
Suara berat sang pengangguran kaya raya adalah suara yang sangat khas untuk di dengar oleh mereka-mereka yang sudah mengenal beliau. Banyak yang memilih untuk tidak ribut terlalu jauh dengan pemilik suara itu. Dan salah satunya adalah kekasih putrinya.
"Ketika kamu meminta izin untuk membawa putri kami keluar dari rumah ini dengan status kalian yang seperti sekarang, kemudian kami mengizinkan, itu artinya kami percaya... jika kamu bisa menjaganya dengan baik. Tak kalah baik dari kami menjaganya." ucap Daddy Ken dengan sangat serius, hal itu membuat jantung Arsen berdebar kian hebat.
"Saya akan menjaga Cla dengan sebaik mungkin, Uncle!" jawab Arsen tak kalah serius.
Untuk satu hal ini, tanpa di minta pun Arsen pasti akan menjaga Cla melebihi ia menjaga nyawanya sendiri ketika beradu di arena balap.
"Lihatlah..." ucap Daddy Ken pelan namun syarat akan makna. "Pagi ini ia terlihat sangat cantik! Tanpa air mata juga tanpa memendam luka di hatinya." Daddy Ken menatap lekat wajah putrinya. "Uncle yakin, semua ini di tujukan untuk dirimu..." ucap Daddy Ken menoleh Arsen.
Seketika kalimat itu membuat sang pemuda salah tingkah, hingga membuatnya menelan ludah bagai menelan batu kerikil, susah!
"Uncle harap... setiap kamu membawanya dalam keadaan seperti ini, ia pun akan kamu antar kembali ke rumah ini dalam keadaan yang sama, atau akan lebih bagus jika ia kembali dalam keadaan jauh lebih baik dan lebih bahagia dari ini." ucap Daddy Ken teramat serius.
"Arsen mengerti, Uncle!" jawab Arsen mengangguk serius. Sampai sini ia sungguh memahami apa maksud dari Ayah sambung kekasihnya itu.
"Bawalah... Aku memberimu kesempatan untuk membahagiakan putri ku satu kali." ucap Daddy Ken. "Jika sampai ia menangis karena rasa sakit oleh mu, maka aku tidak akan pernah memberi mu kesempatan kedua. Dan kamu pasti tau apa yang bisa Uncle lakukan!"
Arsen menarik nafas teramat gugup. Tapi ia pun merasa tidak sedang main-main dengan hubungan yang ia jalin dengan Cla. Untuk itu sang pemuda menarik nafas panjang dan menghelanya dengan pelan meski tak bisa menutupi betapa gugup ia setiap Daddy Ken memberinya petuah dan peringatan.
"Arsen mengerti, Uncle!" jawabnya kemudian dengan sangat serius dan yakin jika ia bisa untuk selalu menjadi yang terbaik untuk Cla.
"Dan Clarice, putriku..." jeda Daddy Ken menoleh Cla. "Jangan jatuhkan harga dirimu dengan menjadi perempuan yang tidak bisa memegang kepercayaan kekasihmu apalagi suami mu kelak."
Mendengar kata suami yang di ucapkan oleh Daddy Ken, membuat dua jantung anak muda itu langsung bergetar dengan sangat kencang.
Tentu karena keduanya berharap julukan itu benar akan mereka dapatkan suatu hari nanti. Di mana hari itu akan menjadi hari yang sangat membahagiakan untuk keduanya. Meski bukan berarti perjuangan untuk menjadi yang terbaik bagi pasangan akan berakhir ketika hari itu tiba.
"Cla tau, Daddy..." jawab Cla setelah sorot matanya bertemu dengan sorot mata Arsen untuk sesaat.
"Hmm.." Daddy Ken mengangguk pelan. "Pergilah... hati-hati dimanapun kalian berada.."
"Ya, Uncle!" jawab Arsen merasa lebih lega setelah mendengar kalimat satu ini.
"Yes, Daddy!" jawab Cla tersenyum penuh dan menatap teduh pada sang Ayah.
__ADS_1
***
"Bagaimana perasaan kamu?" tanya Cla ketika keduanya berjalan beriringan menuju mobil Arsen. "Dari semalam Daddy masih saja memberi kamu peringatan-peringatan yang cukup keras meski di sampaikan dengan tenang."
"Perasaanku?" tanya Arsen.
"Hmm... Apa kamu kesal Daddy seperti itu?" tanya Cla khawatir sang kekasih merasa tidak nyaman.
"Tidak! Sama sekali tidak!" jawab Arsen apa adanya. "Beliau seperti itu karena takut terjadi apa-apa dengan putrinya. Beliau khawatir aku memangsa mu sebelum waktunya!" kikik Arsen tertawa geli.
Namun jika saja semua peringatan tak ia dapatkan, bisa jadi besar kemungkinan segala sesuatu akan terjadi karena mengikuti keinginan dan nafsu belaka.
"Memangsa ku sebelum waktunya?" ulang Cla bertanya dengan wajah polosnya. "Apa maksudnya?" tanya Cla bingung.
"Hm.." jawab Arsen sembari membuka pintu penumpang bagian depan mobilnya untuk Cla.
"Coba jelaskan apa maksudnya.." pinta Cla berhenti di antara pintu dan badan mobil sebelum masuk dan duduk di jok penumpang.
"Nanti akan aku jelaskan... Sekarang masuk dulu, kita jalan." titah Arsen.
Dan kini mobil putih itu mulai melaju meninggalkan komplek perumahan elit yang cukup terkenal di Ibukota.
"Kamu mau kemana untuk menjadi tempat pertama kita berkencan?" tanya Arsen dengan senyum menawan.
Cla pun tersenyum mendengar pertanyaan sang kekasih. Ia sudah memikirkan ini sejak keluar dari kamar mandi. Bahkan ia sampai membuka google untuk mendapatkan rekomendasi tempat ang bagus jika mendapat pertanyaan demikian.
Dan kali ini pertanyaan itu benar-benar ia dapatkan.
Sesungguhnya ia bisa saja menjawab terserah seperti gadis-gadis pada umumnya. Tapi Cla enggan membuang waktu hanya untuk satu pertanyaan saja. Menurutnya, masih banyak yang harus ia bicarakan secara langsung pada Arsen sebelum sang pemuda kembali ke negeri orang.
"Bagaimana kalau ke Jakarta Aquarium dan Safari?" tanya Cla menoleh Arsen yang terlihat begitu tampan pagi itu.
"Hemm... Kenapa tidak?" jawab Arsen yang sudah berjanji dalam hati untuk selalu menyetujui apapun yang akan di rekomendasikan oleh Cla. "Sudah pernah ke sana?"
"Pernah! Tapi dulu, saat masih berusia 10 tahunan." jawab Cla.
__ADS_1
"Berarti... sebelum kita saling kenal..." gumam Arsen melirik sekilas pada Cla yang ia ketahui sejak tadi senyum-senyum sendiri meski samar.
"Hemm..." jawab Cla mengangguk.
"Baiklah, kita akan ke sana!" ujar Arsen.
"Tidak menolak?" tanya Cla sedikit heran karena Arsen langsung setuju begitu saja.
"Tidak! Jangankan ke Jakarta Aquarium dan Safari. Ke ujung dunia pun aku mau jika memang ada," jawabnya. "Asal ada kamu di sampingku..." imbuh Arsen menatap sang kekasih dengan tatapan penuh cintanya dan senyum menawannya.
Cla cekikikan mendengar kata demi kata yang di ucapkan oleh sang kekasih. Selalu saja bisa membuatnya terbang melayang untuk membayangkan semua itu benar-benar terjadi.
"Kamu tidak ingin aku temani shopping?"
"Kemarin sudah, bukan?"
"Kemarin ada yang mengganggu, sekarang kita hanya berdua..."
"Apa bedanya? Sama-sama belanja." jawab Cla. "Aku rasa... hari ini kita tidak perlu shopping."
Arsen tergelak mendengar jawaban Cla. Di mana yang ia tau 90% wanita tidak akan menolak jika di ajak untuk shopping.
Mobil berhenti ketika mobil di depannya juga berhenti, itu karena lampu merah di persimpangan meminta semua mobil yang berada satu lajur dengan mobil Arsen untuk berhenti.
Arsen menoleh ke kiri, menatap lekat wajah cantik idaman yang kini di akui menjadi miliknya, dan hanya untuk ia seorang.
"Hari ini aku akan membawamu kemanapun yang kamu mau, Baby..." ucap Arsen lirih, serius dan juga terdengar sangat sendu, hingga menyentuh relung hati sang gadis.
Di antara kalimat itu, ada tangan kiri yang melepas gagang persneling untuk berpindah membelai pipi putih mulus sang kekasih. Mengusap penuh perhatian, dan ingin sekali mendaratkan sebuah kecupan hangat di sana.
Cla menyambut dengan memegang lengan tangan kekasih nya. Membiarkan tangan yang kini terlihat lebih kekar di banding beberapa tahun yang lalu untuk membelai pipinya sepuas hati sang lelaki.
"Thank you..." ucap Cla menarik tangan Arsen kemudian menautkan jemari mereka untuk sesaat sebelum lampu berubah menjadi hijau.
Bersambung ...
__ADS_1
NB : Happy reading... Untuk saat ini kita puas-puasin makan yang manis-manis dulu ya... Sebelum bikin seret dan diabetes, hehehe...