
"Gila kamu ya, Zein. Aku gak mungkin pergi meninggalkan kota ini. Aku gak ingin meninggalkan tempat kelahiran ku yang penuh kenangan ini."
"Lalu, apa lagi yang bisa aku lakukan sekarang, Riska? Tidak ada. Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi."
"Kamu datang ke sini membawa kerja sama perusahaan Martin grup untuk bekerja sama dengan perusahaan Zia. Bagaimana jika kamu pekerjakan aku di kantor Zia sebagai utusan dari perusahaan kamu. Aku yakin, kalau itu posisi yang bagus untuk aku," ucap Riska sambil tersenyum manis.
"Kerja di kantor Zia?" tanya Zein seakan tak percaya dengan apa yang Riska katakan.
"Iya. Kenapa? Kamu keberatan ya? Atau, aku tidak pantas bekerja di kantor Zia karena aku bukan lulusan luar negeri? Atau .... "
"Sudah. Jangan banyak omong yang tidak jelas, Riska. Nanti, aku akan bicara dengan Zia soal ini. Jika ia tidak keberatan, maka aku akan pekerjakan kamu di kantor Zia sebagai perwakilan Martin grup," kata Zein memotong perkataan Riska.
"Benarkah?" tanya Riska dengan senyum manis.
"Hmm," ucap Zein sambil menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba, sebuah kemungkinan melintas melewati benak Riska. Ia merasa takut kalau Zia tidak mau menerima dirinya bekerja di kantor tersebut. Kebahagiaan itu seketika lenyap dan berganti dengan rasa cemas.
"Zein."
"Ya."
"Bagaimana jika Zia tidak mau menerima aku bekerja di kantornya?"
"Tidak mungkin. Aku yakin kalau Zia pasti mau menerima kamu. Kamu tenang aja, biar aku yang bicara dengannya."
"Ya, baiklah kalo gitu. Aku tunggu kabar baiknya dari kamu Zein. Semoga aja aku cepat bisa bekerja di perusahaan Zia. Biar aku tidak pusing memikirkan tanggunganku lagi."
__ADS_1
___
Zein mengajak Zia bicara di cafe. Tujuan Zein tak lain ialah, ingin membicarakan tentang Riska yang ingin ia jadikan wakil dari perusahaan Martin Grup miliknya.
"Zia, aku ajak kamu bertemu karena aku ingin membicarakan soal pekerjaan dengan mu."
"Oh, kenapa harus bertemu di luar? Kenapa gak langsung bicara di ruangan aku aja?"
"Aku ingin merasakan suasana berbeda di sini. Jika kita ngobrol di ruangan kamu, kita tidak bisa merasakan udara luar, bukan?"
"Hmm ... jangan terlalu banyak drama Zein, aku yakin ada sesuatu yang berat yang ingin kamu katakan padaku. Ayo cepat katakan sekarang! Sebelum aku menjadi kesal," ucap Zia seakan tahu apa yang sedang ingin Zein katakan.
"Kamu luar biasa, Zia. Kamu bisa baca niat aku. Sungguh luar biasa."
"Sudahlah, jangan banyak menyanjung aku seperti itu. Satu hal yang harus kamu ingat, jika hati terlalu banyak menerima rasa sakit, maka tingkat kewaspadaan akan semakin tinggi. Sedikit saja ada perubahan sikap, maka akan sangat mudah mencium aroma yang berbeda."
"Ya-ya, aku memahami maksud dari kata-kata yang kamu ucapkan barusan. Tolong, jangan sindir aku lagi kedepannya. Aku merasa tidak enak hati."
"Baiklah. Aku ingin bicara soal wakil dari Martin grup yang akan aku tempatkan di kantor kamu. Dan, aku sudah menemukan orangnya."
"Oh, bagus kalo kamu sudah menemukan orang yang tepat untuk menjadi wakil dari perusahaan mu. Siapa dia?"
"Dia Riska. Sahabat masa kecil ku. Aku yakin kalau kamu sudah kenal dengannya."
"Riska?" Zia sedikit kaget dan tak percaya. Namun, ia tidak ingin menunjukkannya. Ia berusaha tetap tenang saat ia mendengarkan siapa orang yang telah Zein pilih. Meskipun merasa tidak yakin untuk menerima orang yang Zein pilih, namun Zia bukan orang yang tidak menghargai orang lain.
"Ada apa Zia? Apa kamu tidak menyetujuinya?" tanya Zein agak cemas.
__ADS_1
"Oh tidak. Aku tidak bicara seperti itu. Jika kamu telah memilih dia, maka aku akan terima dia di kantorku. Aku tidak merasa keberatan karena itu adalah pilihanmu."
"Aku tidak akan menempatkan Riska di kantormu jika kamu tidak setuju Zia. Karena itu kantormu, meskipun dia wakil dari perusahaan ku, tetap saja, harus ada kata setuju dari kamu, bukan?"
"Aku tidak keberatan dengan apa yang menjadi keputusanmu Zein. Jika itu pilihan terbaik menurut kamu, maka tempatkan lah dia sesuai posisi yang kamu inginkan," kata Zia berusaha tetap tenang.
"Baiklah kalau gitu, aku akan tempatkan Riska di kantor kamu. Aku mohon bimbingan kamu untuk Riska. Dia masih baru, butuh banyak bimbingan dan penyesuaian diri. Kamu bisa kan, Zia?"
"Kalo untuk itu aku tidak bisa janji, Zein. Aku tidak bisa membantu kamu membimbing Riska karena .... " Zia menggantungkan kalimatnya, membuat Zein menebak apa kelanjutan dari kata-kata yang Zia ucapkan.
"Karena apa, Zia? Karena kamu dan Riska selalu berbeda pendapat?" tanya Zein menebak.
"Tidak juga. Aku dan Riska tidak dekat, jadi, sepertinya aku dan Riska tidak pernah berbeda pendapat akibat ketidakdekatan itu," kata Zia berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang Zein pikirkan.
"Ya sudah Zia, jangan dipikirkan lagi. Aku gak akan paksa kamu buat bimbing Riska. Hm ... aku juga gak akan meletakkan Riska di kantor kamu ini," kata Zein sambil tersenyum.
"Lho, kenapa? Bukannya kamu bilang kamu akan tempatkan Riska di kantor aku sebagai wakil dari perusahaan kamu?" tanya Zia merasa kaget dengan apa yang Zein katakan barusan.
"Tidak jika kamu tidak menginginkannya."
"Maksud kamu?"
"Zia, aku tahu kalau kamu keberatan jika aku menempatkan Riska di kantor kamu. Meskipun kamu tidak mengatakan hal itu, namun aku bisa melihat semuanya dari wajah kamu."
"Zein."
"Sudah. Jangan dibahas lagi. Sekarang, cepat habiskan minumannya karena kamu akan segera aku antar kan kembali ke kantor. Dua puluh menit lagi, kamu akan menghadiri rapat penting, bukan?" Zein bicara sambil melihat jam di tangannya.
__ADS_1
"Iya."
Zia melakukan apa yang Zein katakan. Dalam hati, Zia tersenyum bahagia karena sikap Zein barusan. Rasa bahagia itu benar-benar menyelimuti hati Zia sehingga ia tidak bisa menyembunyikannya. Zia tersenyum sambil menikmati minuman yang ada di mejanya.