
Ternyata, pikiran jahat tidak pernah meninggalkan orang-orang seperti Laila. Dengan cepat, sebuah ide jahat muncul di benaknya. Ia pun menjalankan ide jahatnya dengan tiba-tiba berpura-pura pusing.
Laila tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke lantai sambil memegang kepalang. Rama dan Zia yang tadinya saling tatap, kini menjadi kaget dengan apa yang terjadi.
"Laila!" Rama dengan cepat menghampiri tubuh Laila yang jatuh terduduk di lantai tersebut.
"Mas." Laila berucap dengan suara lemas sambil terus memegang kepalanya.
"Ada apa Laila? Apa yang terjadi?" tanya Rama sebisa mungkin menunjukkan wajah cemas.
"Mas, kepalaku, kepalaku rasanya sangat sakit. Ke--kenapa semua yang ada di sekitarku berputar-putar mas Rama?" tanya Laila sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Ya sudah, kita ke dokter sekarang," kata Rama sambil bersiap-siap mengangkat tubuh Laila.
"Gak, mas. Gak perlu. Kamu bawa aku ke kamar saja. Biarkan aku istirahat di kamar. Aku yakin, sakit ini akan sembuh jika aku sudah beristirahat. Ini pasti efek dari aku yang banyak pikiran, mas Rama."
"Ya sudah kalau gitu, aku akan bawa kamu ke kamar sekarang," kata Rama sambil mengangkat tubuh Laila.
Laila yang berada dalam gendongan Rama, tersenyum mengejek ke arah Zia. Kebetulan, saat itu, Zia sedang melihat Laila yang diangkat oleh Rama.
'Gak papa kamu menang jika kita berhadapan langsung. Tapi kamu harus ingat, aku adalah ratu drama yang pastinya akan memainkan peranku dengan sangat baik. Aku yakin, kamu pasti akan sangat sakit hati sekarang,' kata Laila dalam hati.
Melihat senyum licik mengejek dirinya. Zia baru mengerti kalau ini semua adalah sandiwara yang Laila mainkan untuk membuat sakit hatinya. Zia menarik napas panjang, lalu membuat dengan pelan. Itu ia lakukan untuk menahan rasa sakit yang ada dalam hatinya.
Bohong jika ia mengatakan kalau dirinya tidak merasakan sakit hati saat melihat Rama bersama perempuan lain. Apalagi Rama dan perempuan itu bermesraan. Tapi ia berusaha agar rasa sakit itu tidak pernah terlihat oleh siapapun. Karena Zia tidak ingin, ada orang yang merasa bahagia atas sakit yang ia rasakan.
__ADS_1
Rama membawa Laila menuju kamar utama. Saat Zia melihat hal itu, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencegah langkah Rama yang akan masuk ke kamar tersebut.
"Mas! Tunggu!" Zia berteriak dengan suara nyaring.
Seketika, langkah Rama terhenti. Ia membalikkan tubuhnya untuk melihat Zia yang berjalan semakin mendekat.
"Ada apa!" tanya Rama dengan nada tak kalah tinggi.
"Ngapain kamu bawa dia ke kamar aku, hah!"
"Kamar kamu? Gak ada kamar kamu lagi sekarang. Ini sudah menjadi kamar aku dan Laila," kata Rama dengan wajah sepertinya tidak merasakan rasa bersalah sedikitpun.
'Akhirnya, aku berhasil juga. Inilah yang aku tunggu-tunggu sejak tadi. Melihat kamu marah, terbawa emosi, terus bertengkar deh kalian berdua,' kata Laila dalam hati sambil tersenyum dalam gendongan Rama.
"Apa aku gak salah dengar mas Rama?" tanya Ziana lagi.
"Gak! Kamu gak salah dengar. Kamar ini bukan lagi kamar kamu. Ini kamar aku dan Laila. Apa kurang jelas apa yang aku katakan barusan?"
"Gila. Apa kamu gak waras sekarang mas, hah!"
"Terserah kamu mau bilang aku apa. Yang jelas, ini kamar kami sekarang. Kamu jangan lupa apa status kamu saat ini, Ziana," kata Rama sambil melanjutkan langkahnya untuk membawa Laila ke kamar.
"Mas Rama berhenti atau kamu pergi dari rumah ini!" Zia benar-benar tidak bisa menahan rasa kesalnya. Ia berteriak keras pada Rama.
"Kamu jangan lupa kalau ini bukan rumah kamu, tapi rumah aku," kata Zia lagi.
__ADS_1
Mendengar perkataan Zia barusan, Rama langsung menghentikan langkah kakinya. Ia memutar tubuh, dengan tatapan tajam, Rama menatap Zia.
'Ya Tuhan, Zia usir aku dari rumah ini? Apakah ini benar? Atau aku hanya sedang bermimpi. Zia .... ' Rama menangis dalam hati.
"Aku akan pergi dari rumah ini. Jika itu yang membuat kamu merasa puas dan bahagia,' kata Rama dengan tatapan tajam dan perasaan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
'Ya ampun, tidak-tidak. Bukan ini yang aku inginkan. Aku gak mau pindah dari rumah ini. Aduh, kok jadi gini ya,' kata Laila dalam hati dengan perasaan panik.
'Maafkan aku mas Rama. Aku tidak berniat mengusir kamu dan mengungkit hak milik atas rumah ini. Ya Tuhan, aku tahu ini dosa, tapi aku gak sanggup melihat perempuan itu menguasai semua milik aku. Dia udah rebut mas Rama dari aku, dia juga udah pakai pakaian aku, sekarang, dia juga ambil kamar aku. Mungkin, sebentar lagi, dia juga akan ambil nyawa aku,' ucap Zia dalam hati dengan wajah sangat sedih.
"Laila, aku akan bawa kamu pindah dari rumah ini. Seperti yang kamu ketahui, ini bukan rumah aku. Dan barusan, kamu juga udah dengar kalau pemilik rumah ini sudah mengusir kita berdua dari sini. Kita akan pergi sekarang."
"Tapi mas Rama, aku belum bisa jika kamu ajak pergi jauh-jauh. Sakit kepala ini bisa semakin bertambah atau bahkan mungkin bisa berakibat fatal jika aku kamu bawa pergi-pergi, mas. Cobalah minta kerendahan hati dari mbak Zia, kita tinggal di sini sampai sakit kepala aku ini sembuh," kata Laila dengan wajah yang ia usahakan sebisa mungkin terlihat menyedihkan.
"Tapi La."
"Mas, aku mohon. Jangan dengarkan apa yang mbak Zia katakan demi aku, mas."
"Ya udah kalo gitu. Aku akan tinggal di sini sampai kamu sembuh. Setelah kamu sembuh, aku akan bawa kamu pergi dari rumah ini."
"Iya, mas."
'Tidak akan. Aku gak akan mau kamu ajak pergi dari rumah ini. Aku tetap mau tinggal di rumah ini. Selain aku gak ingin kamu buang-buang uang hanya untuk beli rumah baru, aku juga gak ingin membiarkan Ziana merasa menang dengan kepergian aku dari rumah ini,' kata Laila dalam hati.
'Asal kamu tahu mas, aku akan buat Ziana menyerahkan rumah ini pada kita, padaku yang jelasnya,' kata Laila dalam hatinya lagi.
__ADS_1