
Fajar telah sampai di benua Amerika bagian New York. Dimana ada sepasang kekasih yang untuk pertama kalinya mereka tidur bersama. Ya, hanya tertidur bersama, bukan untuk satu hal yang merugikan salah satunya di usia mereka yang masih cukup muda.
Cla terbangun lebih dulu begitu merasa sesuatu menindih tubuhnya, begitu menoleh ke sisi kiri, betapa ia terkejut karena sang kekasih ada di sampingnya. Tengah terlelap dengan nafas berat yang terhembus.
Ia sungguh tak menyangka semalam tidur bersama Arsen. Karena ia sungguh tak tau kapan sang kekasih pulang. Ia sama sekali tak menyadari jika sudah berada di atas tempat tidur.
Yang ia ingat terakhir kali, ia tengah berada di sofa ruang tamu dan tengah membaca novel. Tapi ternyata pagi ini ia sudah berada di kamar, dengan Arsen yang tengah melingkarkan tangannya di perutnya.
' Oh my God! '
Pekik Cla dalam hati dengan mata yang terbelalak, sembari menutup mulutnya supaya tidak ada suara keluar dari sana.
' Jadi semalaman kami tidur bersama? '
' Ya, Tuhan! Daddy, Mommy, Papa dan Mama tidak tau 'kan? '
Tanyanya dalam hati.
' Tidak! Mereka tidak akan datang, bukan? '
Sempat terkejut hingga mulutnya yang tertutup rapat terbuka, kini sang gadis justru mengulum senyum. Apalagi ketika melihat wajah Arsen yang tetap terlihat tampan meski tengah tertidur.
' Sungguh luar biasa! '
' Kamu selalu berhasil untuk tetap terlihat tampan! Bahkan tengah tidur sekalipun! '
Kini giliran sang gadis yang mengagumi ketampanan Arsen yang tiada tanding di matanya.
Detik demi detik ia puaskan untuk menikmati momen yang mungkin tak akan ia dapatkan setelah kembali ke Indonesia. Akan ia biarkan tubuhnya di peluk sedemikian erat. Meski perutnya mulai terasa lapar ketika cahaya matahari mulai terlihat dari celah-celah gorden yang tidak tertutup sempurna.
Dengan sangat terpaksa, ia berusaha untuk menyingkirkan tangan Arsen. Namun baru ia hendak bergeser, suara berat di sertai sebuah gerakan tangan yang meraih lengannya membuat Cla mengurungkan niat.
"Mau kemana, Sayang?"
Suara itu terdengar begitu berat.
Menoleh ke belakang, Cla membuka mata lebar heran karena sang kekasih masih menutup mata.
"Aku lapar..." kikik Cla lirih dan ragu.
Sontak sepasang mata yang tertutup itu terbuka secara perlahan. Dan yang pertama kali di lihatnya tentulah sang bidadari yang rambut nya masih berantakan.
Dua pandang mata bertemu dengan tatapan sayu yang penuh dengan rasa cinta di dalamnya. Meski kesadaran belum sepenuhnya di dapatkan oleh sang pemuda.
"Kamu tidak kuliah?" tanya Cla mengusap beberapa kali rambut kecoklatan Arsen ke arah ke belakang.
Arsen menggelengkan kepalanya pelan. "Aku sudah berjanji untuk mengajak kamu jalan-jalan hari ini, bukan?"
"Hah!" pekik Cla tak percaya. "Serius bisa?"
__ADS_1
"Hmm..."
"Tugas kuliah tidak akan terganggu?"
"No..."
"Kamu yakin?"
"Hm.." mengangguk lemah. "Hari ini aku libur..."
Menutup mulutnya tak percaya, ia sungguh tak mengira Arsen akan benar-benar libur hari ini.
"YEAAY!!!" serunya terlonjak senang karena akan menghabiskan hari bersama sang kekasih.
***
Saling menggenggam jemari satu sama lain, kini keduanya memasuki lift dengan OOTD kekiniannya. Cla mengenakan baju yang ia beli ketika hari pertama datang. Karena tidak mungkin lagi mengenakan baju-baju Arsen untuk berlibur.
Hari ini ia tampil sangat cantik dan nyaris sempurna meski kemarin hanya membeli satu set baju dan sepatu.
Cla mengenakan dress mini berwarna hitam yang melekat membentuk liuk tubuhnya dengan sangat sempurna. Bagian atas lengan panjang yang ketat, dan bawah hanya sampai setengah paha saja.
Kemudian kaki di tutupi menggunakan sepatu boots berwarna hitam, hingga menutupi lutut. Hanya memperlihatkan sedikit kulit pahanya saja, sekitar 10 cm.
Kemudian long coat berwarna cream dengan kerah berbulu hitam menutupi liuk tubuhnya hingga melewati lutut tanpa di kancing kan. Selain untuk menghangatkan tubuh dari cuaca dingin di musim gugur, juga supaya style tetap terjaga.
Rambut pirangnya di biarkan tergerai, dan sebuah kaca mata hitam bertengger di atas kepalanya. Tidak ada tas kecil, maupun sling bag apapun.
Sedang Arsen mengenakan celana jeans ketat berwarna hitam, di padu dengan atasan sweater berwarna broken white dengan kerah yang menutupi sampai setengah lehernya.
Selain mengenakan sepatu putih, Arsen juga membalut tubuhnya dengan long coat berwarna sama dengan milik Cla, yaitu cream. Kaca mata hitam juga bertengger di atas kepalanya.
"Hari ini kamu mau kemana saja?" tanya Arsen ketika lift sudah bergerak turun.
"Aku mau Central Park, kita habiskan hari ini di Manhattan!" jawab Cla sembari bergelayut manja di lengan Arsen.
"Okay!" jawab Arsen mengedipkan satu matanya.
***
Lift terbuka di lobby apartemen. Arsen keluar lebih dulu, dengan masih menggenggam tangan Cla. Dan bertepatan dengan kaki Cla melangkah keluar, bersamaan itu pula seseorang muncul di depan lift dengan membawa sebuah kantong yang mungkin berisi menu breakfast.
"Arsen..." sapanya dengan ekspresi wajah dan gelagat tubuh yang kaku. Seolah membeku dan salah tingkah.
Sontak Cla menoleh sumber suara, kemudian menoleh Arsen untuk melihat ekspresi sang kekasih yang ternyata terlihat santai. Kemudian Cla kembali menoleh gadis yang saat ini membuatnya tertegun.
"Hmm..." balas Arsen mengangguk.
"Kekasih... kamu?" tanyanya ragu.
__ADS_1
"Oh, ya!" Arsen terlihat santai namun sangat dingin. "Kenalkan! Clarice. Kekasihku!" jelas sang pemuda sembari meraih pinggang Cla untuk berada sejajar dengan dirinya.
"Sayang? Ini Lady! Teman satu kampus!" lanjut Arsen seolah belum pernah menyebutkan nama Lady di depan Cla.
"O..oh! Hai, Lady!" Cla berusaha untuk tersenyum ramah sembari melambaikan tangan. "Senang berkenalan dengan kamu!" lanjutnya berbasa-basi.
' Senang dari mana? Mana mungkin aku menyukai gadis yang dengan nyata berusaha mendekati kekasihku? '
Gerutu Cla dalam hati.
Ya, sungguh kali ini Cla terlihat munafik karena mengatakan senang bertemu dengan rivalnya. Karena semua orang tidak akan ada yang suka bertemu dengan rivalnya.
Apalagi tatapan Lady saat melihat Arsen terlihat jelas, jika gadis itu menaruh harapan pada sang kekasih. Meski gadis itu terlihat kaku saat hendak bertanya tentang dirinya.
"Hai! Aku juga..." menarik nafas yang terasa begitu berat. "senang berkenalan... dengan... kamu, Clarice..." ucap Lady sedikit terbata dengan memaksakan sebuah senyum terbit dari bibirnya yang merah muda.
"Kalian satu fakultas?" tanya Cla lagi-lagi pura-pura tidak tau.
"Tidak... aku fakultas psikologi," sahut Lady dengan senyum yang di buat semanis dan senyaman mungkin.
"Ouh! Psikologi?" tanya Cla. "Aku juga Mahasiswi Psikologi di Indonesia!" jawab Cla.
"Oh, ya?" tanya Lady sedikit membuka matanya menatap Cla yang kini terlihat santai.
"Ya! semester akhir!" jawab Cla.
"Wah! Ternyata kita sama!" seru Lady.
"Hmm.." Cla mengangguk dengan senyum tipis.
"Sepertinya kita harus segera berangkat, Sayang! Semakin siang, waktu kita akan semakin pendek!" sahut Arsen.
"Hmm!" Cla mengangguk cepat. Bersyukur sang kekasih paham, jika ia tidak suka dengan situasi ini. "Kami pamit dulu ya, Lady!" pamitnya.
"Ah! Iya, Clarice!" jawab Lady menoleh Arsen sekilas dengan wajah sedih dan senyum palsunya.
"See you!"
"See you, too..."
***
Dan pergilah sepasang kekasih itu meninggalkan gadis yang masih berdiri termangu di depan pintu lift. Menatap punggung Cla dan Arsen dengan tatapan sedih, kecewa juga menyerah.
Meski sesungguhnya hati masih sangat berat untuk melepas Arsen begitu saja.
Teringat pada suatu masa, jemarinya pun pernah di genggam seperti itu oleh sang pemuda. Sebelum lelaki itu berubah menjadi kulkas empat pintu.
Hanya saja ia salah mengartikan pada masa itu. Ia mengira Arsen menyukai nya, ternyata hanya ingin bersahabat erat dengannya.
__ADS_1
Dan sekarang semua itu hanyalah tinggal kenangan. Lagi-lagi ia hanya bisa melepas pemuda itu menjauh darinya dengan wajah sedih.
...🪴 Bersambung ... 🪴...