Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 89


__ADS_3

Setelah keadaan memungkinkan untuk mereka masuk ke dalam, barulah Zein dan Zia masuk. Tanpa bicara sepatah kata terlebih dahulu, Zein dan Zia langsung mengulurkan tangan pada Restu dan Lola yang baru saja melepaskan pelukan mereka.


"Kak Zein, kak Zia," kata Lola agak kaget.


"Mbak Zia, mas Zein. Ada apa?" tanya Restu penasaran dengan uluran tangan itu.


"Tidak ada. Hanya ingin mengucapkan selamat pada kalian berdua," kata Zia sambil tersenyum.


"Selamat? Selamat untuk apa?" tanya Lola penasaran.


"Selamat untuk kalian berdua karena telah berhasil mengubah status, dari sahabat, menjadi pasangan," kata Zein menjelaskan.


"Ka--kalian tahu?" tanya Restu agak gugup. Karena ia masih merasa cemas. Restu takut, Zein tidak menyetujui hubungan antara dirinya dengan Lola. Sejauh ini, Restu masih sangat sadar siapa dirinya. Apa statusnya. Makanya, dia gugup dan takut.


"Kenapa kamu kelihatan takut, Restu? Kamu serius kan, ngomong cinta pada adikku?" tanya Zein penuh selidik.


"A--aku serius mas Zein. Bahkan ... bahkan sangat serius. Jika diizinkan, aku bukan hanya ingin pacaran dengan Ola. Melainkan, aku ingin menjadikan Ola istriku secepatnya," kata Restu menjelaskan, melawan rasa takut yang ada dalam hatinya. Menggenepikan semua kemungkinan yang sedang ada dalam benaknya.


"Lho, kenapa minta izin padaku? Aku ini bukan orang tua Lola, Restu. Aku ini hanya kakak sepupunya. Aku tidak bisa ngasih izin padamu untuk menikahi Lola. Kamu harus datangi orang tua Lola, dan minta restu pada mereka. Ya walaupun nama kamu Restu, tapi kamu tetap harus minta restu lagi pada orang tua Lola. Baru kamu bisa menikahi Lola setelah dapat restu dari orang tuanya," ucap Zein panjang lebar malah bercanda.


"Kak Zein, orang serius, kamu malah ajak bercanda," kata Lola pura-pura kesal padahal hatinya bahagia.


"Iya nih, kamu bisa aja deh. Inikan lagi serius, ayah .... " Zia bicara dengan sangat manja sampai lupa dengan panggilannya.


"Ayah?" tanya Restu dan Lola secara bersamaan dengan tatapan penuh selidik, Restu dan Lola saling tatap.


"Ee .... " Zia merasa malu. Tapi mau gimana lagi, apa yang ia katakan, tidak mungkin bisa ditarik kembali.


"Sayang, sudah, kamu tidak perlu malu begitu. Sepertinya kita juga harus membagi kebahagiaan kita pada mereka berdua," kata Zein sambil tersenyum dan merangkul bahu Zia.

__ADS_1


"Membagi kebahagiaan?" tanya Lola sangat penasaran.


"Cepat katakan pada kami, kak Zein! Kebahagiaan apa yang akan kalian bagi pada kami? Aku sudah tidak sabar lagi untuk mendengarkannya," kata Lola lagi dengan nada tak sabaran.


"Kalian juga harus memberikan ucapan selamat pada kami, karena sebentar lagi, kalian akan menjadi om dan tante," kata Zein dengan wajah penuh kebahagiaan sambil mengelus perut Zia.


"Apa? Benarkah apa yang aku dengar ini, kak Zia?" tanya Lola dengan perasaan sangat bahagia.


Zia hanya menjawab dengan anggukan kecil saja apa yang Lola tanyakan. Terlihat wajah malu-malu, namun bahagia di raut wajah cantik miliki Zia.


"Jadi? Mbak Zia sedang hamil sekarang?" tanya Restu antusias.


"Ya iyalah Zia sedang hamil sekarang, Restu. Kamu gak mungkin mikirnya, aku yang hamil tadi kan?" Zein terlihat kesal, namun sebenarnya tidak.


"Ya--ya Tuhan ... benarkah apa yang aku dengar ini?" tanya Restu seakan tidak mempercayai apa yang kupingnya dengar.


"Mbak ... mbak Zia hamil? Hamil be--berapa bulan mbak?" tanya Restu lagi dengan perasaan kaget bercampur bahagia.


"Zein, kamu apa-apaan sih? Restu kan cuma nanya aku hamil udah berapa bulan. Kok kamu malah bilang aneh sih. Gak ada yang aneh dari apa yang Restu tanyakan. Pertanyaan itu wajah kok," kata Zia tidak senang dengan sikap Zein barusan.


"Tau nih kak Zein. Kak Zia yang hamil, eh malah dia yang punya mood buruk. Benar-benar ya." Lola ikutan kesal.


"Maaf sayang. Habisnya, Restu kayak gak percaya gitu kalo kamu hamil. Apa dia juga punya pikiran yang sama dengan .... "


"Zein. Udah deh, jangan bahas apa yang tidak perlu di bahas."


"Maaf ya Restu, sejak mbak hamil, mas Zein yang punya perasaan sangat halus. Gampang marah juga sangat sensitif. Oh ya, mbak hamil baru satu setengah bulan. Masih sangat baru," kata Zia bicara lembut pada Restu.


"Ya Tuhan, bicara sama Restu lembut banget. Lah terus kalo bicara sama aku, galaknya minta ampun," kata Zein bicara kecil pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Apa Zein .... "


"Ayah sayang, ayah .... " Zein memperingati Zia soal apa panggilan yang telah mereka sepakati.


"Masih lama lagi, Zein. Aku akan panggil kamu ayah setelah anak kita lahir. Bukan sekarang."


"Ya udah kalo gitu, kita ubah panggilan kamu ke aku. Kamu panggil aku, mas. Biar aku berasa jadi suami yang sesungguhnya buat kamu."


"Zein." Zia melihat Zein dengan tatapan tajam.


"Sayang, aku gak enak kalo kamu panggil aku nama. Apalagi depan mereka," ucap Zein sambil melihat Restu dan Lola.


"Itu yang aku katakan. Apakah kamu tidak membahas soal ini di rumah saja? Apakah kita harus membahas soal rumah tangga kita di depan mereka berdua, Zein?" tanya Zia agak kesal.


"Maa--maaf sayang. Aku gak sengaja." Zein bicara dengan nada penuh penyesalan.


"Aku dan Restu gak lihat dan dengar kok kak, apa yang kalian katakan. Iya kan, Res?" Lola pura-pura melihat ke arah lain.


"Iya, Ola. Kita gak lihat kok mereka berdua. Anggap saja seperti itu," kata Restu sambil menggoda Zein.


"Oh iya, aku lupa kalo kita belum ngasi selamat pada kak Zein dan kak Zia yang sebentar lagi akan kehadiran anggota keluarga baru," kata Restu pada Ola.


"Iya, aku juga belum Rest. Untung aja kamu ingatkan, kalo nggak, kita pasti lupa mengucapkan kata selamat," kata Lola membenarkan.


"Selamat ya kak Zein, kak Zia," kata Lola sambil mengulurkan tangan.


"Terima kasih banyak Lola," ucap Zia sambil menyambut uluran tangan Lola tersebut.


"Selamat mbak Zia, mas Zein. Semoga lancar sampai malaikat kecil itu lahir," kata Restu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Amin .... " Zein dan Zia berucap bersamaan.


Terlihat sekali kebahagiaan pada raut wajah mereka semua. Sepertinya, kebahagiaan telah menghampiri mereka. Setelah melalui pahitnya cinta berduri, kini mereka bisa menikmati manisnya cinta yang sesungguhnya.


__ADS_2