
Melihat Zein tertegun, Zia berinisiatif untuk memanggilnya.
"Zein."
Panggilan itu tidak mampu menyadarkan Zein dari lamunannya. Ia masih saja diam tertegun dengan pikirannya sendiri.
"Zein." Zia mengulangi panggilannya lagi. Kali ini, bukan hanya panggilan saja, Zia menyertai panggilan itu dengan sentuhan agar Zein tersadar dari lamunannya.
"Ah, iya," ucap Zein agak kaget.
"Kamu melamun, Zein?" tanya Zia.
"Nggak kok, Zi. Aku gak melamun."
"La terus? Barusan aku panggil-panggil, kamu gak ngeh sama sekali. Harus aku pukul baru sadar."
"Aku ... Zia, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Tolong jawab dengan jujur pertanyaan ku ini," kata Zein dengan wajah serius.
"Mau tanya padaku? Tanya apa?"
"Aku ingin bertanya soal, mantan suami kamu. Sebelumnya aku minta maaf jika aku terlalu lancang untuk bertanya soal ini padamu. Tapi, hal ini begitu mengganggu pikiranku. Sehingga aku tidak bisa tenang sebelum aku bertanya padamu. Bagaimana jika mantan suamimu mengajak kamu rujuk kembali? Apa kamu akan menerimanya?"
"Tidak." Zia menjawab singkat apa yang Zein tanyakan.
"Be--benarkah? Kamu yakin dengan jawaban kamu ini?" tanya Zein dengan sangat bahagia.
"Zein, aku sangat yakin dengan apa yang aku katakan. Hati ini sudah mati. Rasa cinta ini sudah habis saat dia menyakiti aku dengan pengkhianatan yang ia berikan padaku. Jadi, tidak ada lagi kata bersama antara aku dan mas Rama."
"Kalo gitu, terima kasih banyak untuk jawaban yang kamu berikan padaku, Zia," ucap Zein sambil tersenyum manis.
"Terima kasih? Kenapa kamu malah berterima kasih padaku, Zein? Aku tidak melakukan apapun untuk kamu. Kenapa harus berterima kasih?" tanya Zia bingung.
"Jawaban ini membuat aku merasa bahagia. Makanya aku berterima kasih. Kamu tahu bukan, kalau aku punya sebuah harapan yang selama ini aku harapkan kamu membalas harapanku dengan harapan yang sama?"
"Zein, ini bukan saat yang tepat untuk membalas harapan yang kamu miliki. Apa kamu lupa? Kita punya banyak masalah yang belum terselesaikan?"
__ADS_1
"Aku tahu. Tapi, aku selalu menunggu kamu balas harapan aku ini segera. Semoga saja secepatnya bisa merubah hubungan kita menjadi nyata."
_________
Riska dan Laila dikenakan tuduhan bersalah karena semua bukti yang Zia miliki. Namun, keduanya dikenakan hukuman yang berbeda karena tuduhan yang berbeda pula.
Riska dikenakan hukuman sepuluh tahun penjara karena tuduhan pencurian tersebut. Sedangkan Laila, ia harus menerima hukuman dua kali lipat dari hukuman yang Riska dapatkan. Karena Laila juga dituntun oleh pasal pencemaran nama baik, juga percobaan pembunuhan yang Rama laporkan.
"Puas kamu Zia, aku sudah mendapatkan hukuman atas apa yang aku lakukan padamu?" tanya Laila saat ia akan di bawa kembali ke tahanan.
"Kamu pantas mendapatkannya. Karena apa yang kamu lakukan memang harus diberi pelajaran agar kamu merasakan seperti apa rasanya sakit." Bukan Zia yang menjawab pertanyaan itu, tapi Rama.
"Sebenci itukah kamu padaku, mas? Sampai-sampai kamu tega melakukan semua ini padaku. Aku tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Ternyata, kamu itu tidak punya hati," kata Laila dengan tatapan tajam melihat ke arah Rama.
"Sudahlah, jangan banyak omong. Terima saja semua ini. Karena kamu memang pantas mendapatkannya. Satu hal lagi, aku sudah mengurus soal perceraian kita. Kamu hanya tinggal tunggu suratnya datang saja. Aku akan antarkan ke kantor polisi jika sudah siap."
"Kamu jahat mas Rama. Jahat sekali!" kata Laila begitu kesal dan sedih.
Riska dan Laila lalu di bawa kembali ke kantor polisi untuk di penjara seperti apa yang telah diputuskan oleh hakim tadi. Mereka harus menghentikan adu mulut tersebut karena waktu yang di berikan pada Laila untuk bicara dengan orang yang ingin ia ajak bicara sudah habis.
Zia menatap punggung Laila dan Riska yang dibawa polisi meninggalkan tempat tersebut semakin menjauh. Ada rasa sedih dalam hatinya melihat semua itu. Meskipun kejahatan yang telah mereka lakukan pada Zia memang harus mendapatkan hukuman agar memperoleh efek jera, namun tetap saja, hati Zia merasa sedih dengan semua itu.
"Apa yang kamu katakan, Zi? Mereka pantas mendapatkannya. Karena apa yang mereka perbuat harus mereka pertanggung jawabkan.
Jika tidak mendapatkan hukuman seperti ini, mereka tidak akan jera," kata Rama.
"Iya, pak Rama ada benarnya, Zia. Hukuman ini adalah balasan atas apa yang mereka lakukan. Jika mereka tidak mendapatkan hukuman seperti ini, maka mereka tidak akan merasa jera," ucap Zein membenarkan.
"Iya aku tahu ini hanya untuk memberikan efek jera pada mereka berdua. Tapi, hukuman ini terlalu lama buat mereka."
"Zia, udah ya. Jangan dipikirkan lagi soal ini. Semua ini sudah terjadi, mau tidak mau, kita hanya bisa membiarkan saja. Lagipula, kamu tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting seperti ini, Zia. Sekarang, aku antar kamu pulang ya. Biar kamu bisa istirahat di rumah," ucap Zein sambil memegang kedua bahu Zia.
"Kamu apa-apaan sih? Enak aja sentuh-sentuh Zia," kata Rama sambil menepis tangan Zein.
"Dia gak akan pulang sama kamu. Zia akan pulang sama aku, karena aku yang akan mengantarkannya pulang," kata Rama lagi.
__ADS_1
"Oh, tidak bisa. Zia akan pulang dengan aku. Tidak ada alasan untuk pulang dengan, pak Rama," kata Zein dengan tegas.
"Tidak. Aku yang akan mengantarkannya pulang."
"Tidak bisa. Zia pulang dengan aku sekarang," kata Zein bersikeras.
"Cukup!" Zia berteriak karena tidak ingin terus mendengarkan perdebatan Zein dan Rama.
"Aku gak akan pulang dengan kalian berdua," kata Zia lagi.
"Lho, kenapa Zia? Kalo gak pulang sama aku, kamu mau pulang sama siapa dong? Jangan bilang kamu mau pulang sendiri ya Zia. Karena aku gak akan biarkan kamu pulang sendirian," kata Zein.
"Aku juga gak akan biarkan kamu pulang sendirian Zia. Ayo, aku antar kamu pulang sekarang," ucap Rama pulang.
"Tidak. Seperti yang telah aku katakan, aku gak akan pulang dengan kalian berdua. Aku akan pulang dengan mobilku sendiri."
"Restu, ayo kita jalan sekarang," kata Zia pada Restu yang memang sudah ada di sana sejak tadi.
"Baik mbak."
"Kalian bisa melanjutkan perdebatan kalian selama yang kalian mau sekarang. Karena aku akan pulang bersama Restu," kata Zia sebelum. beranjak.
"Ta--tapi Zi .... " Rama berusaha mencegah namun tidak ada hasilnya. Zia terus melanjutkan langkah tanpa menoleh.
Melihat Zia yang sudah berjalan duluan meninggalkan tempat itu, Zein juga mengikuti apa yang Zia lakukan. Ia juga meninggalkan tempat itu walaupun Zia tidak pulang bersamanya.
"Tunggu!" kata Rama menghentikan langkah Zein.
"Ada apa lagi pak Rama?" tanya Zein dengan nada malas.
"Ini semua karena kamu. Jika tidak, Zia sudah pasti mau aku antar pulang sekarang. Mau kamu itu apa sih?" tanya Rama kesal.
"Pak Rama tanya mau aku apa? Sudah pasti pak Rama tahu apa mau ku yang sesungguhnya," kata Zein dengan tatapan tajam.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mendekati Zia. Karena aku, mantan suaminya akan kembali bersama Zia lagi," kata Rama mantap dengan seribu percaya diri.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti, pak Rama. Permisi."
Zein kembali beranjak meninggalkan tempat ini, juga meninggalkan Rama yang terdiam dengan kata-kata yang Zein ucapkan.