Zia itu janda. Lalu, apa masalahnya?"


"Kamu tidak keberatan dengan status mbak Zia itu? Atau, kamu hanya sekedar ingin main-main saja dengan mbak Zia."


"Apa? Ya Tuhan, yang benar saja kamu kalo ngomong. Apa aku kelihatan begitu tidak punya kerjaan sampai kamu berani bicara seperti itu padaku, Restu?"


"Aku hanya bicara soal kemungkinan. Sebuah kemungkinan bisa saja terjadi, bukan? Mana tahu, kamu sengaja mendekati mbak Zia bukan karena benar-benar kamu suka sama mbak Zia."


"Cukup. Rasanya aku bukanlah seorang pengangguran yang tidak punya kerjaan. Yang dengan senang hati menghabiskan banyak waktu ku hanya untuk mendekati perempuan demi kesenangan yang seperti kamu katakan barusan."


"Dengar Restu, aku mendekati Zia bukan untuk main-main. Aku mendekati dia itu karena aku beneran suka dia. Aku tidak peduli apa yang kalian pikirkan. Dia janda, gadis atau apa. Itu tidak penting buat aku. Selagi dia bukan istri orang, aku rasa, tidak ada salahnya jika aku jatuh cinta dan memperjuangkan perasaan cinta ini," kata Zein bicara panjang lebar pada Restu.


"Benarkah apa yang kamu katakan barusan pak Zein Martin? Apakah aku bisa mempercayai kata-katamu barusan?" tanya Restu mencari celah untuk melihat keyakinan dari kata-kata yang Zein ucapkan.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas, aku telah mengatakan apa yang ada dalam hatiku. Urusan percaya atau tidaknya, itu tergantung kamu sendiri."


"Kalo gak ada yang mau dibicarakan lagi, aku mau pergi sekarang," ucap Zein sambil bangun dari duduknya.


"Tunggu!" Restu menahan tangan Zein dengan cepat.


"Ada apa lagi? Bukankah kita sudah selesai bicara?"


"Belum. Aku belum membicarakan apa yang ingin aku bicarakan. Bisakah kamu diam di sini sebentar saja lagi?"

__ADS_1


"Sebenarnya, kamu ini mau bicara apa sih Restu? Cepatlah bicara, jangan buat aku menunggu terlalu lama. Aku masih harus mengerjakan apa yang harus aku kerjakan," kata Zein dengan nada kesal. Namun, ia mengikuti apa yang Restu katakan. Duduk kembali ke tempat duduknya.


"Pak Zein, aku ingin katakan kalau aku akan mendukung kamu bersatu dengan mbak Zia. Jika kamu benar-benar tulus mencintai mbak Zia, maka aku akan membantu kamu untuk mendapatkannya."


__ADS_2