Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 56 ( Menghilang )


__ADS_3

Di Binus University, terlihat gadis cantik yang mengenakan celana jeans ketat di padu dengan atasan longgar berwarna cream dengan sebuah ikat pinggang kecil tengah berjalan meninggalkan ruang dosen pembimbingnya.


Sementara itu, tanpa di sadari olehnya, sepasang mata menatap punggung gadis itu dengan penuh rasa kagum.


' Kamu memang cantik, Clarice... ' gumam lelaki yang tak lain adalah Victor itu.


"Hai!" hentak seseorang menepuk pundak Victor, membuat lelaki yang sedang mengagumi salah satu ciptaan Tuhan itu terkaget.


"Mengagetkan saja kamu!" gerutu Victor.


"Sudah punya orang! Percuma di pandangi seperti itu..." ucap salah satu teman Victor ikut menatap punggung Cla yang memang terlihat cukup menarik untuk di lihat.


Postur tubuh yang pas untuk di pandangi, pikir mereka.


"Mau bagaimana lagi, di rebut pun... dia sangat susah untuk di dekati! Selalu saja menghindar!"


"Kalau begitu culik saja!" usul salah satu teman Victor yang menepuk pundaknya tadi.


Sontak Victor menoleh sang sahabat dan menatap tidak percaya dengan ide yang di berikan oleh sang kekasih. Sangat tidak lucu, bukan?


"Itu namanya mencari masalah!" sahut Victor.


"Masa iya? sebentar doang gak papa kayaknya!"


"Terus kalau sudah di culik, mau di apakan?" sahut teman Victor yang lain.


"Paksa dia buat jadi pacar kamu!"


"Ngawur!" sahut Victor dengan cepat.


***


Meninggalkan ruang lab dengan tidak sabar, Arsen langsung menuju ruang dosen, dimana ponselnya yang di anggap sebagai pengganggu dalam kegiatan itu berada.


"Thanks, Sir!" ucapnya pada petugas.


Ponsel dengan layar home screen yang menunjukkan foto mereka saat berada di Jakarta Aquarium itu kini sudah berada di genggaman.


Akibat lama tak terpakai ponsel pun mati entah sejak kapan karena kehabisan baterai. Cepat ia mencari teman sekelasnya untuk meminjam charger, dan mencharger di kantin kampus.


Menunggu beberapa menit sambil memakan camilan sore, ponsel sudah terisi baterai walau sedikit, dan sudah bisa di gunakan seperti normalnya. Hal pertama yang paling ingin ia ketahui adalah pesan chat dari sang kekasih.


Sehingga ia langsung mencari aplikasi hijau di mana nantinya ia bisa menemukan nama sang kekasih di barisan teratas karena sudah di pin.


Dan sungguh tidak menyangka, jika lingkaran hijau itu kini terdapat lingkaran kecil berwarna merah dengan angka 127 di bagian tengah lingkaran merah kecil itu.


Menekan lingkaran itu, dan nama -e memunculkan 53 pesan chat. Bibir yang sejak 8 hari lalu tidak bisa tersenyum kini tersenyum dengan disertai nafas lega, meski belum tau pesan apa saja yang ada di dalam sana.

__ADS_1


Yang jelas, pesan terakhir menunjukkan waktu kemarin pagi saat pesan itu di terima. Dan tulisan yang muncul adalah...


[I miss you...]


Satu kalimat yang setiap juga hari ia gumamkan selama mengerjakan tugasnya sebagai calon sarjana luar biasa.


"I miss you too, Baby..." lirih Arsen membalas dengan senyum senang.


Sebelum membuka pesan chat, Arsen melihat panggilan tak terjawab yang mencapai angkat 20. Ia buka lebih dulu bagian itu, dan yang ia temukan adalah nomor sang kekasih, dan dua nomor asing yang menelepon sejak semalam.


Selanjutnya ada nomor kedua orang tuanya. Dan semua mulai meneleponnya semalam, di waktu yang hampir sama.


Terakhir tadi siang, hanya saja sepertinya ponselnya sudah dalam keadaan tidak aktif atau kehabisan baterai.


"Bukankah Papa dan Mama tau, kalau aku akan sibuk dan tidak memegang ponsel selama satu minggu?" gumamnya.


Tidak terlalu memperdulikan pesan dan panggilan dari orang tuanya, Arsen langsung membuka chat dari sang kekasih dan membacanya satu persatu.


Semakin lama ia membaca pesan, semakin lebar senyum yang tersungging di bibir tipis sang pemuda. Bagaimana tidak, sang kekasih sudah meminta maaf, sudah menjelaskan jika mematikan telepon karena cemburu. Dan terakhir kalimat permintaan berbaikan sudah di ucap oleh sang kekasih.


Tak sabar untuk melihat wajah sang kekasih yang di perkirakan pasti akan tersenyum jika bertatap muka dengannya, maka ia langsung menekan tombol video tanpa mengirim ataupun membalas pesan sang kekasih.


Ia sudah teramat merindu pada gadis cantik yang setiap hari selalu membayang di depan mata. Bahkan keharuman tubuh sang kekasih selalu berusaha ia ingat walau sudah dua bulan lebih.


Beberapa detik sudah ia menunggu panggilannya terjawab, namun tak ada jawaban sama sekali. Mematikan panggilan dan mengulangnya. Lagi-lagi layar hanya menunjukkan tulisan memanggil tanpa berubah menjadi berdering.


"Kenapa tidak bisa di telepon?" gumam Arsen lirih.


[ Baby? ]


Jemari mulai lincah mengetik di atas keyboard di layar ponsel Arsen. Dan mengirim pada Cla yang entah ada di mana.


[ Baby? ]


Dua pesan yang menunjukkan sebuah panggilan hanya terkirim dengan centang satu saja. Tanpa ada tanda-tanda jika pesan benar-benar masuk ke ponsel Arsen.


Memikirkan tentang selisih waktu, jika dirinya sekarang di jam 4 sore, artinya di sana sudah jam 5 pagi.


"Apa mungkin dia masih tertidur?" gumamnya.


Mengecek waktu terakhir aktif sang kekasih, Arsen mengerenyitkan keningnya ketika mengetahui sang kekasih aktif terakhir kali adalah kemarin.


Merasa akan percuma jika menghubungi ulang, Arsen mencoba untuk menggunakan keahliannya. Yaitu meretas ponsel sang kekasih untuk bisa menemukan posisi sang kekasih saat ini.


Namun sayang seribu sayang, ponsel Cla dalam keadaan mati total. Dan itu mempersulit Arsen untuk bisa menemukan keberadaan terbaru sang kekasih.


Sementara ponsel terakhir menunjukkan jika posisi sang kekasih masih berada di rumah Cla sendiri. Setelah itu sinyal tak lagi terlacak.

__ADS_1


Di mana jika ponsel sengaja di matikan, maka ponsel di matikan saat sang gadis berada di kamarnya.


' Rasanya tidak mungkin kalau dia di kamar sejak kemarin tanpa menggunakan ponsel sama sekali... '


Gumam Arsen dalam hati.


Arsen mulai kebingungan, dan di saat kebingungan melanda, panggilan dari sang Ibu muncul di layar ponselnya.


"Ya, Ma?"


"Arsen! Akhirnya amu bisa di hubungi!" pekik Mama Rania dari ujung saluran telepon.


"Ada apa, Ma?"


"Kamu ada masalah dengan Clarice?" tanya Mama Rania dengan sedikit panik.


"Seminggu yang lalu dia memang sedikit marah, Ma.. Tapi chat darinya sepertinya dia sudah tidak marah." jawab Arsen.


"Kapan kamu terakhir menerima chat darinya?"


"Waktu menunjukkan kemarin..." jawab Arsen bingung dengan maksud sang Ibu. "Dan sekarang Arsen bisa mengambil ponsel ku, tapi dia tidak bisa di hubungi."


"Kamu tau, dia menghilang dari rumahnya, Sen!" ujar Mama Rania sedikit menghentak putranya.


"WHAT!!"


"Kemarin Mama meminta tolong tim IT kita, dan terakhir kali ponsel Cla aktif di kamarnya!" seru Mama Rania merasa khawatir. "Tapi dia tidak ada!"


"Bagaimana dengan Uncle Kenzo dan Aunty Calina?"


"Mereka sudah berusaha mencari, dan tadi sore lapor polisi karena sudah lebih dari 24 jam."


"Oh my God!" pekik Arsen. "Kemana dia, Ma?" gumam Arsen panik.


"Mana Mama tau, Boy! Sejak kemarin Uncle Kenzo dan Uncle Zio mencoba untuk menghubungi kamu. Tapi memang kamu belum selesai, benar?"


"Ya, Ma! Ini baru keluar dari lab. Dan lagi ponsel Arsen kehabisan baterai."


"Pantas saja!"


"Arsen akan mencoba mencari tau dari teman-teman..."


"Ya! Cepat, Boy! Mama tidak akan tega kalau sampai terjadi apa-apa pada Cla... Mama baru saja berbahagia karena kalian berpacaran..." lirih sang Ibu dengan wajah sedihnya.


"Ya, Ma! Nanti Arsen kabari hasilnya!"


"Hmm..." sang Mama mengangguk pasrah.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2