Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 12 ( Cerita Kala Itu )


__ADS_3

Berdiri berhadapan di depan pintu apartemen Mahasiswa Columbia University yang tak lain adalah Arsen, dua anak muda yang dulunya adalah sahabat terbaik kini tampak sangat canggung. Ingin memeluk, tapi ada hal yang harus segera di selesaikan.


Naufal yang sudah terbawa emosi karena mengingat Arsen sengaja menghindari kekasihnya di Brazil, sudah bertekad untuk membuat pemuda itu tidak bisa menghindari dirinya.


Di cerca dengan berbagai kalimat yang membuat Arsen bungkam dan tidak bisa berucap apapun lagi, kini semakin di buat melongo ketika di hantam satu kalimat yang teramat menusuk jantungnya.


"Kamu tidak tau jika ada seorang gadis yang harus menjadikan dirinya seperti patung berjalan karena tidak punya rasa cinta kasih untuk laki-laki manapun!"


DEG!


Seketika Arsen mendongakkan kepalanya, menatap tak percaya pada Naufal yang berdiri di hadapan dengan tatapan yang mengintimidasi sang pembalap.


"Apa maksud kamu, Fal?" tanya Arsen lirih.


"Tunggu! Sebaiknya kita bicara di dalam saja!" potong Marco sebelum Naufal membahas lebih jauh tentang masalah yang menyangkut satu nama yang seharusnya tidak di umbar di mana-mana. Meskipun di luar negeri sekalipun.


***


Maka kini, keempat orang pemuda dengan usia Ben Adley yang paling tua tengah duduk di sofa yang semula di duduki oleh Arsen. Satu sofa single di duduki oleh Naufal. Satu sofa yang muat di duduki oleh dua orang, di duduki oleh Arsen dan Ben. Sedang Marco duduk di tempat duduk bundar tanpa sandaran yang ada di samping sofa terbesar.


"Sebelum aku menjelaskan, jawab dulu pertanyaan ku... Kenapa kamu tiba-tiba menghilang bagai di telan Bumi?" tanya Naufal menatap lekat pada Arsen yang duduk dengan lemas. "Aku pikir kamu tidak jadi datang ke acara prom night. Tapi ternyata di daftar tamu ada nama mu!" lanjut Naufal.


"Hem..." Arsen mengangguk kecil. "Aku datang hanya sebentar... Lalu aku pergi ketika Vino mengutarakan perasaannya pada Clarice. Aku berpikir semua sudah seharusnya berakhir... Dan aku tidak mau mendengar jika cinta yang siap mereka rajut mulai di deklarasikan di hadapan banyak teman-teman! Aku berpikir... Aku tidak akan sanggup!"


"Di situlah letak kebodohanmu, Sen!" sembur Naufal. "Jika di tanya apa aku merindukan kamu, maka jawabannya aku sangat merindukan mu! Aku merindukan kekompakan kita, aku merindukan kenakalan kita." ucap Naufal dengan sangat jelas.


"Tapi jika aku ingat kebodohan mu itu, aku sangat kecewa dan ingin sekali mencekik mu saat aku menemukan mu! Yaitu hari ini!" lanjut Naufal dengan sorot mata bagai pedang yang menghunus musuhnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Fal?" tanya Arsen menoleh lirih pada Naufal yang memang terlihat sangat membenci sekaligus merindukan dirinya.

__ADS_1


Naufal menatap lekat sepasang mata Arsen sebelum memulai cerita panjang yang saat itu menjadi cerita pilu untuk seorang Vino. Dan cerita yang melegakan untuk seorang Hanna yang mengagumi Vino sejak lama.


"Malam itu... Vino memang menyatakan cintanya pada Cla.. Aku bahkan tidak terlalu tau tentang rencana Vino yang sampai menyiapkan bunga di balik panggung. Aku hanya mendengar jika Vino hendak menyatakan perasaan pada seseorang." ucap Naufal dengan nada yang sangat serius.


"Sampai akhirnya... pesta dansa itu di mulai dan berakhir dengan sesi yang berujung pada momen Vino memiliki kesempatan itu."


"Awalnya... Semua terlihat sangat menyentuh. Bahkan jika kala itu berakhir dengan bahagia, aku tidak akan keberatan."


Arsen mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Naufal, sepasang matanya memicing mencoba mengartikan maksud dari apa yang di ucapkan oleh Naufal. Arsen bisa menduga, tapi sang pemuda enggan untuk menyimpulkan sendiri.


"Kau tau... Kelanjutan dari momen itu berakhir dengan tidak sesuai harapan siapapun yang turut mendukung malam itu."


"Mereka..." Arsen ingin menebak, tapi kembali ragu utuk berucap dan menduga-duga.


"Cla menolak Vino secara terang-terangan!" jawab Naufal setengah acuh karena kesal yang masih tertahan.


"Yah!" jawab Naufal enteng namun sangat mengintimidasi. "Dan kau orang terbodoh yang pernah ada karena tidak menyaksikan semua hingga akhir! Dan mengambil kesimpulan seperti yang kau tulis dalam suratmu itu." ucap Naufal.


"Dan yang lebih bodohnya lagi... Kau menghilang tanpa kabar. Bahkan jika sampai hari ini aku tidak mengenal Be, aku yakin aku tidak akan tidak akan menemukan mu!" desis Naufal.


"Kau tidak akan mungkin muncul begitu saja, bukan?"


"Maafkan aku..." lirih Arsen terdengar sangat tulus. "Jadi Cla dan Vino tidak pernah berpacaran?" tanya Naufal yang di jawab dengan sebuah gelengan kepala.


"Lalu dengan siapa Cla berpacaran?"


"Bukankah di awal sudah aku katakan? Kau membuat seorang gadis bagai patung berjalan yang tidak memiliki rasa cinta untuk laki-laki manapun. Dan itu artinya dia tidak pernah berpacaran!" sembur Naufal di akhir kalimatnya.


"Dia tidak pernah punya pacar?" tanya Arsen dengan menahan nafas karena jika sampai jawaban Naufal tidak pernah, maka ia akan merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia.

__ADS_1


"Ya! Dia tidak pernah punya pacar!" jawab Naufal dengan suara yang cukup berat. "Dia menunggu untuk memberi jawaban dari surat mu! Tapi kamu menghilang dan bahkan mematikan semua media sosial milikmu!"


"Hah..." Arsen terdiam dengan wajah yang seketika berubah menjadi pucat pasi. Ia sungguh tak menyangka jika Cla tidak pernah mempunyai kekasih, ketika sudah mendapatkan izin untuk berpacaran.


Dan hantaman semakin terasa sangat keras ketika mengetahui ternyata Cla menunggu kedatangan dirinya untuk menanyakan kata I love you yang ia tulis di akhir surat yang ia kirim untuk Cla sebelum berangkat menuju Amerika Serikat.


"Di mana otak mu, Sen?" tanya Naufal. "Kenapa mengatakan cinta jika untuk menghilang?" tanay Naufal.


"Aku..." Arsen tapak sangat lemas dengan pandangan yang menunduk ke lantai. "Aku tidak tau jika kenyataannya seperti ini, Fal..." jawab sang pembalap. "Aku tidak tau jika ternyata Cla dan Vino tidak berpacaran..." lanjutnya degan suara yang nyaris bergetar.


"Jika kau tau mereka tidak berpacaran... Aku pasti tidak akan melakukan hal sebodoh ini" gerutunya menyisir kasar rambutnya dengan arah ke depan belakang secara cepat.


Ben yang berada di sampingnya langsung merangkul pundak sang teman lamanya itu. Menepuk pelan, dan berucap...


"Semua belum terlambat, Sen... Jika memang kamu serius, datanglah... Temui dia untuk memberi penjelasan."


"Katakan dan ceritakan dengan benar kesalahpahaman yang terjadi. Dan akui jika dirimu telah salah dengan mengambil sikap demikian." sahut Marco.


"Bagaimana jika ternyata kenyataannya tak sesuai dengan apa yang di ucapkan oleh Ben?" sahut Naufal melirik kembali pada Arsen.


"Karena yang aku dengar... Mahasiswa pascasarjana yang menjadi idola kampus di Binus tengah berusaha untuk mendekati Clarice... Dia sangat popular... Dan semalam... Cla mendatangi pesta anniversary orang tua kakak tingkat itu! Atas undangan pribadi dari senior nya."


Satu kalimat lagi, kembali menghentak kejiwaan sang pembalap yang sedang di guncang habis-habisan.


Di terkam, di remas dan di injak-injak oleh kenyataan yang baru pertama kali ia temukan setelah sekian tahun lamanya ia menjauh dari kehidupan di tanah air.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2