
Untuk tidak membuang banyak waktu lagi, Zein segera membawa Zia meninggalkan ruang rawat Restu. Setelah berpamitan pada Restu tentunya. Merekapun meninggalkan kamar itu menuju parkiran rumah sakit. Tempat di mana Zein memarkirkan mobil mereka.
Di dalam mobil, Zia terlihat masih kebingungan dengan apa yang Zein lakukan. Ia menghentikan niat Zein yang ingin menyalakan mesin mobil mereka.
"Zein, apa yang kita lakukan ini? Kenapa kita malah menyerahkan tanggungjawab menjaga Restu pada Lola. Bukankah Lola itu sama seperti kita. Ia juga baru pulang dari luar negeri. Ia pasti merasa lelah saat ini."
"Sayang, Lola memang sama seperti kita. Baru pulang dari luar negeri. Aku tahu, dia pasti merasakan lelah yang sama seperti yang kita rasakan. Tapi, Lola bahagia dengan menemani Restu. Biarkan dia bersama Restu malam ini. Aku ingin melihat usaha adik sepupuku berhasil. Untuk mendukung usaha itu, aku memberikannya waktu yang banyak agar usahanya cepat membuahkan hasil," kata Zein sambil tersenyum.
"Maksud kamu ... Lola sedang berusaha mencuri perhatian Restu? Ia sedang berusaha mendekatkan Restu. Lola suka Restu?" tanya Zia mendadak menjadi orang bego akibat pemikiran itu.
"Yap, tepat sekali. Lola suka sama Restu. Ia sedang berusaha mencuri perhatian Restu saat ini."
"Bagaimana kamu tahu kalau Lola suka Restu. Bagaimana kalau tebakan kamu itu salah, Zein?" tanya Zia agak cemas.
"Sayang, aku kenal Lola bukan satu atau dua tahun. Aku dan Lola itu sepupuan. Sudah kenal dekat sejak kecil. Jadi, sedikit banyak aku memahami sifat Lola karena dia itu lebih banyak tinggal di rumah kami dari pada di rumah orang tuanya," ucap Zein sambil memegang lembut tangan Zia.
"Udah ya, jangan mikirin Lola lagi. Kamu harus banyak istirahat karena aku lihat, wajah kamu agak pucat sekarang. Mungkin kamu sedang kecapean sekali saat ini. Kita harus pulang sekarang agar kamu bisa istirahat dengan nyaman di rumah."
Zia mengangguk pasrah karena ia juga merasakan kelelahan saat ini. Bukan hanya itu, ia merasa sedikit tidak enak badan sejak mereka menaiki pesawat. Tapi, rasa tidak enak badan itu bisa ia atasi saat dapat kabar soal perusahaannya yang sedang dalam bahaya.
Namun sekarang, rasanya, rasa lelah itu kembali lagi. Bahkan, semakin bertambah besar menguasai dirinya. Sehingga, Zia seperti tidak kuat untuk menahan diri lagi. Ia memilih memejamkan matanya saat Zein melajukan mobil menuju rumah.
_______
Seperti yang sudah direncanakan Sintya sebelumnya, subuh ini, mereka akan menciptakan kebakaran seperti yang telah mereka sepakati.
"Augh ... aduh ... sakit. Buk ... tolong aku. Tolong .... " Sintya berpura-pura sakit sambil memanggil penjaga yang berada di sana.
__ADS_1
Mendengar rintihan itu, Riska dan Laila juga menjalankan peran mereka dengan wajah pura-pura panik atas apa yang terjadi pada Sintya. Laila dengan panik berteriak memanggil polisi penjaga. Sedangkan Riska, ia sibuk berusaha menolong Sintya yang sedang mengerang kesakitan.
"Buk polisi tolong! Tolong adik saya!" Laila berteriak keras sehingga membangunkan semua yang ada di sana.
Mendengar teriakan itu, polisi yang bertugas menjaga tahanan tersebut, bergegas menuju sel yang dihuni oleh Sintya.
"Ada apa ini ribut-ribut? Apa kalian gak ada kerjaan lain selain ribut-ribut?" tanya polisi itu dengan kesal.
"Maaf buk polisi, kami tidak akan ribut jika tidak ada masalah. Tolong, buk. Tolong adik saya. Dia sakit perut sekarang. Dia butuh jahe hangat untuk meredakan rasa sakitnya," kata Laila menjalankan sandiwara dengan sebaik mungkin.
"Baiklah. Aku akan buatkan jahe hangat untuk dia," ucap polisi itu sambil bangun dari jongkoknya.
"Tidak perlu, buk polisi. Kami punya resep sendiri untuk membuat jahe hangat setiap sakit perut karena tamu setiap bulan kami. Lagipula, kami tidak enak jika harus menyusahkan ibuk polisi. Untuk itu, izinkan adik saya membuat sendiri jahe hangat untuk ia konsumsi."
Polisi itu memikirkan apa yang Laila katakan. Ada perasaan curiga yang terbesit dalam hatinya, namun, secepat kilat, rasa curiga itu hilang. Polisi itu berpikir, kalau apa yang ia curigai tidak akan pernah terjadi. Karena sel ini di jaga sangat ketat. Mana ada tahanan yang bisa kabur dari penjara ini.
"Kamu yakin kamu bisa bikin jahe hangat sendiri?" tanya polisi itu untuk memastikan keadaan Sintya.
"Bisa ... kok buk. Saya masih bisa bikin jahe hangat sendiri," kata Sintya masih dengan menahan rasa sakit pada perutnya.
"Ya sudah kalo gitu. Kamu bisa pergi sekarang," kata polisi itu sambil membuka pintu.
"Kamu!" Polisi itu menunjuk Riska yang masih berdiri tegak di tempatnya."
"Iy--iya, buk." Riska menjawab dengan perasaan gugup karena takut.
"Kamu boleh temani dia ke dapur untuk membuat jahe hangat."
__ADS_1
"Bagaimana kalo saya saja yang temani adik saya, Buk polisi? Saya bisa bantuin adik saja nanti di dapur," kata Laila menawarkan diri penuh harap.
"Tidak. Kamu tunggu saja di sini. Karena kamu kakaknya, kamu tidak boleh ikut ke manapun adik kamu pergi. Itu akan menciptakan kemungkinan yang bisa saja terjadi."
Laila terdiam. Ia merasa agak takut.
'Apakah polisi ini mencurigai rencana kami. Aku rasa tidak. Tidak mungkin ia bisa membaca rencana yang tidak masuk akal ini,' kata Laila dalam hati.
"Tunggu apa lagi? Kenapa kalian tidak beranjak juga dari sini?" tanya polisi itu pada Sintya dan Riska.
"Ma--maaf buk, kami akan pergi sekarang," kata Riska dengan memapah Sintya.
Sintya dan Riska kini telah berada di dapur. Mereka merasa cemas akan keberhasilan dari rencana yang telah mereka susun. Terutama, Riska. Ia benar-benar cemas saat ini.
"Kamu yakin ingin tetap menjalankan rencana gila kamu ini, Sintya? Bagaimana jika rencana ini gagal?" tanya Riska agak takut.
"Kita tidak akan tahu apakah kita berhasil atau tidak, jika kita belum mencoba. Setelah mencoba baru kita akan tahu apa hasil dari usaha yang telah kita kerjakan."
"Aduh, ke mana mbak Laila? Kenapa belum muncul juga," kata Sintya sibuk memperhatikan
lorong yang ada di depan mereka.
"Mungkin Laila tidak diizinkan keluar oleh polisi galak itu. Huh, jika saja aku sudah bebas dan punya kuasa. Aku akan bunuh tuh polisi yang sangat menyebalkan," kata Riska dengan kesal.
"Bisa. Kamu bisa melakukan apa yang kamu inginkan jika rencana kita ini berhasil. Setelah bebas, kamu bisa menikah dengan seseorang yang punya kuasa. Lalu, kamu bisa menghukum semua orang yang telah menyakiti kamu," kata Sintya mencoba membakar semangat Riska yang telah melemah.
"Kamu benar. Kuncinya hanya satu, bebas dari sini dan aku akan dapat melakukan semua yang aku inginkan," kata Riska sambil tersenyum membayangkan apa yang akan ia lakukan setelah bebas.
__ADS_1