
Zein dan Zia akhirnya kembali ke tanah air setelah dua minggu mereka berada di luar negeri. Masalah perusahaan yang Zia titipkan pada Restu, kini harus ia ambil alih kembali.
Karena kabarnya, Restu juga sedang sibuk dengan kehidupan pribadinya. Menurut kabar yang Zia dapatkan dari sekretaris pribadi Restu, beberapa hari lagi, Restu akan mengadakan sesi lamaran ke rumah orang tua gadis yang ia cintai.
Tapi, Restu tidak mengatakan apapun pada Zia sehingga Zia tidak tahu menahu soal rencana Restu ini. Ia berusaha menghubungi Restu berkali-kali, tapi yang jawab bukan Restu, melainkan suara perempuan yang mengatakan kalau Restu sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu.
"Mungkin benar sayang, Restu sedang sangat sibuk sekarang," ucap Zein menenangkan hati Zia.
"Sesibuk apa sih dia, Zein? Kenapa tidak bisa angkat telepon dari aku sebagai bosnya. Apa sedikitpun dia tidak ada waktu untuk bicara padaku?" tanya Zia kesal.
"Udah sayang, tidak perlu kamu pikirkan. Bukankah sebentar lagi, kita akan bertemu Restu? Kamu mau kita ke kantor langsing, apa pulang duluan?" tanya Zein sambil memegang bahu Zia dengan lembut.
"Ke kantor langsung saja. Aku ingin melihat kantorku seperti apa setelah dua minggu tidak aku lihat," kata Zia masih murung.
"Iya udah. Kita ke kantor sekarang. Tapi sebelum itu, singkirin nih wajah manyun. Senyum dulu biar enak di lihatnya," ucap Zein mencoba menghibur.
Zia melakukan apa yang Zein katakan. Mencoba untuk senyum di tengah hati gundah. Senyum itu terlihat sekali tidak ikhlas.
"Nah, gitu dong. Meskipun kelihatan banget terpaksa nya, tapi tetap manis kok," kata Zein sambil mencubit gemes pipi Zia. Zia yang mendapat cubitan itu, kini memasang wajah manyun kembali.
"Langsung ke kantor Zia, ya pak," kata Zein ada sopir pribadinya.
"Baik tuan muda."
"Ee ... Zein, di mana Lola?" tanya Zia tiba-tiba ingat dengan adik sepupu Zein yang ikut pulang bersama mereka.
"Dia pulang bersama pacarnya. Pacarnya jemput dia di bandara tadi."
"Hah, masa sih? Aku kok gak sadar ya," kata Zia semakin bingung.
"Gimana mau sadar, orang kamu sibuk ngurusin si Restu. Aku aja sebagai suami nyaris kamu tinggalkan di bandara jika nggak ngikutin kamu dari belakang."
__ADS_1
"Eh ... " Zia tidak punya kata-kata untuk bicara. Ia nyengir kuda ketika mengingat apa yang telah ia lakukan di bandara tadi. Untung aja Zein sigap, ngikutin dia ke manapun ia pergi, jika tidak, mungkin, Zein ke timur, Zia ke barat sekarang.
Mobil berhenti di depan kantor, Zia dan Zein langsung turun untuk melihat apakah kantornya terjadi masalah atau tidak. Karena kabar yang ia dengar, kantornya sedang kacau saat ini.
Zia langsung masuk ke dalam diikuti Zein dari belakang. Para karyawan terlihat kaget saat melihat Zia yang datang ke kantor. Entah apa yang telah terjadi di kantor ini, Zia juga tidak tahu. Karena sekilas, semuanya tampak baik-baik saja. Seperti tidak ada satupun masalah yang terjadi.
"Venty, di mana Restu?" tanya Zia pada sekretaris pribadi Restu.
"Mbak Zia, kapan datang?" tanya Venty agak kaget juga terlihat lega.
"Baru aja. Di mana Restu sekarang. Kok gak ada di ruangan ini?" tanya Zia lagi.
"Restu ... Restu di rumah sakit sekarang, mbak." Venty bicara dengan wajah sedih.
"Ap--apa? Rumah sakit?" tanya Zia dengan wajah tak percaya.
Venty kali ini hanya menjawab dengan anggukan kecil saja. Wajah sedih masih melekat dengan jelas di raut wajah Venty.
Suara keras Zia terdengar oleh semua karyawan. Mereka semua menghentikan pekerjaan mereka, lalu berkumpul melihat Zia yang marah-marah.
"Woy ... kenapa kalian begitu berisik sih, di luar sana? Ganggu aja!" ucap seseorang dari dalam ruangan Zia.
Seketika, Zia merasa kaget dengan suara yang ia dengar dari ruangannya. Selama ini, jika ia tinggalkan dinas keluar kota atau ke luar negeri, ruangan itu tidak ada satupun yang berani memasukinya. Ruangan itu akan selalu terkunci rapat selama ia tidak ada.
Zia berjalan mendekati ruangan tersebut dengan Zein yang selalu mengikuti Zia dari belakang. Dengan perasaan penasaran, Zia membuka pintu ruangan tersebut.
"Siapa sih? Berani banget buka pintu ruangan ini tanpa mengetuk terlebih dahulu," kata perempuan itu kesal.
"Aku!" Zia langsung mendorong pintu itu, memperlihatkan wajah kesalnya pada perempuan itu.
"Mb--mbak Zia! Ka--kapan mbak Zia pulang?" tanya perempuan itu sambil bangun dari duduknya. Ia juga membereskan sisa makanan ringan yang berserakan di atas meja Zia.
__ADS_1
"Kamu! Kenapa kamu ada di sini? Siapa yang mengizinkan kamu berada di ruangan ku?" tanya Zia tak percaya dengan apa yang matanya lihat saat ini.
Di sana, perempuan yang tidak ia kenali dengan pasti, sedang berdiri dengan gugup dan terlihat begitu ketakutan. Sintya, perempuan yang Restu kenalkan lewat vidio call pada Zia beberapa minggu yang lalu, kini berada di ruangan Zia layaknya seorang bos beberapa saat yang lalu.
"Maaf mbak Zia. Aku datang ke sini karena Restu. Restu yang meminta aku datang ke kantor mbak Zia untuk menggantikannya."
"Apa! Restu minta kamu datang ke kantorku? Untuk apa dia minta kamu datang ke sini? Siapa kamu? Sampai dia minta kamu datang dan merusak di sini?" tanya Zia terlalu kesal.
"Zia. Jangan terlalu emosi sayang. Biar aku yang urus semuanya. Kamu serahkan saja masalah ini padaku," kata Zein berusaha menenangkan Zia.
"Tidak bisa Zein. Aku terlalu kesal sekarang. Siapa dia bisa datang dan berkuasa di kantor ini? Seenaknya bikin kekacauan di sini dengan menggantikan aku. Duduk di ruangan ku layaknya seorang bos."
"Aku datang karena Restu yang meminta. Jika bukan karena Restu, aku juga gak akan mau datang ke kantor mu ini," kata Sintya melawan Zia.
"Oh, karena Restu kamu datang ke sini? Memangnya Restu itu siapa? Pemilik perusahaan ini?" tanya Zia semakin kesal.
"Restu memang bukan pemilik perusahaan ini, tapi dia adalah tangan kanan kepercayaan kamu di sini. Iya kan? Dia sudah banyak bantu kamu. Jadi, dia juga punya hak nyuruh aku datang ke sini. Karena aku adalah calon istrinya Restu."
"Apa! Restu punya hak nyuruh kamu? Yang benar saja kamu, perempuan. Punya malu sedikit dong, kamu. Ini bukan kantor Restu. Restu tidak ada hak sedikitpun di sini. Restu itu cuma pegawai yang aku anggap sebagai adik laki-laki ku. Bukan beneran adik," ucap Zia penuh penekanan.
"Venty, kenapa kalian malah membiarkan orang asing masuk ke dalam perusahaan kita? Kenapa kalian tidak mencegahnya?" tanya Zia pada sekretaris Restu itu.
"Maafkan kami mbak Zia. Kami tidak berdaya. Kami takut pak Restu memecat kami, jika kami berani membangkang apa yang pak Restu katakan. Karena seperti yang mbak Zia katakan, pak Restu punya kuasa untuk memecat dan membawa masuk siapa yang ia inginkan. Karena mbak Zia telah memberikan pak Restu wewenang penuh di kantor ini," kata Venty menjelaskan.
"Benar mbak Zia. Kami tidak berani melawan pak Restu. Karena kedudukan pak Restu adalah orang kepercayaan mbak Zia di kantor ini," kata karyawan lainnya membenarkan apa yang Venty katakan.
"Benar mbak," jawab yang lain pula.
"Restu kurang ajar sekali. Dia sungguh berani menyalah gunakan kekuasaan yang aku berikan," kata Zia bergumam dengan sangat kesal.
"Jadi, bukan salah aku berarti, aku berada di sini," kata Sintya merasa benar.
__ADS_1