
Waktu sudah melewati angka 2 pada jarum jam dinding, ketika keduanya memutuskan untuk keluar dari area aquarium setelah menikmati berbagai pertunjukkan yang di sediakan.
Mampir di area merchandise atau pusat oleh-oleh, Cla mendapat satu boneka ubur-ubur perpaduan warna pink dan biru dari Arsen yang entah kenapa memilih untuk membelikan boneka menggemaskan itu untuk sang kekasih.
Berjalan keluar, Arsen tak sedikitpun melepas tautan jemarinya dengan jemari lentik Cla. Ketika berjalan di area mall, mata Cla biasanya selalu celingak-celinguk untuk membeli sesuatu. tapi kali ini...
"Tidak ingin masuk rumah mode Guc*i?" tanya Arsen melihat galeri salah satu brand kelas dunia itu.
"No..." jawab Cla menggelengkan kepalanya pelan.
"Terus mau apa sekarang?" tanya Arsen berharap sang kekasih meminta sesuatu padanya.
"Makan!" jawab Cla malu-malu dengan senyum cekikikan.
Arsen tergelak, karena yang di harapkan Arsen adalah sang kekasih meminta untuk beli ini dan itu. Kalau hanya makan saja tanpa di minta juga pasti akan menggiring sang kekasih ke salah satu restauran di sana.
"Selain makan?"
"Em... makan saja dulu Setelah itu berpikir lagi" jawab Cla menoleh Arsen. Menatap dengan penuh bangga pada wajah tampan rupawan yang menjadi pusat perhatian.
"Em...." Arsen tampak berpikir, membuat Cla menatap lekat pada sang kekasih.
"Apa?"
"Kalau tentang tujuh tahun yang di maksud pemuda tadi apa?" tanya Arsen langsung pada sesuatu yang masih membuatnya penasaran sampai saat ini.
Mengulum senyum di bibirnya, karena Arsen langsung melihat perubahan wajah Clarice. Yang tadinya terlihat biasa saja, kini terlihat merah merona dan salah tingkah.
"Kita makan dulu, ya? Aku lapar!" kilah Cla menarik tangan Arsen untuk segera berjalan cepat memasuki salah satu restauran Jepang yang cukup di gemari di sana.
Arsen tersenyum saja mengikuti alur yang di buat sang kekasih. Tidak masalah walau tidak di jawab. Ia tau ada sesuatu yang menggelitik perut tengah di sembunyikan.
Duduk berdampingan, memesan makanan sesuai yang di inginkan, dan keduanya menunggu dengan sanda gurau di antara kemesraan yang tak mereka sadari.
Arsen dan Cla duduk berdampingan di sofa yang menghadap meja berbentuk persegi panjang. Ada dinding pembatas berbahan kayu setinggi 1 meter yang memutari meja makan membentuk ruangan dengan kursi berbahan sofa yang mana di atas pembatas terdapat barisan bunga-bunga kecil .
Bagian itu adalah bagian VIP, dimana untuk menempati sofa itu ada biaya lebih yang di kenakan. Selain tempatnya lebih privacy juga lebih nyaman dan aman dari pandangan pengunjung yang berada di kursi biasa.
__ADS_1
Karena jika mereka duduk, yang terlihat hanya rambut bagian atas saja yang terlihat oleh pengunjung lain. Meskipun masih bisa terlihat oleh mereka yang sedang berdiri.
Sejak tadi tangan kiri Arsen sudah berada di sandaran tepat di belakang punggung Clarice, sejajar dengan punggugnya yang juga tengah bersandar. Satu tangan lagi berada di atas pahanya.
Tanpa satu kalimat apapun, posisi itu sudah menggambarkan jika ia tengah menunjukkan pada dunia jika Clarice adalah kekasihnya.
"ini ponsel kamu.." meletakkan ponsel Arsen di atas meja. "Mana ponsel aku?" pinta Cla meminta ponselnya yang sejak tadi masih berada di saku hoodie Arsen.
"Ambil sendiri..." tukas Arsen tersenyum penuh makna, sembari melirik saku hoodie yang ia kenakan.
"Issh!" pekik Cla memukul pelan paha Arsen yang berdampingan dengan pahanya.
Arsen tergelak, "Apa susahnya? Hanya mengambil dari saku hoodie ku..." ujar sang pemuda.
"Malu ah!" lirih Cla sedikit berbisik dengan gemas, sampai mendekatkan wajahnya ke sisi Arsen.
"Malu pada siapa?"
"Kalau ada yang melihat, bagaimana?" tanya Cla melirik kanan dan kiri.
Arsen menarik nafas panjang. Bersamaan dengan itu, ia tarik pula wajah Cla untuk lebih dekat ke sisinya dengan menggunakan lengannya yang merangkul leher sang kekasih. Hingga Cla terjerembab ke dalam pelukannya. Tangan kiri sang gadis reflek bersandar pada paha Arsen yang terbuka selayaknya laki-laki ketika duduk.
"Lebih malu mana dengan begini?" tanya Arsen.
Cla terkikik salah tingkah dengan wajah yang memerah. "Sayangku yang tampan... please! Jangan begini..." rengek Cla gemas.
Sementara Arsen justru menikmati pemandangan paling menakjubkan ini dari jarak yang teramat sangat dekat. Ingin rasanya ia merasakan apa yang selama ini hanya ia lihat dari layar ponsel, dan juga dari imajinasinya. Atau bahkan dari live teman-temannya di New York ketika melakukan itu dengan kekasih mereka.
Yaitu berciuman secara intens... Satu aktivitas yang belum pernah ia lakukan secara langsung selama ini.
Mencium pipi? Ia sudah pernah mencium pipi dua mantannya ketika masih Junior High School di Bandung.
Tapi untuk berciuman dengan intens.... Ah! Rasanya sang pemuda ingin sekali mencoba dengan kekasihnya saat ini saja.
"Malu?" tanya Arsen menatap lekat pada gadis pujaan yang tengah ia dekap dengan cukup erat. Seolah tak ingin bunga indah di pelukan ini terlepas.
"Hemm..." Cla mengangguk dengan wajah yang mendongak, menatap mata Arsen yang terlihat begitu indah.
__ADS_1
"Kalau begini baru malu!" ujar Arsen sembari mencuri kecupan di bibir merah muda alami yang di poles tipis lipstick berwarna orange.
"Sayang!" pekik Cla berusaha menarik diri dari dekapan Arsen, meskipun ia sesungguhnya sangat suka dengan apa yang tengah mereka lakukan.
Berada di dalam pelukan, bersentuhan dengan dada bidang sang pemuda sungguhlah menimbulkan rasa yang teramat sangat nyaman untuk hati sang gadis. Debaran benar-benar menghentak sampai relung terdalam,
Hanya saja tempat umum seperti ini rasanya sangat tidak masuk akal untuk di gunakan bermesraan di negara bagian timur ini.
"Lepas..." lirih Cla masih dengan nada merengek lirih. Jemarinya menarik hoodie bagian perut sebelah kanan yang di kenakan oleh Arsen.
"Cium aku dulu, baru aku lepaskan...." ujar Arsen dengan senyum nakal menggoda. Sorot mata sang pemuda, sangat jelas menggambarkan jika ia teramat mengagumi dan mencintai gadis dalam dekapan. Dan itu membuat jantung Cla yang bisa membaca sorot mata itu semakin berdebar kencang.
"Kamu..." desis Cla memicing. "Gi..la..." ucapnya tanpa suara, namun terbaca jelas oleh Arsen.
"Hahahah!" gelak Arsen lirih tak tertahan, karena saking gemasnya dengan sang kekasih yang wajahnya menggambarkan jengkel, gemas dan manja dalam waktu yang bersamaan.
"Aku memang sudah gila, Baby!" jawab Arsen dengan menatap lapar pada Cla, kemudian menggigit bibirnya sendiri, membayangkan tengah menggigit bibir tipis di hadapan. "Tergila-gila padamu!" lanjutnya mencubit hidung Cla dengan gemas.
"Arsen!" pekik Cla menarik tangan Arsen untuk terlepas dari hidungnya.
"Ayo! Pilih cium aku... Atau kamu lebih suka kita seperti ini?" tanya Arsen. "Karena aku akan lebih suka memelukmu begini..." selorohnya tersenyum tanpa rasa bersalah. "Aku bisa menciummu semauku!" lanjutnya mendaratkan kecupan ringan di kening sang gadis.
"Malu, Sayang..." lirih Cla memohon.
"Kiss singkat..." saran Arsen. "Sebentar lagi waiters akan datang. Apa kamu tidak semakin malu kalau kita masih begini?" tanya Arsen tersenyum penuh kemenangan. "Kamu tidak akan mudah lepas dari ku, Sayaang..." lirih Arsen.
Cla membentuk wajahnya menjadi terlihat sebal dengan permintaan Arsen. Mata yang memicing, bibir yang mengerucut, dan wajah yang di tekuk sedemikian buruk.
Tapi hatinya sama sekali tidak memungkiri jika posisi saat ini sangatlah nyaman. Hingga membuatnya enggan untuk berjauhan.
Tapi pandangan orang yang melihatnya akan menimbulkan rasa malu tersendiri, bukan?
Bagaimana kalau salah satu dari mereka mengenali dirinya dan melapor pada sang Daddy atau sang Mommy yang teramat posesif itu?
"Hm?" tanya ulang Arsen menatap lekat sepasang mata bundar Cla yang terlihat begitu teduh dan membuatnya betah untuk menatap.
"Cium atau begini sampai makanan habis?"
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...