
"Zein, tunggu!"
"Ada apa lagi sih Ris?" tanya Zein dengan kesal.
"Lo mau ke mana?"
"Ya ke tempat Zia lah. Mau ajak dia saran bersama," ucap Zein sambil tersenyum.
"Gak bisa!"
"Lho, kenapa gak bisa."
"Orangnya gak ada di tempat."
"Gak ada?" tanya Zein penasaran.
"Ya." Riska menjawab singkat.
"Tahu dari mana lo kalo Zia gak ada."
"Ya gue lihatlah. Tadi, gue gak sengaja lihat dia pergi. Sama cowok. Gak tahu ke mana." Pada akhirnya, Riska mengatakan juga niat awalnya datang ke tempat Zein.
"Sama cowok?" tanya Zein lagi.
"Ya."
"Zein, gue sarankan sama lo, jauhi saja Zia. Lo gak tahu siapa dia, bukan? Latar belakangnya juga gak tahu, Zein. Mumpung masih permulaan."
Bukannya menjawab apa yang Riska katakan, Zein malah tersenyum manis pada Riska. Senyuman yang tidak bisa Riska tebak apa sebabnya.
"Ngapain lo malah senyum, Zein? Gue serius dengan apa yang gue katakan. Gue peduli sama lo Zein. Karena gue sa .... " Riska menggantungkan kalimatnya. Ia tidak bisa menyambung lagi kata-kata itu.
"Mak-mak kontrakan. Udah ya, jangan banyak pikiran lagi. Gue tahu apa yang sedang gue pikirkan. Gue tahu lo peduli sama gue. Tapi, lo gak usah cemas. Karena teman lo ini, paling tahu apa yang dia lakukan," kata Zein sambil memegang bahu Riska.
Riska tidak bisa berkata apa-apa selain menarik napas panjang. Zein tidak mudah untuk di pengaruhi. Dia gak akan mudah mendengarkan omongan jika tidak ada bukti.
Sementara itu, Zia baru saja sampai di depan rumahnya. Pagar rumah terbuka saat melihat mobil Restu yang sudah tidak asing lagi di mata satpam penjaga gerbang.
"Selamat pagi mbak Zia. Selamat pagi mas Restu." Satpam itu menyapa Zia dan Restu saat mobil berhenti di depan gerbang.
__ADS_1
"Pagi pak Rahmat," ucap Zia sambil tersenyum.
"Pagi," kata Restu pula.
Restu menjalankan mobil kembali setelah gerbang terbuka sepenuhnya. Lalu, mobil itu ia parkir kan di halaman rumah.
Saat Ziana keluar dari mobil, Rama sudah menunggunya di depan pintu rumah. Bersama Laila yang menatap tajam ke arah Zia yang berjalan semakin mendekat ke arah mereka.
"Zi, seperti yang telah kita sepakati, aku akan pergi dari rumah ini, hari ini. Ini kunci cadangan rumah ini. Aku serahkan kembali padamu," kata Rama sambil menyerahkan kunci rumah pada Zia. Zia menerima kunci tersebut.
"Makasih mas, kamu telah mengembalikan apa yang seharusnya tidak menjadi milik kamu," kata Zia sambil melihat Laila.
"Apa maksud dari perkataan mbak Zia barusan?" tanya Laila merasa tersenggol dengan kata-kata yang Zia ucapkan.
"Tidak ada maksud apa-apa."
"Tunggu. Kenapa kamu yang malah menanyakan maksud dari apa yang aku katakan? Bukankah aku tidak bicara sama kamu? Lagipula, jangan panggil aku mbak-mbak deh. Yang pertama, aku bukan mbak kamu. Yang kedua, aku rasa, jarak umur aku dan kamu itu, tuaan kamu deh kayaknya."
"Kamu!"
Dengan cepat, Rama mencegah apa yang ingin Laila lakukan. Ia menahan tangan Laila dengan erat.
"Laila, aku minta sama kamu, tolong jangan bikin keributan lagi di sini. Apalagi, ini masih terlalu pagi. Gak enak jika ada yang melihat."
"Apa! Aku gak salah dengar apa yang kamu katakan, mas Rama? Yang mulai keributan itu bukan aku. Tapi istri pertama kamu ini. Gak dengar kamu barusan?" tanya Laila dengan amarah yang sudah memuncak juga kekesalan yang tidak bisa ia bendung lagi.
"La, sebaiknya kita pergi sekarang. Karena aku harus ke kantor setelah mengantarkan kamu ke rumah."
"Untuk kamu Zia, kita akan bertemu di pengadilan satu minggu lagi," ucap Rama sambil menarik tangan Laila menuju mobil.
Sampai di mobil, Laila memaksa melepaskan tangannya yang Rama genggam. Ia menatap tajam Rama dengan perasaan sangat kesal.
"Mas, aku kecewa sama kamu. Kamu jahat banget sama aku. Gak belain aku, malah belain istri pertama kamu. Aku tahu, ini semua pasti karena aku keguguran kan? Makanya kamu tega seperti itu padaku," kata Laila dengan wajah sangat sedih.
"Laila cukup! Jangan bahas soal itu lagi dan lagi. Aku gak ingin kamu ungkit-ungkit luka itu lagi. Dan, aku juga gak sedang belain Ziana. Aku hanya gak ingin kalian bertengkar. Karena aku punya perjanjian dengan Ziana."
"Perjanjian? Perjanjian apa mas?"
"Perjanjian yang tidak bisa aku katakan pada kamu. Kamu tidak perlu menanyakan soal perjanjian apa, karena ini adalah perjanjian soal pekerjaan. Lagipula, sebentar lagi, aku dan Zia akan bercerai. Jadi kamu tidak perlu cemas lagi soal rumah tangga kita yang berantakan ini."
__ADS_1
"Benarkah apa yang aku dengar tadi mas? Kamu akan menceraikan istri pertama kamu itu?" tanya Laila tiba-tiba merasa bahagia.
"Ya."
"Bagus deh kalo gitu." Laila berucap sambil tersenyum bahagia.
Rama menatap Laila dengan tatapan kesal. Laila bahagia atas penderitaan yang ia rasakan. Setidaknya, itu yang Rama rasakan saat melihat senyum bahagia yang Laila perlihatkan padanya.
"Kenapa kamu natap aku seperti itu, Mas Rama? Wajar dong kalo aku bahagia."
"Terserah kamu aja. Sekarang, masuk mobil! Hari sudah semakin tinggi, aku harus cepat ke kantor."
Laila menuruti apa yang Rama katakan. Tapi sebelum ia masuk ke mobil, ia menatap Ziana terlebih dahulu. Ia juga melihat sekeliling rumah Ziana. Hatinya masih merasa tidak rela untuk meninggalkan rumah mewah ini.
'Ziana, aku akan pergi dulu dari rumah ini. Tapi kamu jangan senang dulu karena kepergian aku ini. Aku pergi bukan berarti aku kalah. Tapi, aku hanya mengalah untuk menang nantinya. Kamu lihat saja nanti. Tunggu saja pembalasan yang akan aku lakukan atas pengusiran kamu ini,' kata Laila dalam hati sambil menatap tajam Zia.
"Laila. Kenapa kamu malah bengong di situ?" tanya Rama saat melihat Laila yang masih terdiam sambil melihat rumah ke arah rumah.
"Eh iya. Maaf mas," ucap Laila sambil beranjak menuju pintu mobil.
Mereka pun meninggalkan rumah itu. Zia menatap mobil Rama yang semakin menjauh meninggalkan rumahnya.
'Semoga ini jalan yang paling baik untuk kita semua,' ucap Zia dalam hati.
"Mbak." Restu memanggil Zia untuk menyadarkan Zia dari lamunannya.
"Ya Res. Ada apa?"
"Keputusan mbak Zia kali ini adalah keputusan yang paling baik. Maaf, aku tidak bermaksud lancang dengan kata-kata yang aku ucapkan. Tapi, aku tidak ingin mbak Zia merasa menyesal dengan apa yang mbak pilih."
"Mbak tidak menyesal kok Res. Mbak malahan bangga dengan diri mbak sendiri, yang mampu memilih keputusan ini. Yang mbak sesali adalah, kenapa gak dari kemarin-kemarin aja mbak mengambil keputusan ini."
"Tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang benar mbak."
"Ya, kamu benar Restu. Tidak ada kata terlambat."
"Ya sudah, kita berangkat sekarang. Kita harus berangkat ke kantor sekarang," kata Zia sambil melihat jam di tangannya.
"Ya mbak. Ayo!
__ADS_1
Merekapun meninggalkan rumah itu.