
Hanyut dalam kecupan bertubi yang di berikan Arsen di leher, membuat Cla merasakan hawa di dalam tubuhnya tidak seperti biasanya. Ada getaran dan debaran yang sulit ia artikan. Namun tak ingin ia hilangkan begitu saja.
Dan yang paling mendebarkan adalah, ketika tangannya yang menutupi bibir di tarik pelan oleh sang kekasih dan terayun mendarat di dada bidang berlapis hoodie. Hingga senyum itu memudar begitu saja. Berganti dengan wajah tegang dan gugup yang seolah berkejaran untuk berebut tempat.
Satu pertanyaan yang tak bisa di jawab oleh Clarice...
"Jadi?" tanya Arsen.
Tanpa menunggu jawaban dari Clarice yang masih membeku, Arsen langsung bergerak lambat untuk mengikis jarak yang tersisa di antara mereka. Dan dugaannya benar, Cla tidak akan menolak apa yang ia inginkan.
Bibir tipisnya kembali mendaratkan kecupan di kening Cla. Bedanya dua bagian tubuh itu hanya bertemu untuk tiga detik saja, kemudian beralih mencium pipi kiri dan kanan dengan di ikuti sebuah hirupan dari Arsen, seolah mencium harum wangi sang kekasih. Lalu beralih mengecup hidung mancung nan mungil Cla.
Sudah berada di jarak sedemikian dekat, tak mungkin jika Arsen melewatkan inti dari sebuah ciuman. Yaitu bibir tipis yang sejak tadi sudah menarik perhatiannya. Bibir yang sejak tadi bergerak mengomel, hingga membuatnya tak sabar untuk bisa menggigit dengan manja.
Dan ketika merasa Cla tidak akan menolak untuk sesi berikutnya yang di jamin lebih panas, Arsen langsung menabrakkan pelan bibirnya tepat di bibir manis Cla. Sangat singkat, karena Arsen memilih membuka bagian inti dengan sebuah kecupan kecil.
Di tengah kegugupannya, bibir justru di kecup sedemikian lembut. Jantung semakin berdebar tidak karuan, dan senyum singkat akibat salah tingkah terbit begitu saja.
Cla sampai reflek mengigit bibir bawahnya bagian dalam. Agar tak terlihat jika ia senang dengan setiap perlakuan Arsen. Ia bahkan belum lupa akan kecupan di hari kemarin. Kecupan pertama yang membuatnya berulang kali menggigit bibirnya, bahkan ketika ia mandi sekalipun.
Tidak ada penolakan sedikit pun dari Cla, dan itu membuat sang pemuda leluasa untuk mengulang hal yang sama.
Yaitu menyentuhkan bibirnya di bibir merah muda bernuansa strawberry yang menghanyutkan relung batinnya. Yang membuatnya semalaman tidak tidur dan mantap untuk tidak akan pernah menggantikan Cla dengan gadis manapun juga.
Jika tadi hanyalah sebuah kecupan singkat sebagai pemanasan, maka sekarang ciuman yang panas siap untuk di mainkan oleh Arsen.
Jika semula hanya bibir yang bersentuhan, maka kini untuk pertama kali, Arsen menggigit bibir bawah Cla menggunakan bibirnya. Satu tarikan kecil membuat sang gadis jelita melenguh tanpa tau harus berbuat apa. Ia bahkan tidak bernafas ketika Arsen mulai merabai bibirnya menggunakan bibir atas dan bawah.
"Mmhh!" lenguh Cla sembari meremas erat hoodie yang di kenakan Arsen menggunakan kedua tangannya yang masih berada di dada Arsen.
Arsen suka sekali dengan respon yang di berikan oleh sang kekasih. Dan itu membuatnya ingin mencoba untuk lebih jauh dan dalam. Hingga lupa diri, dan kembali memainkan bibirnya, berusaha keras membuka bibir Cla yang hanya terbuka sedikit.
__ADS_1
Meski ini baru pertama kali ia berciuman, bukan berarti Arsen tak bisa melakukannya. Ia sudah hafal di luar kepala bagaimana adegan panas di buat dalam film blue yang sering ia tonton. Apalagi Hollywood tidak ada tedeng aling-aling untuk adegan seperti ini di semua film yang bisa dengan mudah di akses melalui layar televisi.
Dengan otak cerdas laki-laki di tambah naluri dan hasratnya yang menggebu, tentu bisa dengan mudah menguasai ilmu yang teorinya bahkan tidak pernah di ajarkan di sekolah itu.
Pulp!
Setidaknya itulah bunyi sebelum Arsen memberi jeda pada ciuman yang tengah ia bangun. Menarik bibir Cla dengan lebih dalam.
"Kenapa kamu tidak bernafas?" tanya Arsen lirih, sangat lirih hingga hanya Cla yang bisa mendengarnya.
"Emm..." Cla memikirkan jawaban sembari menarik nafas sebanyak-banyaknya. Pantai yang luas, sepi pengunjung, tapi ia serasa tengah berebut udara di dalam ruangan sempit dengan puluhan orang yang berdesakan.
"Aku tidak tau caranya bernafas... Kamu..." ucap Cla terhenti.
"Aku?" tanya Arsen bingung.
"Jarak kita terlalu dekat. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Aku tidak tau cara bernafas, aku takut kamu tidak akan nyaman..." jawab Cla menatap manik hitam Arsen yang membuatnya serasa tenggelam jauh ke dalam sana.
Arsen tersenyum samar dan tipis, setipis tisu hingga Cla tak menyadarinya.
Cla tergelak lirih dengan genggaman yang reflek memukul pelan dada sang kekasih. "Tapi caranya?" tanya Cla kembali meremas hoodie Arsen dengan nafas yang masih memburu meski sudah tidak segugup tadi.
"Buat sekujur tubuh kamu terasa rileks, jangan tegang. Tetaplah bernafas seperti biasanya, aku pun ingin merasakan hembusan hangat nafas kamu. Dan yang paling penting, nikmati apapun yang kamu rasakan..." jelas Arsen.
Bibir Cla bergerak-gerak kecil, seolah ingin bertanya, tapi tak tau apa yang harus ia tanyakan. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, kebingungan dengan dirinya sendiri.
"Kita coba lagi, okay?" ucap Arsen menatap lekat wajah cantik di hadapan, dan kembali menekan leher sang gadis untuk bisa lebih dekat. Dan bibir pun kembali bertemu dengan tekanan lebih dalam dari pada sebelumnya.
Arsen kembali mengulang hal yang sama, menggigit bibir Cla menggunakan bibirnya, Bahkan dengan cara memejamkan matanya lebih dalam. Merasai kenikmatan duniawi yang baru pertama kali ia rasakan secara langsung.
Semilir angin pantai di saat langit mulai gelap dan rembulan mulai menyinari Bumi bagian Ibukota, menambah nuansa syahdu yang mereka bangun. Menyempurnakan momen pertama kali bagi mereka merasakan ciuman secara intens.
__ADS_1
"Bernafas lah..." lirih Arsen singkat dan kembali meraih bibir Cla dengan penuh rasa ingin.
Cla mulai bernafas walau sedikit terasa sulit, sangat sulit. Meski begitu ia terus berusaha untuk bisa bernafas dengan santai.
Arsen yang bisa merasakan bertapa kaku sang kekasih, sengaja mempererat pelukannya. Dengan begitu Cla benar-benar merasa nyaman berada di dalam dekapannya.
Merasa Cla mulai bisa bernafas dengan lebih baik dari sebelumnya, Arsen mulai memainkan lidahnya untuk menyusuri bibi sang gadis.
Reflek membuka matanya lebar ketika merasakan bibirnya basah oleh aksi lidah Arsen. Matanya membulat menatap mata Arsen yang masih terpejam.
Nafas Cla kembali menggebu, ketika menyadari lidah Arsen mulai berusaha untuk memasuki rongga mulutnya. Cla sungguh malu dengan semua itu. Ia berusaha untuk mendorong rahang Arsen agar ciuman mereka terlepas.
Ia memang merasakan sesuatu yang berbeda tapi ragu untuk di lanjutkan alias terlalu malu. Apalagi ia belum mandi dan belum sikat gigi, pikir sang gadis.
Arsen menarik sedikit wajahnya, memberi jarak untuk Cla bisa mengatakan apa yang ingin di ucapkan.
"Apa harus...seperti itu?" tanya Cla kembali gugup. "Aku malu..."
"Untuk apa malu? Kita sepasang kekasih... Aku dan kamu akan sama saja suatu saat nanti.."
"Tapi..."
"Nikmati saja.. Biarkan apa yang ada di dalam dirimu berekspresi... Itu saja..."
Cla terdiam dengan penjelasan Arsen yang membuatnya akhirnya menurut apa yang di katakan sang kekasih. Hingga ciuman kembali di ulang, dan semua berjalan sesuai keinginan Arsen.
Cla memahami apa yang dia maksud, dan keduanya melakukannya dengan mata yang sama-sama terpejam dan dalam keadaan sadar.
Di bawah langit malam, cinta mereka semakin menyentuh sampai detak jantung terkecil. Dimana debur ombak menjadi suara riuh yang justru semakin menghanyutkan.
Sedang bulan dan bintang menjadi saksi bisu betapa dua anak manusia sedang terbawa ke dalam mahligai cinta yang sama-sama mengharapkan akhir yang bahagia.
__ADS_1
Jika ini dalam sebuah tangkapan adegan shooting film, maka kamera mulai bergerak naik. Membiarkan mereka beradu dalam satu tujuan dan keinginan yang sama, di antara angin malam.
...🪴 Bersambung ... 🪴...